Bab 12 – Pak Hadi dan Teh Hangat

Pak Hadi berhenti sejenak, menyesap tehnya pelan-pelan, lalu melanjutkan, suaranya tetap tenang, tetap tanpa tekanan.

“Dia bilang, jam tua tidak pernah berpura-pura. Kalau rusak, dia berhenti. Tidak seperti jam digital yang bisa terus menyala meskipun di dalamnya sudah mati.”

Sarah tidak menjawab. Ia menatap jam saku Dimas yang masih terbaring di atas meja, tutup belakangnya terbuka, jarum-jarumnya masih menunjuk ke angka yang sama.

Dan tiba-tiba kata-kata Pak Hadi terasa seperti sesuatu yang menembus lapisan pertahanan yang selama delapan tahun ia bangun di sekeliling dirinya.

Jam tua tidak pernah berpura-pura. Kalau rusak, dia berhenti.

Kalimat itu berputar di kepalanya, dan ia tidak tahu apakah yang membuatnya sesak adalah kebenaran di dalamnya.

Atau kenyataan bahwa Dimas, adiknya yang berusia dua puluh tahun, adiknya yang suka mengobrol tentang pegas dan gir, adiknya yang memakai jaket denim dengan obeng kecil di sakunya, pernah mengatakan sesuatu yang begitu sederhana dan begitu dalam kepada seseorang yang bukan dirinya.

“Dimas dulu juga sering mengumpulkan anak-anak di gang ini,” kata Pak Hadi setelah jeda yang panjang. Suaranya masih pelan, namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat Sarah mendongak lagi.

“Dia mengajari mereka cara memperbaiki radio rusak, mainan kayu yang patah, kadang cuma jam dinding kecil yang sudah tidak berdetak. Dia bilang, memperbaiki sesuatu itu cara terbaik untuk belajar menghargai apa yang kita miliki.”

Sarah merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Bukan sakit. Bukan sesal. Melainkan sesuatu yang lebih asing, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Gambaran tentang adiknya yang duduk di tengah lingkaran anak-anak kecil, dengan tangan penuh oli dan suara yang sabar, mengajari mereka cara memegang obeng, cara membuka casing radio, cara mengenali mana kabel yang putus dan mana yang masih tersambung.

Gambaran yang tidak pernah ada di dalam kamar yang selama delapan tahun ia jaga. Gambaran yang tidak pernah muncul di dalam ingatan-ingatan yang ia susun rapi seperti barang-barang di rak.

“Saya tidak pernah tahu itu, Pak,” kata Sarah akhirnya, dan suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.

Pak Hadi menatapnya dengan mata yang masih tenang.
“Dimas tidak pernah cerita ke keluarga?”

Sarah menggeleng. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan itu membawa sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi keheningan yang nyaman seperti sebelumnya, melainkan keheningan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terucapkan.

Di meja kerja, jam saku Dimas masih terbaring dengan jarum-jarumnya yang menunjuk ke pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, dan di sampingnya, jam kakek Pak Hadi masih terbuka, memperlihatkan gir-gir yang menunggu untuk disentuh.

Di dinding, tiga puluh dua jam terus berdetak, dan di luar jendela, cahaya siang mulai bergeser ke warna yang lebih kuning, pertanda bahwa sore sudah mulai merayap di langit Kotagede.

Sarah menatap jam saku di hadapannya. Delapan tahun.

Delapan tahun ia duduk di meja ini, membongkar dan memasang kembali gir-gir yang sama, mencoba membuat jarum-jarum itu bergerak lagi, dan setiap kali gagal, setiap kali jarum itu tetap menunjuk ke angka yang sama, ia merasa bahwa kegagalannya adalah bentuk kesetiaan.

Bahwa selama ia belum bisa memperbaiki jam ini, ia belum benar-benar kehilangan Dimas.

Namun sekarang, mendengar Pak Hadi berbicara tentang adiknya yang mengajari anak-anak memperbaiki radio, tentang adiknya yang percaya bahwa memperbaiki adalah cara untuk menghargai.

Ia mulai mempertanyakan apakah yang selama ini ia lakukan benar-benar tentang Dimas, atau hanya tentang dirinya sendiri.

