Bab 11 – Kertas yang Tercecer

Pagi itu bengkel masih gelap ketika Sarah tiba.

Ia menyalakan lampu neon seperti biasa, mendengarkan dengungan pendek sebelum cahaya putih membanjiri ruangan, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di ambang pintu sambil memandangi meja kerjanya yang berantakan.

Tiga puluh dua jam di dinding terus berdetak, masing-masing dengan iramanya sendiri, dan suara itu kini terasa berbeda – bukan lagi latar yang sudah ia terbiasa abaikan, melainkan sesuatu yang menuntut perhatiannya.

Seperti bisikan dari masa lalu dan masa kini yang saling bertumpuk. Dua hari telah berlalu sejak percakapan terakhirnya dengan Raka.

Dua hari sejak remaja itu menatapnya dengan mata yang tenang dan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh seseorang yang baru berusia tujuh belas tahun. Sarah tidak bisa menghilangkan tatapan itu dari ingatannya.

Bukan karena tatapan tersebut mengandung ancaman atau permusuhan, melainkan karena di dalamnya ada sesuatu yang terlalu mengenal dirinya – seperti cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang selama delapan tahun ia kubur di bawah rutinitas.

Ia menghela napas dan melangkah masuk. Meja kerja itu sudah terlalu lama tidak ia bersihkan dengan sungguh-sungguh. Tumpukan perkakas, roda gigi kecil, potongan kuningan, sisa-sisa perbaikan yang belum ia rapikan.

Semuanya berkumpul di permukaan kayu jati yang sudah mengilap karena usia, membentuk lanskap kekacauan yang entah bagaimana mencerminkan keadaan pikirannya sendiri. Sarah menggulung lengan kemejanya dan mulai bekerja.

Tangannya bergerak dengan otomatis, memilah dan mengelompokkan. Obeng kecil dengan obeng kecil. Roda gigi dengan roda gigi.

Sekrup kuningan yang sudah mulai menghitam ia kumpulkan dalam sebuah kotak kecil, sementara serpihan logam yang sudah tidak berguna ia sapukan ke tepi meja untuk nanti dibuang.

Gerakan ini memiliki ritme yang menenangkan, sebuah tarian kecil antara jari dan benda mati yang sudah ia kuasai selama dua belas tahun menjalankan bengkel ini.

Namun pagi ini ketenangan itu tidak sepenuhnya datang. Ada sesuatu yang mengganjal di sudut kesadarannya, seperti duri kecil yang tertancap di antara lipatan ingatan dan tidak bisa ia cabut begitu saja.

Raka. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Jam saku yang identik. Radio tua dengan tulisan tangan Dimas di dalamnya. Kotak musik yang pernah diperbaiki untuk seorang nenek di ujung gang.

Semua benda itu seharusnya tidak ada di tangan siapa pun selain dirinya sendiri, namun entah bagaimana remaja itu muncul membawa masing-masing benda seolah ia sedang mengumpulkan kepingan teka-teki yang bahkan Sarah sendiri tidak tahu sedang ia susun.

Ia menggeser tumpukan perkakas di sisi kiri meja. Di bawahnya, terselip di antara sebuah jam meja tua dan permukaan kayu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sebuah kertas kecil, lipatannya sudah menguning dan pinggirannya mulai rapuh. Sarah menghentikan gerakannya.

Ia mengenali jam meja itu. Sebuah Becker Jerman dengan pegas utama yang patah, jam yang sama yang pernah ia perbaiki beberapa minggu lalu, jam yang sama yang di dalamnya ia temukan amplop putih berisi surat dari Dimas.

Dan kini, di bawah jam yang sama, ada kertas lain yang sebelumnya tidak ia sadari keberadaannya. Tangannya mengambil kertas itu dengan hati-hati, seolah benda tersebut bisa hancur hanya karena sentuhan.

Ia membuka lipatannya perlahan, merasakan tekstur kertas yang kering dan rapuh di ujung jarinya. Dan ketika ia melihat apa yang tergambar di atasnya, napasnya tertahan sejenak.

Itu adalah sebuah sketsa.

Sketsa jam tangan dengan detail yang rumit. Goresan pensil yang tipis dan presisi, memperlihatkan setiap komponen dengan ketelitian yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang benar-benar memahami cara kerja mesin.

Ada roda gigi utama, ada pegas, ada escapement, ada jarum penunjuk – semuanya digambar dengan proporsi yang tepat dan anotasi teknis di sampingnya yang ditulis dengan huruf kecil dan rapi.

Gaya menggambarnya sangat khas. Sarah mengenali gaya itu seketika, sama seperti ia mengenali suara langkah kaki seseorang di lorong rumah masa kecilnya. Ini adalah coretan Dimas.

Ia memegang kertas itu lebih erat. Jarinya menelusuri garis-garis pensil yang sudah mulai memudar, mengikuti setiap lekukan dan sudut yang dibuat oleh tangan adiknya bertahun-tahun lalu.

Dimas selalu menggambar seperti ini – cepat, presisi, tanpa keraguan.

