Bab 12 – Pak Hadi dan Teh Hangat

Pagi itu bengkel masih sepi ketika Sarah duduk di meja kerjanya, kedua tangan terulur di atas permukaan kayu jati yang telah menampung puluhan tahun goresan dan noda minyak.

Di hadapannya, jam saku Dimas terbaring dengan tutup belakang terbuka, memperlihatkan susunan roda gigi yang sudah terlalu sering ia bongkar dan pasang kembali.

Jarum-jarumnya masih menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, sama seperti delapan tahun terakhir, sama seperti setiap kali ia mencoba dan gagal.

Cahaya dari jendela samping jatuh miring di atas casing perak yang mulai kusam di bagian tepinya, dan di kejauhan, tiga puluh dua jam dinding di bengkel itu berdetak dalam irama yang tidak pernah benar-benar serempak.

Sarah mengambil pinset kecil dari rak di sampingnya. Ujung jarinya menyentuh permukaan salah satu gir terkecil, bukan untuk membetulkan posisinya, melainkan sekadar untuk merasakan logam itu di bawah kulitnya.

Dua hari setelah menemukan sketsa Dimas di antara tumpukan kertas, ia masih belum bisa melepaskan pikiran tentang tulisan “untuk yang masih hidup” yang kini tersimpan di lacinya.

Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang ditujukan langsung kepadanya, namun juga kepada seseorang yang belum sepenuhnya ia pahami. Setiap kali ia mencoba membayangkan tangan Dimas menggambar sketsa itu.

Setiap kali ia mencoba membayangkan adiknya duduk di meja belajar dengan pensil di tangan, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak cocok dengan gambar Dimas yang selama ini ia simpan di kepalanya.

Ia meletakkan pinset dan menghela napas. Tangannya bergerak ke cangkir teh di sudut meja yang sudah mendingin sejak setengah jam lalu. Di luar, suara sepeda motor melintas di jalan gang, sebentar, lalu menghilang.

Burung kayu bersayap patah yang ditinggalkan Raka masih tergeletak di sudut mejanya, sayapnya yang retak belum ia sentuh sejak pertama kali benda itu muncul.

Ada sesuatu tentang benda-benda yang dibawa remaja itu yang membuat Sarah enggan menyentuhnya terlalu cepat, seolah-olah setiap benda menyimpan lapisan cerita yang hanya bisa terbuka jika ia bersabar cukup lama.

Pintu bengkel berderit terbuka.

Sarah mendongak dan melihat Pak Hadi berdiri di ambang pintu dengan sebuah jam dinding besar di kedua tangannya.

Tubuh pria itu sedikit membungkuk, rambutnya yang memutih tertutup sebagian oleh peci hitam yang selalu ia kenakan, dan di wajahnya yang penuh keriput terdapat senyum yang sudah Sarah kenal selama bertahun-tahun.

Jam yang ia bawa terbuat dari kayu jati dengan ukiran rumit di bingkainya, sulur-sulur daun yang mengalir di sepanjang tepi, dan di bagian tengahnya, kaca penutup yang sedikit buram menampakkan jarum-jarum yang sudah lama berhenti bergerak.

“Selamat siang, Nak Sarah,” kata Pak Hadi, suaranya pelan dan dalam, seperti suara seseorang yang sudah terbiasa berbicara dengan jeda-jeda panjang di antara kata-katanya.

Sarah bangkit dari kursinya.
“Pak Hadi. Lama tidak mampir.”

Ia mengambil jam dari tangan pria itu dan meletakkannya di atas meja kerja, di samping jam saku Dimas yang masih terbuka.

Pak Hadi duduk di bangku kayu dekat pintu, bangku yang sama yang selalu ia tempati setiap kali datang, dan Sarah memperhatikan bagaimana pria itu tidak pernah duduk di tempat lain.

Seolah-olah ia dan bangku itu telah membuat semacam perjanjian diam-diam selama bertahun-tahun.

“Ini jam kakek saya,” kata Pak Hadi sambil menunjuk ke arah jam dinding yang baru saja Sarah letakkan.
“Sudah mati sejak lima tahun lalu. Saya simpan di lemari, tidak pernah saya bawa ke mana-mana. Tapi minggu kemarin, entah kenapa, saya keluarkan lagi. Mungkin sudah waktunya.”

Sarah mengangguk dan mengamati jam itu lebih dekat.

Ukiran di bingkainya adalah karya tangan yang teliti, setiap sulur daun memiliki kedalaman yang berbeda, dan di bagian bawah, terdapat tulisan tahun dalam aksara Jawa yang sudah mulai memudar.