“Pak Hadi,” kata Sarah pelan, dan suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan retakan di dinding yang selama ini ia kira utuh.
“Menurut Bapak, apakah saya terlalu keras pada diri saya sendiri?”

Pak Hadi meletakkan cangkirnya di atas meja.

Gerakannya lambat, penuh perhitungan, dan ketika ia akhirnya menatap Sarah, di matanya ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah melewati kehilangan dan entah bagaimana caranya tetap berdiri.

“Saya bukan orang yang tepat untuk menjawab itu, Nak,” katanya.

“Tapi saya bisa cerita sedikit. Istri saya meninggal dua puluh tiga tahun yang lalu. Dan selama bertahun-tahun, saya merasa bahwa kalau saya berhenti merindukannya, berarti saya melupakannya. Jadi saya terus merindukan. Setiap hari. Setiap jam. Saya simpan semua barangnya. Saya tidak biarkan satu pun berubah.”

Ia berhenti sejenak, menatap jam kakeknya yang terbaring di atas meja, dan di wajahnya ada sesuatu yang lembut, sesuatu yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.

“Tapi kemudian saya sadar,” lanjutnya.
“Saya tidak benar-benar mengenang dia. Saya hanya mengenang kesedihan saya sendiri. Dan itu bukan cara untuk mencintai seseorang yang sudah pergi.”

Sarah tidak menjawab. Kata-kata Pak Hadi menggantung di udara, dan di sekeliling mereka, detak jam terus berjalan, tidak peduli pada apa pun, tidak peduli pada siapa pun yang berhenti, tidak peduli pada siapa pun yang masih terjebak di masa lalu.

Di luar, suara seseorang memanggil dari ujung gang, dan suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain yang terus bergerak sementara dunia di dalam bengkel ini masih berdiri di tempatnya.

Pak Hadi bangkit dari duduknya.

“Saya tidak bermaksud menggurui, Nak. Saya hanya ingin bilang, Dimas itu anak yang baik. Dia mencintai banyak orang dengan cara yang tidak pernah ia ceritakan. Dan mungkin, cara terbaik untuk mengenangnya bukan dengan memperbaiki jam yang sudah mati, tapi dengan mendengarkan cerita-cerita dari orang-orang yang pernah ia bantu.”

Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti sejenak di ambangnya.

“Jam kakek saya tidak usah buru-buru diperbaiki. Saya sudah lama terbiasa dengan sunyi. Tapi kalau ada waktu, mampirlah ke rumah. Saya punya banyak cerita tentang Dimas yang mungkin belum pernah Mbak dengar.”

Sarah mengangguk pelan. Ia tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya terasa kering, dan di belakang matanya, ada sesuatu yang hangat, sesuatu yang selama delapan tahun tidak pernah ia izinkan untuk muncul.

Pintu bengkel tertutup pelan di belakang Pak Hadi.

Suara langkah kakinya menghilang di ujung gang, dan kemudian yang tersisa hanyalah detak tiga puluh dua jam dinding, suara yang sudah menjadi latar dari seluruh hidup Sarah, suara yang selalu mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan, bahkan ketika ia memilih untuk berhenti.

Sarah kembali duduk di kursinya. Di hadapannya, jam saku Dimas masih terbaring dengan tutup belakang terbuka, memperlihatkan gir-gir yang sudah terlalu sering ia sentuh. Namun kali ini, ia tidak mengambil pinsetnya.

Ia tidak membuka laci untuk mengeluarkan komponen cadangan. Ia hanya duduk di sana, menatap jam itu, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia membiarkan tangannya tetap diam di atas meja.

Di luar jendela, langit sore mulai berwarna jingga, dan di dalam bengkel, bayangan-bayangan memanjang di atas lantai kayu yang sudah mulai retak di beberapa bagian.

Sarah menatap jam saku itu, dan di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini kaku dan tidak bergerak mulai melunak.

Bukan karena ia telah menemukan jawaban, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa mungkin ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih penting daripada jawaban yang selama ini ia cari.

Latest Novel ionicons-v5-c