Hari kedua puluh tiga datang tanpa suara.
Sarah tidak menyalakan lampu neon di atas meja kerjanya pagi itu. Ia hanya duduk di kursi kayu yang telah menemani tubuhnya selama dua belas tahun, membiarkan cahaya pagi merayap masuk melalui celah-celah jendela bengkel.
Tiga puluh dua jam di dinding terus berdetak, masing-masing dengan iramanya sendiri – ada yang cepat dan renyah seperti hujan di atas genting, ada yang lambat dan berat seperti langkah orang tua menaiki tangga.
Suara-suara itu tidak lagi terdengar seperti kebisingan. Setelah bertahun-tahun hidup di tengahnya, Sarah baru sekarang menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Di atas meja, arloji saku Dimas masih terbaring dengan jarum yang menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Ia tidak menyentuhnya. Tidak membuka penutup belakangnya.
Tidak mengambil pinset atau kaca pembesar yang tergantung di rak kecil di sampingnya. Tangannya hanya terlipat di atas pangkuan, jari-jari yang penuh bekas goresan dan noda minyak itu diam, tidak mencari sesuatu untuk diperbaiki.
Dua hari telah berlalu sejak Raka membawa buku catatan bersampul cokelat itu.
Dua hari sejak Sarah membaca tulisan tangan adiknya yang berusia lima belas tahun – kata-kata yang ditulis sebelum Dimas tahu bahwa hidupnya akan berakhir begitu cepat, sebelum ia sempat menjadi orang yang ia inginkan.
Pesan itu masih menggantung di udara bengkel, tidak sebagai suara, melainkan sebagai ruang kosong yang baru sekarang Sarah sadari telah ia isi dengan rasa bersalah selama delapan tahun.
Jangan biarkan dia berhenti.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, bukan seperti jarum jam yang tersangkut, melainkan seperti air yang mencari celah di antara batu. Dimas tidak menulisnya sebagai permohonan.
Ia menulisnya sebagai pengakuan – sebuah pernyataan sederhana dari seorang remaja yang memahami kakaknya lebih baik daripada kakaknya memahami dirinya sendiri.
Dan di dalam pengakuan itu, tersimpan sesuatu yang belum pernah Sarah izinkan untuk muncul: kemungkinan bahwa mempertahankan bukanlah satu-satunya cara untuk mencintai.
Ia menghela napas panjang, membiarkan udara pagi yang lembap mengisi paru-parunya. Di luar, suara motor melintas di jalan kecil depan bengkel, diikuti suara anak-anak yang berlarian di gang.
Dunia terus bergerak, seperti yang selalu dilakukannya. Hanya Sarah yang telah berhenti.
Atau lebih tepatnya, ia telah memilih untuk berhenti.
Pikiran itu datang tanpa peringatan, menusuk di antara tulang rusuknya seperti jarum yang menemukan titik yang tepat.
Selama delapan tahun, ia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak bisa melanjutkan hidup karena Dimas telah pergi.
Bahwa mempertahankan kamar itu, menyimpan setiap benda, menolak untuk memperbaiki arloji yang rusak – semua itu adalah tindakan cinta.
Tetapi sekarang, duduk di kursi yang sama di mana ia telah menghabiskan ribuan jam mencoba mengembalikan detak ke dalam mesin-mesin yang mati.
Sarah mulai mempertanyakan apakah yang ia pertahankan selama ini benar-benar Dimas, atau hanya versi dirinya sendiri yang tidak bisa melepaskan.
Tangannya bergerak tanpa ia sadari, meraih kotak kayu kecil di sudut meja. Kotak yang sama yang telah ia buka dan tutup ratusan kali.
Di dalamnya, arloji saku Dimas yang lain – yang asli, yang telah berhenti delapan tahun lalu – masih tersimpan di antara komponen-komponen cadangan yang tidak pernah ia gunakan.
Ia mengeluarkannya perlahan, merasakan berat logam yang dingin di telapak tangannya. Ukiran bintang dengan lima sudut di bagian belakang masih sama.
Jarum yang menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit masih sama. Tidak ada yang berubah. Tetapi sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Ia meletakkan arloji itu di atas meja, di samping arloji milik Raka yang masih terbaring sejak tiga hari yang lalu. Dua benda yang identik. Dua waktu yang berhenti pada detik yang sama.
Dan di antara keduanya, terbentang pertanyaan yang belum berani ia tanyakan langsung kepada remaja itu.
Dari mana Raka mendapatkan barang-barang yang pernah dimiliki Dimas?
