Bab 5 – Ketika Kita Tidak Lagi Berbicara

Lampu apartemen masih menyala ketika Damar memutar kunci di pintu. Ia tidak ingat meninggalkannya dalam keadaan terang. Sepatu kulitnya terlepas dengan bunyi yang terlalu keras di lantai kayu, dan saat itulah ia melihatnya.

Sari duduk di sofa abu-abu dekat jendela, kedua tangan terlipat di pangkuan, tas kanvasnya tergeletak di lantai.

Rambut gelombang sebahu itu sedikit berantakan, seolah ia baru saja menempuh perjalanan panjang dan tidak sempat merapikannya.

Damar berdiri di ambang pintu. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena terkejut, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mirip dengan firasat.

“Kamu tidak bilang akan datang,” katanya.

Sari mengangkat wajah. Matanya tidak menunjukkan kemarahan, juga tidak kelembutan yang biasa Damar kenali.

Hanya kelelahan yang dalam, seperti seseorang yang telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan sesuatu dan akhirnya mencapai kesimpulan yang tidak ingin ia ucapkan.

“Aku perlu bicara,” jawabnya. Suaranya pelan, tetapi setiap kata jatuh dengan presisi yang membuat Damar ingin mundur selangkah.
“Dan aku tidak ingin melakukannya lewat telepon.”

Damar menutup pintu. Meletakkan tas kerja di meja samping. Gerakan-gerakan yang mekanis, sementara pikirannya berlari ke berbagai kemungkinan. Ia sudah tiga hari tidak mengirim pesan.

Paket kopi Arabika itu sudah sebelas hari berlalu tanpa balasan yang berarti. Dan sekarang Sari ada di sini, di apartemen yang ia sewa selama dua tahun, di sofa yang tidak pernah diduduki Sari sebelumnya.

“Kamu dari Yogya?” tanyanya, meski jawabannya sudah jelas.

“Kereta sore.” Sari menghela napas.
“Aku sudah di sini sejak jam enam. Satpam mengenalimu dari foto yang pernah kamu kirim.”

Damar ingin bertanya mengapa Sari tidak menelepon lebih dulu, tetapi ia tahu pertanyaan itu tidak relevan. Sari tidak pernah impulsif. Jika ia datang tanpa pemberitahuan, pasti ada alasan yang tidak bisa ditunda.

Ia duduk di ujung sofa yang lain, menjaga jarak yang terasa ganjil di antara mereka. Di luar jendela, Jakarta masih bersenandung dengan suara kendaraan dan lampu-lampu yang tidak pernah benar-benar padam.

Tapi di dalam apartemen ini, keheningan mulai mengental seperti kabut.

“Aku sudah banyak berpikir,” Sari memulai. Tangannya masih terlipat, tetapi ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan sendiri. Gerakan kecil yang tidak disadari.
“Tentang kita. Tentang bagaimana kita selama ini.”

“Aku tahu aku tidak selalu ada. Pekerjaan—” Damar menelan ludah.

“Bukan soal pekerjaanmu, Damar.” Sari memotong, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan ketegasan yang membuat kalimat itu terasa lebih tajam.

“Ini soal kamu yang tidak pernah benar-benar hadir. Bahkan ketika kita bersama. Bahkan ketika kamu duduk di sebelahku.”

Kata-kata itu menghantam Damar di tempat yang tidak bisa ia lindungi. Ia ingin membantah, ingin menjelaskan bahwa setiap lembur, setiap presentasi, setiap promosi yang ia kejar adalah untuk mereka.

Untuk masa depan yang ia bangun di kepalanya. Tapi Sari belum selesai.

“Kamu selalu terpecah,” lanjutnya, dan kini suaranya sedikit bergetar.

“Setengah dirimu di sini, setengah lagi di kantor, di proyek berikutnya, di angka-angka yang harus kamu capai. Aku bisa merasakannya. Setiap kali kita bicara, matamu melihat ke tempat lain. Setiap kali aku bercerita, kamu mengangguk tapi tidak benar-benar mendengar.”

Damar memandang Sari, dan untuk pertama kalinya ia melihat apa yang selama ini ia abaikan.

Bukan kemarahan. Bukan tuduhan. Melainkan kesedihan yang telah mengendap begitu lama hingga berubah menjadi sesuatu yang lebih padat. Sesuatu yang tidak bisa lagi diurai dengan kata-kata.

“Aku mencoba,” kata Damar, dan suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan.
“Aku tidak tahu caranya, tapi aku mencoba.”

“Aku tahu.” Sari mengangguk pelan.
“Tapi mencoba tidak selalu cukup. Kadang, apa yang kamu anggap usaha, buat aku terasa seperti… sisa-sisa. Seperti aku selalu dapat bagian akhir dari energimu. Bagian yang sudah habis terkuras.”

Di luar, klakson mobil terdengar sayup. Seseorang tertawa di lantai bawah. Dunia terus bergerak, tidak peduli bahwa di apartemen lantai tujuh ini dua orang sedang mengurai sesuatu yang telah lama retak.

