Bab 14 – Duduk Tanpa Jam

Jarum keduanya menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Waktu yang sama. Detik yang sama. Tetapi satu telah berhenti selama delapan tahun, disimpan di dalam kotak kayu sebagai monumen untuk kegagalan dan rasa bersalah.

Sementara yang lain – arloji yang dibawa Raka – masih baru, masih asing, masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tentang dari mana ia berasal dan bagaimana ia bisa sampai ke tangan remaja ini.

Dan untuk pertama kalinya, Sarah tidak merasa perlu untuk mengetahui jawabannya.

Ia menatap Raka lagi. Remaja itu kini menatap salah satu jam dinding – sebuah Junghans Jerman dari tahun empat puluhan dengan ukiran kayu di bingkainya, yang berdetak dengan irama mantap dan teratur.

Wajahnya tenang, matanya mengikutti gerakan pendulum yang berayun ke kiri dan ke kanan. Tidak ada keingintahuan di sana. Tidak ada desakan untuk memahami.

Hanya pengamatan yang sabar, seperti seseorang yang telah belajar bahwa beberapa hal tidak perlu dipecahkan untuk bisa dinikmati.

“Kamu tidak membawa apa-apa hari ini,” kata Sarah akhirnya, memecahkan keheningan. Suaranya bukan tuduhan. Hanya pengamatan.

Raka mengalihkan pandangannya dari jam dinding, menatap Sarah dengan mata yang tenang.
“Tidak,” jawabnya pelan.
“Saya hanya ingin duduk di sini.”

Kalimat itu begitu sederhana. Begitu polos. Tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang membuat tenggorokan Sarah tercekat. Saya hanya ingin duduk di sini.

Bukan karena ia membutuhkan sesuatu. Bukan karena ia ingin memperbaiki sesuatu. Bukan karena ia punya pertanyaan yang harus dijawab.

Melainkan karena ia ingin berada di sini – di bengkel tua yang penuh dengan jam dan debu dan kenangan – bersama seseorang yang telah menghabiskan delapan tahun mencoba memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

Sarah menunduk, menatap tangannya sendiri yang terlipat di atas pangkuan.

Jari-jari itu – yang telah membongkar ribuan jam, yang telah mengganti ratusan pegas, yang telah menyolder sambungan-sambungan yang putus – kini diam, tidak melakukan apa-apa.

Dan di dalam diam itu, ia merasakan sesuatu yang aneh: kelegaan. Seolah-olah dengan tidak memperbaiki apa pun, ia akhirnya memberi dirinya sendiri izin untuk sekadar ada.

Untuk sekadar hadir. Untuk sekadar menjadi seseorang yang tidak harus selalu memperbaiki segala sesuatu yang rusak di sekitarnya.

Di dinding, jam-jam terus berdetak. Tiga puluh dua jam, masing-masing dengan waktunya sendiri-sendiri. Beberapa menunjukkan pukul tiga sore. Beberapa masih di pagi hari.

Beberapa telah mati sama sekali, jarumnya terpaku pada detik-detik yang telah lama berlalu. Tetapi semuanya ada di sini, di dalam bengkel yang sama, menciptakan simfoni yang tidak pernah diminta untuk didengarkan oleh siapa pun.

Kecuali oleh mereka yang bersedia untuk berhenti sejenak dan membiarkan telinga mereka menangkap apa yang selama ini terlewatkan.

Dan Sarah, yang telah menghabiskan dua belas tahun di bengkel ini, yang telah mendengarkan detak jam setiap hari tanpa pernah benar-benar mendengarnya, akhirnya mendengarkan.

Bukan sebagai suara latar yang harus ia abaikan agar bisa fokus pada pekerjaannya. Melainkan sebagai musik. Sebagai bukti bahwa waktu terus berjalan, bahkan ketika ia telah memutuskan untuk berhenti.

Bahwa di luar sana, di luar kamar yang tertutup dan arloji yang mati dan rasa bersalah yang ia peluk seperti benda berharga, ada kehidupan yang terus bergerak – dan kehidupan itu tidak membutuhkan izinnya untuk terus ada.

