Udara di lantai atas terasa lebih berat. Bukan karena panas, sebab malam Yogyakarta di bulan Juni selalu membawa angin yang cukup dingin untuk membuat orang ingin menarik selimut lebih rapat.
Beratnya berasal dari sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan termometer atau dijelaskan dengan logika sederhana.
Mungkin dari akumulasi delapan tahun keheningan yang telah meresap ke dalam serat kayu lantai dan dinding-dinding tua rumah joglo itu.
Mungkin dari kesadaran bahwa setiap langkah yang ia ambil di koridor ini adalah langkah yang tidak pernah diambil oleh siapa pun selain dirinya.
Sarah berhenti di depan pintu kamar Dimas. Tangannya terulur, menyentuh permukaan kayu jati yang sudah menggelap karena usia.
Di bengkel, ia terbiasa menyentuh benda-benda yang rusak, benda-benda yang membutuhkan perbaikannya. Tapi pintu ini bukan benda yang rusak.
Pintu ini adalah batas antara dua dunia. Dunia luar yang terus bergerak, dan dunia di dalam yang telah berhenti pada satu titik waktu dan menolak untuk melanjutkan perjalanannya.
Setiap malam, ia berdiri di sini selama beberapa detik, merasakan dinginnya kayu di bawah telapak tangannya, sebelum akhirnya memutar kenop dan masuk.
Ritual kecil yang tidak pernah ia lewatkan. Ritual yang telah menjadi begitu melekat dalam hidupnya sehingga ia tidak lagi bisa membayangkan malam tanpa kehadirannya.
Kenop pintu berputar dengan suara klik yang pelan. Sarah mendorongnya, dan pintu itu terbuka dengan gerakan yang lambat, hampir enggan, seolah engsel-engselnya juga memahami bahwa tidak seharusnya ruangan ini diganggu.
Bau yang menyambutnya adalah bau yang sama setiap malam: campuran debu, kayu tua, dan sesuatu yang lebih samar, sesuatu yang dulu mungkin adalah aroma tubuh Dimas, aroma keringat dan sabun murah dan minyak mesin yang selalu menempel di bajunya.
Sekarang, bau itu telah memudar, digantikan oleh bau netral ruangan yang terlalu lama tidak dihuni. Tapi Sarah masih bisa menciumnya. Atau setidaknya, ia masih bisa membayangkan bahwa ia bisa menciumnya.
Tangannya meraba dinding, mencari sakelar. Lampu redup di sudut ruangan menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, cukup untuk melihat, tidak cukup untuk mengusir bayangan-bayangan yang berkumpul di sudut-sudut ruangan.
Sarah melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tetap terbuka sedikit, seperti biasa. Ia tidak pernah menutupnya rapat-rapat ketika berada di dalam. Entah kenapa.
Mungkin agar ia bisa mendengar jika seseorang memanggilnya dari bawah. Mungkin agar ia tidak merasa sepenuhnya terperangkap di dalam kenangannya sendiri.
Kamar itu persis sama. Persis sama seperti delapan tahun lalu, ketika ia terakhir kali masuk ke sini sebelum semuanya berubah.
Buku-buku Dimas masih tersusun di rak kayu di samping jendela, punggung-punggungnya yang lusuh menghadap ke luar, judul-judulnya masih bisa dibaca jika ia mendekat.
Buku teks teknik mesin, buku-buku populer tentang mekanika, beberapa novel fiksi ilmiah dengan sampul yang sudah mengelupas.
Sarah ingat bagaimana Dimas selalu membaca dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal, seolah otaknya adalah mesin yang terus lapar akan informasi baru.
“Kalau aku berhenti belajar, Kak,” katanya dulu,
“aku takut nanti otakku mulai berkarat.” Sarah tersenyum kecil mengingatnya.
Senyum yang muncul dan menghilang begitu cepat sehingga hampir tidak terdaftar sebagai ekspresi.
Di atas meja belajar, jam meja itu masih berdiri. Sebuah jam meja tua dengan casing kayu dan permukaan kaca yang sedikit buram, warisan dari kakek mereka yang entah bagaimana berakhir di kamar Dimas.
Jarum-jarumnya menunjuk ke posisi yang sama setiap malam, setiap minggu, setiap tahun: pukul tiga lewat tujuh belas menit.