Bagaimana mungkin benda-benda itu keluar dari kamar yang tidak pernah dibuka oleh siapa pun selain dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah menggerogoti kepastiannya selama dua puluh satu hari terakhir. Tetapi pagi ini, Sarah tidak merasakan desakan untuk mencari jawaban.
Pagi ini, ia hanya ingin duduk. Hanya ingin mendengarkan. Hanya ingin membiarkan waktu melakukan apa yang selalu dilakukannya – bergerak maju, tanpa menunggu siapa pun.
Sore tiba dengan cahaya jingga yang menerobos masuk melalui jendela bengkel, mewarnai debu-debu yang mengambang di udara menjadi butiran emas. Sarah masih di kursinya.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menghabiskan satu hari penuh tanpa menyentuh perkakasnya. Mungkin tidak pernah.
Bahkan di hari-hari setelah kematian Dimas, ia tetap datang ke bengkel, tetap menyalakan lampu neon, tetap membongkar dan memasang kembali komponen-komponen jam.
Seolah-olah gerakan tangannya adalah satu-satunya hal yang mencegah dirinya dari larut sepenuhnya ke dalam kesedihan. Tetapi hari ini berbeda. Hari ini ia membiarkan tangannya diam.
Suara langkah kaki di depan bengkel membuatnya mendongak. Ia mengenali irama itu sekarang – ringan dan hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu.
Raka muncul di ambang pintu, tubuh kurusnya dibalut jaket tipis yang sudah mulai lusuh di bagian siku. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena baru saja mencuci muka di keran umum dekat terminal. Ia tidak membawa apa-apa.
Tidak ada kotak musik tua. Tidak ada radio kayu dengan gagang retak. Tidak ada burung kayu bersayap patah. Hanya dirinya sendiri, berdiri di sana dengan tangan di saku jaket, menunggu seperti biasa.
“Masuk,” kata Sarah, dan suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia maksudkan.
Raka melangkah masuk, melewati ambang pintu yang sama yang telah ia lewati hampir setiap hari selama tiga minggu terakhir.
Ia duduk di bangku kayu di seberang Sarah, di tempat yang sama di mana ia duduk saat pertama kali datang membawa arloji saku yang identik dengan milik Dimas.
Gerakannya alami, tidak canggung, seolah-olah ia telah menjadi bagian dari bengkel ini tanpa perlu diundang.
Mereka tidak berbicara.
Keheningan itu bukan keheningan yang canggung. Bukan keheningan dua orang asing yang tidak tahu harus berkata apa.
Melainkan keheningan yang penuh – seperti ruang di antara detak jam yang memberi waktu bagi suara sebelumnya untuk menghilang sebelum suara berikutnya dimulai.
Sarah menatap arloji di atas meja, lalu menatap Raka. Remaja itu duduk dengan punggung sedikit membungkuk, matanya menatap lantai bengkel yang terbuat dari ubin tua dengan retakan-retakan halus di sana-sini.
Ia tampak tidak terganggu oleh keheningan itu. Tidak merasa perlu mengisinya dengan kata-kata.
Dan di dalam ketenangan itu, Sarah merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di hadapan Raka. Bukan kecurigaan. Bukan keingintahuan yang mendesak.
Bukan kebutuhan untuk menggali lebih dalam tentang dari mana remaja ini mendapatkan benda-benda yang seharusnya tidak ada di tangannya. Melainkan sesuatu yang lebih sederhana, lebih mendasar: kehadiran.
Raka ada di sini, duduk di bangku kayu di bengkelnya, dan itu saja sudah cukup. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Mungkin inilah yang selama ini ia lewatkan. Mungkin inilah yang selama ini ia tolak untuk ia akui. Bahwa mengenang seseorang tidak harus berarti mempertahankan setiap benda yang pernah mereka sentuh.
Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama kita menjaga kamar seseorang tetap utuh, atau seberapa keras kita mencoba memperbaiki arloji yang telah mati.
Bahwa ada bentuk lain dari kesetiaan – yang lebih sunyi, lebih tidak terlihat, tetapi mungkin lebih nyata: membiarkan kenangan itu hidup di dalam diri kita, berdetak seperti jam yang tidak perlu kita perbaiki karena ia tidak pernah benar-benar rusak.
Sarah mengalihkan pandangannya ke arloji di atas meja. Dua arloji saku yang identik, terbaring berdampingan seperti dua saksi bisu dari waktu yang telah berhenti.