Cahaya di luar mulai berubah. Jingga berubah menjadi ungu, lalu ungu berubah menjadi kelabu. Senja merayap masuk melalui jendela, membawa serta dingin yang mulai mengendap di udara.

Sarah tidak menyalakan lampu. Ia hanya duduk, membiarkan bayangan-bayangan memanjang di lantai bengkel, membiarkan wajah Raka perlahan menghilang ke dalam kegelapan.

Raka bangkit dari bangkunya. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru. Ia tidak mengucapkan selamat tinggal. Tidak mengatakan bahwa ia akan kembali besok.

Ia hanya berdiri di sana sejenak, menatap Sarah dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca dalam cahaya senja yang mulai redup. Lalu ia berbalik, melangkah menuju pintu, dan menghilang ke dalam jalan kecil di depan bengkel.

Sarah tidak menghentikannya. Tidak memanggil namanya. Tidak menanyakan ke mana ia akan pergi atau kapan ia akan kembali.

Ia hanya duduk di sana, di kursinya, di antara tiga puluh dua jam yang terus berdetak, merasakan keheningan yang ditinggalkan Raka.

Keheningan yang kini terasa lebih lapang, lebih ringan, seolah-olah seseorang telah membuka jendela di dalam ruangan yang telah terlalu lama tertutup.

Di atas meja, dua arloji saku masih terbaring. Jarum keduanya masih menunjuk pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Tetapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah tidak melihat waktu itu sebagai akhir dari sesuatu.

Ia melihatnya sebagai awal dari sebuah pertanyaan yang baru sekarang mulai ia pahami.

Apa artinya mengenang seseorang tanpa harus mempertahankan setiap benda yang pernah mereka sentuh?
Apa artinya mencintai tanpa harus memperbaiki?

Apa artinya membiarkan sesuatu pergi – bukan karena ia tidak berharga, tetapi karena ia telah menjalani tujuannya, dan sekarang saatnya untuk dilepaskan?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban. Mungkin tidak akan pernah memiliki jawaban. Tetapi untuk pertama kalinya, Sarah merasa bahwa tidak memiliki jawaban bukanlah kegagalan.

Melainkan awal dari sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum ia kenali sepenuhnya, tetapi yang sudah mulai ia rasakan – berdetak pelan di dalam dirinya, seperti jam yang tidak perlu diperbaiki karena ia tidak pernah benar-benar rusak.

Ia mengulurkan tangan, mengambil arloji saku Dimas dari atas meja. Logam itu dingin di telapak tangannya. Berat. Padat. Ia menggenggamnya erat-erat, merasakan ukiran bintang di bagian belakangnya menekan kulitnya.

Lalu, dengan gerakan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia meletakkannya kembali ke dalam kotak kayu kecil di sudut meja. Bukan untuk menyembunyikannya. Bukan untuk melupakannya.

Melainkan untuk memberinya tempat – tempat yang bukan di atas meja kerja, bukan di antara perkakas dan komponen yang menunggu untuk diperbaiki, melainkan di dalam kotak yang telah menunggu selama delapan tahun untuk akhirnya ditutup dengan cara yang berbeda.

Ia menutup penutup kotak itu. Kayu kecil itu berderit pelan saat bertemu dengan bingkainya. Lalu hening.

Di dinding, jam-jam terus berdetak. Waktu terus berjalan.

Dan di luar jendela, senja telah sepenuhnya berganti menjadi malam, membawa serta bintang-bintang pertama yang mulai bermunculan di langit Kotagede.

Bintang-bintang yang sama yang mungkin pernah ditatap Dimas delapan tahun yang lalu, tanpa pernah tahu bahwa suatu hari nanti kakaknya akan duduk di bengkel yang sama, menatap langit yang sama.

Dan akhirnya belajar bahwa melepaskan bukan berarti melupakan. Melepaskan adalah bentuk cinta yang paling sunyi, paling tidak terlihat, tetapi mungkin – mungkin – paling nyata.

Selanjutnya:

Latest Novel ionicons-v5-c