Dan sekarang, delapan tahun kemudian, ukiran itu berada di tangannya lagi, dibawa oleh seorang remaja yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
“Siapa namamu?” tanya Sarah, dan ia terkejut mendengar betapa datarnya suaranya sendiri, seolah-olah semua emosi yang bergejolak di dalam dirinya telah diredam oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
“Raka,” jawab remaja itu.
“Raka Wijaya.”
Sarah mengangguk pelan, masih memegang jam saku itu.
“Kamu bilang kamu menemukannya di tempat barang bekas. Di mana tepatnya?”
Raka mengalihkan pandangannya sejenak, dan untuk pertama kalinya Sarah melihat sesuatu di wajahnya yang tidak bisa ia artikan – sesuatu yang sekilas tampak seperti keraguan, atau mungkin sesuatu yang lebih dalam dari itu.
“Di Pasar Beringharjo,” katanya akhirnya.
“Ada seorang pedagang di sana yang menjual barang-barang lama. Jam ini ada di antara tumpukan barang yang lain. Saya hampir tidak melihatnya.”
Pasar Beringharjo. Sarah tahu tempat itu. Semua orang di Yogyakarta tahu Pasar Beringharjo.
Tapi itu tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya – pertanyaan yang mulai menggerogoti bagian belakang pikirannya, seperti seekor tikus yang mengerat kayu di dalam dinding.
Bagaimana bisa jam saku ini berakhir di Pasar Beringharjo?
Bagaimana bisa jam saku ini ada di tangan orang lain, sementara jam saku yang sama – jam saku yang identik – masih tersimpan di kamar Dimas, di dalam laci meja belajarnya, bersama dengan benda-benda lain yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun selain dirinya?
“Saya minta kamu perbaiki,” kata Raka, memecah keheningan yang mulai menggantung di antara mereka.
“Saya sudah coba sendiri, tapi tidak bisa. Mekanismenya terlalu rumit.”
Sarah menatap jam saku di tangannya.
Tanpa berpikir, ia meraih kunci pemutar kecil yang terletak di atas meja kerjanya – kunci yang sama yang telah ia gunakan ribuan kali untuk memutar jam-jam lain, kunci yang tidak pernah berhasil menghidupkan jam saku adiknya.
Ia memasukkannya ke lubang pemutar di bagian atas jam itu, dan dengan gerakan yang telah menjadi kebiasan selama delapan tahun, ia mulai memutar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Jam itu tetap diam.
Tentu saja. Tentu saja jam itu tetap diam. Sarah tidak tahu mengapa ia mengharapkan sesuatu yang berbeda.
Ia telah melakukan ini ribuan kali – mungkin puluhan ribuan kali – pada jam saku yang sama, dan hasilnya selalu sama. Jarum-jarum itu tidak pernah bergerak. Detak itu tidak pernah kembali.
Dan sekarang, dengan jam saku lain di tangannya, jam saku yang entah bagaimana telah menemukan jalannya ke dunia luar, hasilnya tetap sama. Jam itu tetap mati.
Seperti adiknya. Seperti bagian dari dirinya yang telah berhenti berdetak delapan tahun yang lalu dan tidak pernah bisa ia hidupkan kembali.
Sarah merasakan sesuatu di dalam dadanya – bukan rasa sakit yang tajam, bukan rasa sakit yang datang tiba-tiba dan menusuk seperti pisau.
Lebih seperti tekanan yang perlahan, seperti udara yang keluar dari ban sepeda, pelan dan hampir tidak terdeteksi tapi pasti. Ia telah menghabiskan delapan tahun mencoba memperbaiki jam saku ini.
Delapan tahun. Dan dalam delapan tahun itu, ia tidak pernah sekalipun berhasil. Tidak pernah sekalipun.
Dan sekarang, di hadapannya, ada jam saku lain yang persis sama, dan jam itu juga tidak bisa ia perbaiki, dan tiba-tiba seluruh keyakinan yang telah ia bangun selama ini – keyakinan bahwa ia bisa memperbaiki segala sesuatu, bahwa selama seseorang cukkup sabar dan teliti, hampir segala sesuatu dapat dipulihkan – terasa seperti ilusi yang rapuh dan tidak berarti.
“Saya perlu waktu,” kata Sarah, dan suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan.
“Untuk melihatnya. Untuk memeriksanya.”
Raka menatapnya, dan untuk beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa. Kemudian ia mengangguk.
“Saya bisa kembali besok,” katanya.
Sarah hampir mengatakan tidak. Hampir mengatakan bahwa ia tidak perlu waktu, bahwa ia sudah tahu jam ini tidak akan pernah bisa diperbaiki, bahwa ia sudah mencobanya selama delapan tahun dan tidak ada yang berubah.
Tapi kemudian ia menatap wajah remaja itu – wajah yang masih menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia baca, sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak – dan ia mengangguk.
“Besok,” katanya.
“Kembalilah besok.”
Raka berbalik dan berjalan ke arah pintu. Sebelum ia keluar, ia berhenti sejenak, dan tanpa berbalik, ia berkata,
“Saya akan ceritakan lebih banyak. Tentang bagaimana saya menemukan jam itu.”
Dan kemudian ia melangkah keluar, dan pintu bengkel tertutup di belakangnya dengan suara klik yang pelan.
Sarah tetap berdiri di belakang meja kerjanya, jam saku itu masih di tangannya.
Di sekelilingnya, tiga puluh dua jam dinding terus berdetak, masing-masing dengan ritmenya sendiri, tidak peduli bahwa pemiliknya baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang fondasi paling dasar dari keberadaannya.
Di luar, suara motor dan becak terus mengisi jalanan Kotagede, dan matahari terus bergerak di langit, dan dunia terus berputar seperti biasa. Tapi di dalam bengkel itu, waktu terasa seperti berhenti.
Atau mungkin bukan berhenti – mungkin lebih tepatnya, waktu terasa seperti kembali ke belakang, ke delapan tahun yang lalu, ke hari ketika semuanya berubah dan tidak pernah kembali seperti semula.
Sarah menatap jam saku di tangannya. Jam saku yang identik dengan jam saku adiknya. Jam saku yang seharusnya tidak mungkin ada di sini, di tangannya, dibawa oleh seorang remaja yang tidak pernah ia kenal.
Ia memikirkannya – benar-benar memikirkannya – dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia mulai bertanya-tanya. Bukan tentang bagaimana memperbaiki jam itu.
Bukan tentang mengapa jam itu tidak bisa diperbaiki. Tapi tentang sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia beranikan diri untuk menanyakan.
Darimana Raka mendapatkan jam ini? Dan apa lagi yang mungkin ia temukan?