Damar mengingat percakapan mereka tiga hari lalu. Pesan singkat yang hanya berisi konfirmasi paket. Ia mengingat bagaimana ia mengetik balasan sambil setengah memikirkan rapat Tim Proyek Delta pukul dua siang.

Bagaimana ia selalu, selalu membagi dirinya menjadi dua, dan tidak pernah menyadari bahwa separuh yang ia berikan kepada Sari adalah separuh yang paling tidak utuh.

“Aku pikir,” Sari melanjutkan,
“cinta itu bukan tentang apa yang kamu berikan nanti. Bukan tentang masa depan yang kamu janjikan. Tapi tentang sekarang. Tentang hadir. Dan aku… aku tidak merasakan itu dari kamu.”

Kalimat terakhir itu keluar seperti pecahan kaca. Tidak keras, tidak dramatis, tetapi tajam di setiap sisinya. Damar merasakan sesuatu di dalam dirinya mengempis.

Bukan amarah. Bukan pembelaan. Hanya pengakuan yang telat, bahwa Sari benar, dan ia selalu tahu Sari benar, hanya saja ia tidak pernah cukup berani untuk menghadapinya.

“Apa kamu masih mencintaiku?” tanya Damar, dan pertanyaan itu terasa seperti melompat dari tebing.

Sari menatapnya lama. Air mata akhirnya muncul di sudut matanya, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh.

“Aku tidak tahu apakah itu pertanyaan yang tepat. Karena cinta bukan masalahnya. Aku mencintaimu. Mungkin aku akan selalu begitu. Tapi cinta saja tidak bisa membuat kita bertahan kalau kamu tidak pernah benar-benar di sini.”

Keheningan kembali turun. Lebih berat kali ini. Lebih penuh. Damar ingin mengulurkan tangan, ingin mengatakan sesuatu yang bisa memperbaiki semuanya dalam satu kalimat, tetapi ia tahu tidak ada kalimat seperti itu.

Tidak ada spreadsheet yang bisa menghitung ini. Tidak ada rencana proyek yang bisa menjadwalkan perbaikan.

Sari berdiri. Gerakannya lambat, seperti seseorang yang membawa beban yang tidak terlihat. Ia mengambil tas kanvasnya dari lantai.

“Aku tidak minta kamu berubah, Damar. Aku hanya minta kamu jujur pada dirimu sendiri. Apakah kamu benar-benar ingin ada di sini? Atau apakah kamu hanya takut kehilangan?”

Damar tidak menjawab. Bukan karena ia tidak ingin. Tapi karena ia tidak tahu jawabannya. Dan ketidaktahuan itu, lebih dari apa pun, adalah jawaban yang paling jujur yang bisa ia berikan.

Sari berjalan ke pintu. Langkahnya pelan, tetapi tidak ragu. Di depan pintu, ia berhenti sejenak. Tidak berbalik. Hanya berdiri di sana, satu tangan di gagang pintu, dan Damar bisa melihat bahunya sedikit bergetar.

“Aku tidak marah padamu,” kata Sari, suaranya sekarang lebih pelan, hampir seperti bisikan.
“Aku hanya lelah berharap. Dan itu bukan salahmu. Itu salahku, karena aku terus berharap sesuatu yang tidak bisa kamu berikan.”

Pintu terbuka. Suara engsel yang pelan.

Dan kemudian Sari melangkah keluar, membawa serta semua kata yang belum sempat mereka ucapkan, semua masa depan yang pernah Damar bangun di kepalanya, semua rencana yang sekarang terasa seperti arsitektur kosong tanpa penghuni.

Damar tetap duduk di sofa. Ia tidak tahu berapa lama ia di sana. Suara lift berbunyi. Langkah kaki di koridor.

Kemudian tidak ada apa-apa lagi, hanya dengung AC dan detak jam dinding yang entah mengapa terdengar lebih keras dari biasanya.

Ia menatap pintu yang masih sedikit terbuka, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memikirkan apa pun.

Tidak memikirkan pekerjaan. Tidak memikirkan deadline. Tidak memikirkan promosi yang menunggunya di kantor. Hanya kekosongan yang luas, seperti ruangan yang semua perabotannya telah diangkut pergi.

Di lantai, dekat kaki sofa, ada sesuatu yang terjatuh. Selembar kertas sketsa kecil. Damar memungutnya.

Gambar sebuah taman, dengan bangku di tengahnya, dan dua pohon yang cabang-cabangnya saling menjangkau tapi tidak pernah benar-benar bersentuhan. Di sudut bawah, tulisan tangan Sari.

Untuk masa depan yang mungkin tidak pernah tiba.

Damar melipat kertas itu. Memasukkannya ke saku kemeja. Lalu ia bangkit, menutup pintu, dan menguncinya pelan. Bunyi klik yang kecil. Final. Seperti akhir dari sesuatu yang bahkan belum sempat dimulai dengan benar.

Latest Novel ionicons-v5-c