Ia membalikkan jam itu dan membuka panel belakangnya.

Di dalam, susunan gir dan pegas masih utuh, namun debu telah menumpuk di setiap sudutnya, dan salah satu pegas utama tampak kendur, kehilangan tegangan yang dulu mungkin pernah membuatnya berdetak.

“Saya buatkan teh dulu, Pak,” kata Sarah sambil beranjak ke meja kecil di sudut bengkel tempat ia menyimpan termos dan beberapa cangkir.

Pak Hadi tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, dan Sarah bisa merasakan tatapan pria itu mengikuti gerakannya saat ia menuang air panas ke dalam cangkir.

Saat ia meletakkan satu sendok gula, saat ia mengaduk pelan-pelan sebelum membawa cangkir itu kembali ke meja kerja.

Ketika ia meletakkan cangkir di depan Pak Hadi, pria itu menerimanya dengan kedua tangan, sebuah gerakan yang selalu membuat Sarah teringat pada kesopanan orang-orang tua di kampungnya yang tidak pernah hilang dimakan zaman.

Mereka duduk dalam keheningan.

Di sekeliling mereka, tiga puluh dua jam dinding terus berdetak, masing-masing dengan iramanya sendiri, dan di tengah keheningan itu, suara detak terdengar lebih jelas, seakan-akan dinding-dinding bengkel ikut bernapas.

Sarah kembali ke kursinya dan mulai memeriksa jam kakek Pak Hadi dengan lebih teliti, menyentuh setiap gir dengan ujung jarinya, mengamati bagian mana yang masih bisa diselamatkan dan bagian mana yang mungkin harus diganti.

Di luar, cahaya siang mulai bergeser, dan bayangan dari jendela samping merayap pelan di atas permukaan meja.

“Dulu, Dimas sering mampir ke rumah saya, Nak,” kata Pak Hadi tiba-tiba.

Tangan Sarah berhenti di atas sebuah gir kecil. Ia tidak langsung mendongak.

Suara Pak Hadi masih menggantung di udara, pelan dan tanpa tekanan, seperti seseorang yang menyebutkan nama sebuah kota yang jauh, bukan seseorang yang sedang membuka luka.

Di sekeliling mereka, detak jam tidak berubah, namun sesuatu di dalam dada Sarah terasa menyempit, bukan karena sakit, melainkan karena nama itu.

Nama yang selama delapan tahun hanya ia ucapkan di dalam kepalanya sendiri, tiba-tiba disebutkan oleh suara lain di ruangan yang sama.

“Dia suka ngobrol soal jam ini,” lanjut Pak Hadi sambil menunjuk ke arah jam kakeknya yang terbaring di atas meja.

“Katanya, pegasnya masih bagus, cuma perlu dibersihkan dan dikasih oli sedikit. Dia selalu bilang, jam tua itu seperti orang tua, Pak. Kalau dirawat, masih bisa berdetak lama.”

Sarah menelan ludah. Ia meletakkan pinsetnya dan akhirnya mendongak, menatap Pak Hadi yang masih duduk dengan kedua tangan memegang cangkir teh.

Wajah pria itu tenang, matanya menatap Sarah dengan kelembutan yang tidak menuntut apa pun, dan di sanalah Sarah menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan: Pak Hadi juga mengenal Dimas.

Bukan sebagai nama di batu nisan, bukan sebagai cerita yang diceritakan orang-orang di kampung, melainkan sebagai seorang pemuda yang pernah duduk di teras rumahnya, yang pernah berbicara tentang jam dan pegas dan oli, yang pernah tertawa dan bercerita dan hidup.

“Dimas sudah tidak ada, Pak,” kata Sarah, dan suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan.

Pak Hadi mengangguk. Gerakannya lambat, penuh pengertian, dan di matanya tidak ada kejutan, tidak ada keterkejutan yang biasanya muncul ketika seseorang mendengar kabar kematian untuk pertama kalinya.

Seolah-olah ia sudah tahu. Seolah-olah ia hanya menunggu Sarah yang mengatakannya.

“Saya tahu, Nak,” katanya.

“Saya dengar kabarnya delapan tahun lalu. Cuma, setiap kali saya lihat jam ini, saya teringat lagi sama dia. Rasanya seperti baru kemarin dia duduk di teras rumah saya, bercerita soal pegas dan gir dan kenapa jam tua lebih jujur dari jam baru.”

Latest Novel ionicons-v5-c