Sarah tidak pernah tahu apakah jam itu berhenti tepat pada momen kematian Dimas, atau apakah baterainya memang kebetulan mati di waktu itu. Tapi dalam pikirannya, kedua hal itu telah menjadi satu.
Waktu kematian adiknya dan waktu kematian jam itu adalah hal yang sama, terukir dalam angka-angka yang tidak akan pernah berubah. Ia memandangi jam itu sekarang, dan seperti biasa, ia tidak menyentuhnya.
Ia tidak akan pernah menyentuhnya. Memperbaiki jam itu akan terasa seperti menghapus sesuatu yang penting, seperti menghapus bukti bahwa waktu pernah berhenti di sini.
Jaket denim itu masih tergantung di belakang pintu. Sarah melangkah mendekatinya, jari-jarinya menyentuh kain yang sudah lama kehilangan kehangatannya.
Dulu, jaket ini selalu terasa hangat ketika Dimas baru pulang dan menggantungkannya, masih menyimpan panas tubuhnya. Sekarang, kain itu dingin. Dingin seperti segala sesuatu di ruangan ini.
Sarah meremas ujung lengan jaket itu pelan, merasakan teksturnya yang kasar, dan membiarkan dirinya mengingat bagaimana Dimas terlihat ketika mengenakannya.
Rambut hitam yang selalu berantakan, senyum yang selalu muncul terlalu cepat, tangan yang selalu penuh dengan bekas oli karena ia tidak pernah bisa diam dan selalu membongkar sesuatu.
“Soalnya kalau nggak, nanti aku kepikiran seminggu,” katanya setiap kali ia menemukan sesuatu yang tidak berfungsi dan harus segera mencari tahu kenapa.
Kalimat yang selalu membuat Sarah menggelengkan kepala, setengah kesal, setengah bangga.
Ia mengatur ulang beberapa buku yang sebenarnya sudah rapi. Ini bagian dari ritualnya. Menyentuh benda-benda ini, menggesernya sedikit, lalu mengembalikannya ke posisi semula.
Seolah-olah dengan melakukannya, ia membuktikan bahwa seseorang masih ada di sini, bahwa kamar ini bukanlah museum yang hanya dikunjungi oleh hantu.
Bahwa ada kehidupan yang masih berlangsung di dalamnya, meskipun kehidupan itu hanyalah ilusi yang ia ciptakan sendiri. Sarah tahu bahwa tidak ada yang berubah di kamar ini.
Tidak ada yang akan berubah. Tapi setiap malam, ia tetap datang, tetap menyentuh, tetap mengatur ulang, karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjaga agar dunia tidak sepenuhnya bergerak maju tanpa Dimas di dalamnya.
Di luar jendela, Yogyakarta terus hidup. Sarah bisa mendengar suara samar kendaraan di kejauhan, suara orang-orang yang masih terjaga di jam segini, suara kehidupan yang terus berdetak seperti jam-jam di bengkelnya.
Tapi di dalam kamar ini, semua suara itu teredam, terfilter oleh dinding-dinding tebal dan oleh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar bata dan kayu: oleh keinginan Sarah sendiri untuk tidak mendengarnya.
Ia telah menjadi ahli dalam menciptakan keheningan. Keheningan yang bukan hanya absennya suara, tapi juga absennya perubahan, absennya waktu yang terus berjalan.
Di sini, di dalam kamar ini, waktu tidak berjalan. Waktu berdiri diam, membeku seperti udara di dalam lemari es yang sudah terlalu lama tidak dibuka.
Kontras itu selalu terasa paling nyata di malam-malam seperti ini. Di luar, dunia terus bergerak. Orang-orang tumbuh dewasa, menikah, punya anak, pindah ke kota lain, memulai hidup baru.
Pohon-pohon di halaman rumah menggugurkan daunnya dan menumbuhkan yang baru.
Bahkan rumah joglo ini sendiri, dengan segala usianya, terus mengalami perubahan kecil: cat yang mengelupas, genteng yang perlu diganti, kayu yang melengkung karena lembab.
Tapi di dalam kamar ini, tidak ada yang berubah. Semuanya tetap seperti dulu.
