Bab 4 -Remaja dan Jam Saku

Ia menatapnya lama sekali, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini ia anggap pasti.

“Penting,” kata Sarah akhirnya, dan suaranya hampir seperti bisikan.
“Jam ini… penting buat saya.”

Ia berhenti. Kata-kata itu terasa hampa di mulutnya. Ia ingin menjelaskan lebih banyak.

Ia ingin mengatakan bahwa jam ini milik adiknya, bahwa adiknya sudah meninggal delapan tahun yang lalu, bahwa jam ini berhenti pada hari yang sama ketika adiknya pergi dan tidak pernah kembali.

Tapi entah mengapa, kata-kata itu tidak mau keluar. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan mereka, yang tidak mau membiarkan mereka lepas ke udara dan menjadi nyata.

Raka mengangguk pelan. Ia tidak memaksa. Ia hanya berdiri di sana, menatap Sarah dengan kesabaran yang aneh untuk seorang remaja berusia tujuh belas tahun.

Seolah ia mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah ia tahu bahwa kadang-kadang, diam adalah satu-satunya cara untuk mengatakan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.

Pak Hadi, yang selama ini duduk di kursi dekat pintu dan tidak mengatakan apa-apa, tiba-tiba berdehem pelan.

“Mbak Sarah,” katanya, suaranya rendah dan tenang seperti biasa,
“radio saya tidak perlu buru-buru. Kalau Mbak Sarah ada urusan lain…”

Sarah menggeleng cepat.
“Tidak, Pak. