Bab 13 -Buku Catatan yang Tertutup

Aku cuma pengen suatu hari nanti, aku bisa jadi orang yang cukup kuat buat bantu dia. Bukan cuma jadi adik yang harus dijagain. Tapi seseorang yang bisa dia andelin. Seseorang yang bikin dia nggak perlu khawatir lagi.

Sarah menutup matanya sejenak. Di belakang kelopaknya, ia melihat wajah Dimas.

Bukan wajah yang selalu tersenyum dan penuh canda seperti yang selama ini ia ingat, melainkan wajah seorang anak limabelas tahun yang duduk sendirian di kamarnya, menuliskan ketakutan-ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Wajah seorang anak yang merasa tertinggal, yang merasa tidak cukup, yang merasa bahwa kakaknya adalah matahari dan ia hanyalah bulan yang memantulkan cahaya tanpa pernah bisa menghasilkan sinarnya sendiri.

Ia membuka mata dan membalik halaman lagi. Kali ini, tulisannya lebih pendek.

Hari ini aku perbaiki kotak musik tua milik seorang nenek di ujung gang. Nenek itu bilang, kotak musik ini hadiah dari almarhum suaminya. Udah rusak bertahun-tahun. Aku perbaiki pelan-pelan. 

Pas akhirnya bunyi lagi, nenek itu nangis. Aku juga hampir nangis, tapi malu. Aku nggak pernah cerita ke Sarah soal ini. Tapi rasanya... kayak aku nemuin sesuatu yang penting.

Kayak memperbaiki barang rusak itu bukan cuma soal bikin benda itu berfungsi lagi. Tapi soal ngasih orang kesempatan buat dengerin sesuatu yang udah lama hilang.

Sarah membaca paragraf itu lagi. Dan lagi. Dan di setiap pembacaan, ia menemukan sesuatu yang baru – bukan dalam kata-katanya, melainkan dalam apa yang tidak dikatakan.

Dimas tidak pernah menceritakan ini kepadanya.

Tidak pernah menyebutkan tentang nenek di ujung gang, tentang kotak senandung yang membuatnya hampir menangis, tentang perasaan bahwa memperbaiki benda rusak adalah cara untuk mengembalikan sesuatu yang telah hilang.

Selama delapan tahun, Sarah menyimpan setiap benda milik Dimas, mempertahankan setiap jejak keberadaannya, dan selama itu pula ia percaya bahwa ia mengenal adiknya lebih baik dari siapa pun.

Tetapi di hadapannya kini terbaring bukti bahwa keyakinan itu salah. Bahwa Dimas memiliki seluruh kehidupan yang tidak pernah ia bagikan.

Bahwa di balik senyum dan canda dan kalimat-kalimat ringan yang selalu ia lontarkan, ada seorang anak muda yang menyimpan ketakutan, keraguan, dan mimpi-mimpi yang tidak pernah ia ungkapkan kepada orang yang paling ia cintai.

“Mbak Sarah,” suara Raka terdengar lagi, kali ini lebih pelan.
“Mbak Sarah baik-baik saja?”

Sarah mengangguk, meskipun ia tidak yakin apakah anggukan itu jujur. Ia menatap halaman terakhir yang terbuka, dan di sana, di bagian bawah halaman, Dimas menulis satu kalimat terakhir yang membuat napas Sarah tercekat di tenggorokan.

Kalau suatu hari nanti aku pergi, aku harap Sarah nggak berhenti. Bukan karena aku nggak mau dia sedih. Tapi karena aku tahu, kalau dia berhenti, dia bakal susah banget buat mulai lagi. Dan aku nggak mau jadi alasan dia berhenti.

Sarah menutup buku itu perlahan. Suara sampul yang menutup terdengar seperti detak terakhir – final, pasti, tidak bisa ditarik kembali.

Di luar jendela, langit senja telah berubah dari kuning pucat menjadi jingga tua, dan di dalam bengkel, bayangan-bayangan mulai memanjang di atas lantai kayu.

Tiga puluh dua jam di dinding terus berdetak, masing-masing dengan iramanya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah mendengarkan suara itu bukan sebagai pengingat akan waktu yang telah hilang, melainkan sebagai bukti bahwa waktu terus bergerak, bahkan ketika ia tidak siap untuk mengikutinya.

Ia menatap Raka, yang masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, tidak berkata apa-apa.

Dan di dalam dadanya, getaran halus itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.

Bukan rasa sakit, bukan pula kelegaan, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan merangkak naik ke permukaan, seperti gelembung udara yang akhirnya mencapai puncak air setelah bertahun-tahun terperangkap di dasar.

“Dimas…” Sarah memulai, tetapi suaranya terputus. Ia mencoba lagi.
“Dimas tidak pernah bilang semua ini ke saya.”

Raka mengangguk pelan.
“Saya tahu.”

