Senja hari kedua puluh satu datang dengan cahaya yang lebih redup dari biasanya.
Awan-awan menggantung rendah di atas Kotagede, menyaring sinar matahari menjadi warna kuning pucat yang menempel di kaca jendela bengkel seperti lapisan debu halus.
Di dalam, lampu neon di atas meja kerja sudah menyala sejak pukul lima, dengungannya bercampur dengan irama tiga puluh dua penunjuk waktu yang berdetak di dinding.
Sarah duduk di kursinya, tangan kanannya memegang cangkir teh yang sudah mendingin, sementara tangan kirinya bertumpu di atas meja jati yang permukaannya penuh goresan halus akibat bertahun-tahun penggunaan.
Sudah tiga hari sejak kunjungan terakhir Pak Hadi. Tiga hari sejak ia meletakkan pinsetnya dan membiarkan arloji saku Dimas tetap terbuka tanpa menyentuhnya.
Dan tiga hari sejak ia mulai menerima kenyataan bahwa mungkin ada hal-hal tentang adiknya yang tidak pernah ia ketahui. Pagi ini, ia membersihkan bengkel seperti biasa.
Menyapu lantai, mengelap kaca jam dinding, memeriksa komponen-komponen yang tersimpan dalam kotak kayu kecil di rak.
Tetapi gerakannya terasa lebih lambat, seolah setiap tindakan kini membawa beban pertanyaan yang belum terjawab.
Ketika suara langkah kaki terdengar dari luar, Sarah tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Langkah itu ringan, ragu-ragu, dan selalu berhenti sejenak di depan pintu sebelum masuk. Raka.
Dalam tiga minggu terakhir, ia telah menjadi kehadiran yang semakin sering muncul di bengkel ini, meskipun Sarah masih belum sepenuhnya memahami mengapa.
“Mbak Sarah,” suara Raka terdengar pelan dari ambang pintu.
Sarah menoleh. Remaja itu berdiri di sana dengan seragam sekolah yang masih kusut, rambutnya sedikit basah oleh gerimis sore.
Di tangannya, ia memegang sesuatu – sebuah buku kecil bersampul cokelat tua, dengan sudut-sudut yang sudah mengelupas dan punggung buku yang retak di beberapa bagian.
“Masuk,” kata Sarah singkat.
Raka melangkah ke dalam, matanya sempat mengarah ke dinding-dinding yang dipenuhi penunjuk waktu sebelum akhirnya berhenti di meja kerja Sarah.
Ia meletakkan buku itu di atas meja, di samping kotak kayu kecil yang masih menyimpan arloji saku Dimas.
“Saya menemukan ini,” katanya, suaranya hampir berbisik.
“Di antara barang-barang yang kemarin.”
Sarah membuka beberapa halaman. Sebagian besar berisi sketsa jam, radio, dan rancangan benda-benda yang tidak pernah selesai dibuat. Namun di bagian tengah, ia menemukan halaman yang membuatnya berhenti.
Hari ini aku gagal lagi.
Sarah mengernyit. Ia melanjutkan membaca.
Pak dosen bilang rancanganku terlalu rumit. Mungkin memang terlalu rumit.
Halaman berikutnya:
Kadang aku iri sama Mbak Sarah."
Tangan Sarah membeku.
Dia selalu kelihatan tahu apa yang harus dilakukan. Aku bahkan nggak yakin mau jadi apa setelah lulus.
Sarah duduk perlahan.
Dalam ingatannya, Dimas selalu tampak penuh semangat. Tidak pernah ragu. Tidak pernah takut. Namun tulisan-tulisan itu memperlihatkan seseorang yang berbeda.
Seorang pemuda yang sering bingung. Sering gagal. Dan sering menyembunyikannya dari orang lain.
“Dari mana?” tanyanya.
Raka mengangkat bahu, gerakan kecil yang nyaris tidak terlihat.
“Di dalam kotak. Di bawah tumpukan kertas-kertas lama.”
Sarah mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh permukaan sampul yang kasar. Buku itu ringan, mungkin hanya berisi beberapa puluh halaman.
Ia membukanya perlahan, dan di halaman pertama, ia langsung mengenali tulisan tangan itu – huruf-huruf kecil yang sedikit miring ke kanan, dengan tekanan pena yang tidak rata, seolah penulisnya selalu terburu-buru saat menuangkan pikiran ke atas kertas.
Tulisan Dimas.
Sarah menelan ludah. Ia tidak langsung membaca. Sebaliknya, ia membalik halaman demi halaman dengan gerakan lambat, membiarkan matanya menelusuri sketsa-sketsa yang memenuhi separuh buku.