Ketika mereka masih kecil dan Dimas duduk di sudut bengkel sambil memperhatikan Sarah bekerja, adiknya sering mengisi buku catatan dengan sketsa-sketsa seperti ini.

Gambar jam, gambar mesin, gambar benda-benda yang ingin ia perbaiki suatu hari nanti. Sarah ingat bagaimana ia dulu sering menegur Dimas karena terlalu banyak menggambar dan terlalu sedikit bicara.

“Kamu itu seperti jam yang tidak punya suara,” ia pernah berkata, dan Dimas hanya tertawa kecil sambil terus menggambar.

Tapi sketsa ini berbeda. Bukan hanya karena detailnya yang lebih rumit dari gambar-gambar yang pernah Sarah lihat sebelumnya, melainkan karena ada sesuatu yang lain di sudut bawah kertas itu.

Sebuah tulisan tangan yang lebih kecil, hampir tidak terlihat, seperti catatan pribadi yang ditambahkan setelah gambar utamanya selesai.

Sarah mendekatkan kertas itu ke wajahnya, memicingkan mata di balik kacamata bacanya, dan membaca kata-kata itu dengan pelan.

Untuk yang masih hidup.

Kalimat itu menetap di udara di antara detak-detak jam yang memenuhi ruangan. Sarah membacanya sekali, lalu sekali lagi, dan setiap kali matanya kembali ke kata-kata itu, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa bergeser.

Untuk yang masih hidup. Bukan untuk Sarah. Bukan untuk Dimas sendiri.

Tapi untuk “yang masih hidup”—sebuah frasa yang terasa begitu luas dan begitu personal pada saat yang bersamaan, seperti pesan dalam botol yang dilemparkan ke lautan waktu dan baru sekarang mencapai pantainya.

Dimas menulis ini untuk seseorang. Tapi siapa? Dan mengapa ia menyimpan catatan itu di tempat yang tidak akan ditemukan oleh siapa pun kecuali jika seseorang membongkar jam meja tua yang sudah rusak?

Sarah memandangi sketsa itu lagi, kali ini dengan mata yang berbeda.

Ia mencari petunjuk dalam goresan pensilnya, dalam anotasi teknis di samping gambar, dalam setiap detail kecil yang mungkin bisa memberitahunya sesuatu tentang apa yang sedang dipikirkan adiknya ketika ia menggambar ini.

Tapi sketsa itu hanya memberinya keheningan. Garis-garis yang diam. Roda gigi yang tidak bergerak.

Jarum jam yang digambar dalam posisi tertentu – pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, Sarah menyadari dengan tiba-tiba, dan kesadaran itu membuat dadanya terasa berat.

Pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Waktu yang sama dengan jam saku Dimas yang masih tersimpan di kotak kayu kecil di rak di atas meja kerjanya.

Waktu yang sama dengan jam saku yang dibawa Raka ke bengkel ini tiga minggu lalu. Waktu yang sama dengan titik di mana hidup Dimas berhenti, delapan tahun yang lalu, dan tidak pernah bergerak lagi sejak saat itu.

Sarah meletakkan sketsa itu di atas meja. Tangannya masih memegang pinggiran kertas, dan ia bisa merasakan dinginnya kertas tua itu meresap ke dalam kulitnya.

Di sekelilingnya, tiga puluh dua jam terus berdetak. Masing-masing dengan iramanya sendiri.

Masing-masing menandai detik yang terus bergerak maju, tidak peduli bahwa Sarah masih berdiri di tempat yang sama, memegangi secarik kertas yang seharusnya sudah tidak ada di dunia ini.

Ia memikirkan kata-kata dalam surat Dimas yang ia temukan dua hari lalu.

Saya tidak ingin Mbak Sarah menghabiskan hidup memperbaiki saya. Saya ingin Mbak Sarah hidup. 

Dan kini, di hadapannya, ada pesan lain yang seolah melanjutkan kalimat itu. Untuk yang masih hidup. Seolah Dimas sudah tahu bahwa suatu hari nanti seseorang akan menemukan catatan ini.

Seolah ia sudah merencanakan sesuatu, meninggalkan jejak-jejak kecil yang hanya akan terungkap ketika waktunya tepat. Tapi apa yang sedang ia rencanakan? Dan mengapa ia tidak pernah memberitahu Sarah?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti roda gigi yang tidak bisa berhenti. Sarah memandangi sketsa itu lagi, dan untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ia perhatikan.

Di sudut kanan atas kertas, ada sebuah tanda kecil – sebuah bintang dengan lima sudut, digambar dengan cepat tapi jelas. Simbol yang sama dengan ukiran di bagian belakang jam saku Dimas.

Simbol yang sama dengan ukiran di jam saku yang dibawa Raka. Sarah menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Ia tidak tahu apa artinya semua ini. Ia tidak tahu mengapa Dimas meninggalkan sketsa ini di dalam jam meja tua yang sudah rusak.

Atau mengapa ia menuliskan “untuk yang masih hidup” di sudut bawahnya, atau mengapa simbol bintang lima sudut itu muncul di begitu banyak tempat seolah ia adalah sebuah tanda yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang tahu cara mencarinya.

Latest Novel ionicons-v5-c