“Dia selalu kelihatan… baik-baik saja. Selalu ceria. Selalu bercanda.”

“Mungkin aja dia nggak cerita semuanya ke orang lain.” kata Raka, suaranya hampir berbisik.

Sarah menatap buku catatan yang kini tertutup di atas meja. Sampulnya yang usang, halaman-halamannya yang menguning, tulisan tangan Dimas yang masih terasa begitu hidup meskipun tangannya telah berhenti menulis delapan tahun yang lalu.

Dan ia menyadari bahwa selama ini, ia telah menyimpan begitu banyak benda milik Dimas – arloji sakunya, jaket denimnya, buku-bukunya, sketsa-sketsanya – tetapi tidak satu pun dari benda-benda itu yang benar-benar menceritakan siapa adiknya.

Benda-benda itu hanya menceritakan apa yang Sarah ingin percayai. Dan apa yang Sarah ingin percayai adalah versi Dimas yang selalu ceria, selalu percaya diri, selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Versi yang tidak pernah merasa iri, tidak pernah merasa takut, tidak pernah merasa tertinggal. Versi yang tidak pernah ada.

Di luar, hujan mulai turun. Butir-butir air mengetuk kaca jendela dengan irama yang tidak teratur, dan di dalam bengkel, lampu neon terus berdengung, menerangi meja kerja yang kini dipenuhi benda-benda dari masa lalu.

Sarah mengulurkan tangan dan menyentuh sampul buku catatan itu lagi, jari-jarinya menelusuri retakan di punggung buku.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyimpan benda ini di dalam laci atau di dalam kotak kayu atau di dalam kamar yang tidak pernah dibuka.

Ia hanya membiarkannya di atas meja, di samping arloji saku yang masih terbuka dengan tutup belakang yang memperlihatkan gir-gir yang sudah terlalu sering ia sentuh.

“Raka,” katanya, dan suaranya terdengar lebih lembut sekarang, lebih rapuh, seolah kata-kata itu adalah benang-benang halus yang bisa putus kapan saja.
“Kamu… kamu kenapa bawa semua ini ke saya?”

Raka menatapnya, dan di matanya, Sarah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan jawaban, bukan pula pertanyaan, melainkan sebuah ketenangan yang aneh, seolah remaja itu sudah tahu bahwa pertanyaan ini akan datang, dan ia sudah menyiapkan jawabannya jauh sebelum ia melangkah masuk ke bengkel hari ini.

“Karena,” kata Raka pelan,
“saya pikir Mbak Sarah perlu lihat sendiri.”

“Lihat apa?”

“Bahwa Dimas juga sama. Dia juga takut. Dia juga bingung. Dia juga nggak tahu mau jadi apa.” Raka berhenti sejenak, menatap buku catatan di atas meja.

“Dan dia nggak pernah cerita ke Mbak Sarah. Bukan karena dia nggak percaya. Tapi karena dia nggak mau Mbak Sarah khawatir.”

Sarah menatap buku itu lagi. Halaman-halaman yang telah ia baca, sketsa-sketsa yang telah ia lihat, kata-kata yang telah ia serap.

Semuanya kini terasa seperti potongan-potongan cermin yang baru saja ia temukan, masing-masing memantulkan sudut pandang yang berbeda tentang seseorang yang selama ini ia kira ia kenal sepenuhnya.

Dan di dalam dadanya, getaran itu terus berubah, mengembang menjadi sesuatu yang lebih besar, lebih hangat, lebih mirip dengan penerimaan daripada dengan penyesalan.

Ia tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya duduk di sana, di kursinya, dengan tangan yang masih menyentuh sampul buku catatan itu, dan membiarkan hujan di luar jendela mengisi keheningan yang kini terasa bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang.

Ruang yang akhirnya cukup luas untuk menampung semua versi Dimas yang tidak pernah ia kenal, semua ketakutan yang tidak pernah ia dengar, semua mimpi yang tidak pernah ia lihat, dan semua cinta yang telah diberikan adiknya dengan cara yang bahkan tidak pernah ia sadari.

Di atas meja, arloji saku Dimas masih terbaring dengan jarum yang menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Waktu yang telah berhenti delapan tahun yang lalu.

Tetapi untuk pertama kalinya, Sarah tidak melihat waktu itu sebagai akhir dari sesuatu. Ia melihatnya sebagai awal dari sebuah pertanyaan yang baru sekarang ia mulai pahami.

Dan di sampingnya, buku catatan bersampul cokelat itu terbaring dengan halaman-halaman yang kini telah ia baca, menyimpan suara adiknya yang akhirnya terdengar.

Bukan sebagai gema dari masa lalu, melainkan sebagai bisikan yang selama ini tertutup, menunggu seseorang untuk membuka halaman yang tepat dan akhirnya mendengarkan.

Latest Novel ionicons-v5-c