Ada gambar gir dengan anotasi di sampingnya. Ada sketsa mekanisme pegas yang digambar dengan pensil, garis-garisnya tipis dan presisi.
Ada diagram sederhana tentang cara kerja escapement, lengkap dengan panah-panah kecil yang menunjukkan arah gerakan.
Dimas selalu menggambar dengan cara yang sama – teliti, tetapi tidak kaku; setiap garis memiliki energi yang membuatnya terasa hidup.
“Dia banyak menggambar,” kata Raka, masih berdiri di samping meja. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha tidak mengganggu.
Sarah mengangguk tanpa mengangkat kepala.
“Dia selalu begitu. Sejak kecil.”
Ia melanjutkan membalik halaman. Di bagian tengah buku, sketsa-sketsa mulai bercampur dengan catatan tertulis. Beberapa halaman berisi daftar ide.
jam dinding dengan mekanisme buka-tutup otomatis,
arloji saku yang bisa menyala dalam gelap,
kotak senandung dengan pemutar berbentuk bintang
Dan di samping setiap ide, ada coretan kecil, komentar yang ditulis dengan tinta berbeda, seolah Dimas terus kembali ke halaman yang sama untuk menambahkan pemikiran baru.
Dan kemudian Sarah membalik satu halaman lagi, dan tangannya berhenti. Halaman itu berbeda dari yang lain. Tidak ada sketsa. Tidak ada diagram.
Hanya tulisan tangan Dimas, rapat dan penuh, seolah ia menuangkan sesuatu yang sudah lama ingin ia katakan tetapi tidak pernah menemukan kata-kata yang tepat.
Di bagian atas halaman, tertulis tanggal – lima tahun sebelum kematiannya. Sarah menghitung mundur dalam kepalanya. Dimas berusia limabelas tahun saat menulis ini.
Ia mulai membaca.
Kadang aku iri sama Sarah.
Sarah mengernyit. Ia membaca kalimat itu lagi, dan sekali lagi, memastikan bahwa matanya tidak salah. Tetapi tulisan itu tetap di sana, jelas dan tidak terbantahkan.
Dia selalu kelihatan tahu apa yang harus dilakukan. Bangun pagi, buka bengkel, perbaiki jam, tutup bengkel, besoknya lagi begitu. Aku bahkan belum tahu mau jadi apa lima tahun lagi.
Kadang aku merasa semua orang sudah punya jalan, dan aku cuma berdiri di pinggir, lihatin mereka lewat.
Jari-jari Sarah menekan tepi halaman. Ia membaca paragraf berikutnya.
Sarah pasti nggak pernah ngerasain ini. Dia terlalu sibuk. Tapi kadang aku pengen ngomong ke dia, cuma nggak tahu caranya.
Soalnya kalau aku ngomong, nanti dia khawatir. Dan kalau dia khawatir, aku malah merasa lebih buruk lagi.
Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini diam mulai bergerak. Bukan rasa sakit yang tajam, bukan pula kejutan yang tiba-tiba. Lebih mirip getaran halus, seperti ketika seseorang menyentuh permukaan air yang tenang dan menyadari bahwa di bawahnya ada arus yang selama ini tidak terlihat.
Ia terus membaca.
Minggu lalu aku bantu Pak Hadi perbaiki radio tuanya. Dia bilang, "Kamu kayak kakakmu, telaten." Aku cuma ketawa.
Tapi dalem hati aku mikir, aku nggak kayak Sarah. Sarah itu pasti. Aku masih coba-coba. Dia sudah jadi sesuatu. Aku masih mencari-cari.
Sarah mengangkat kepalanya, menatap Raka yang masih berdiri di samping meja. Remaja itu tidak bergerak, tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatap Sarah dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan rasa ingin tahu, bukan pula rasa kasihan, melainkan sesuatu di antaranya, seolah ia sudah tahu apa yang ada di dalam buku itu dan kini hanya menunggu Sarah menemukannya sendiri.
“Kamu sudah baca ini?” tanya Sarah, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Raka menggeleng pelan.
“Cuma sekilas. Saya tidak mau baca semuanya sebelum Mbak Sarah lihat.”
Sarah menatap buku itu lagi. Ia membalik halaman berikutnya, dan di sana, tulisan Dimas berlanjut.
Tapi aku nggak mau Sarah tahu aku ngerasa begini. Dia udah cukup banyak ngurusin aku. Sejak Bapak dan Ibu nggak ada, dia yang ngurusin semuanya. Bengkel. Rumah. Aku.
Kadang aku lihat dia di meja kerja, memperbaiki jam sampai larut malam, dan aku mikir – dia nggak pernah minta jadi orang yang harus ngurusin semuanya. Tapi dia tetap lakuin. Tanpa ngeluh.
Halaman berikutnya.
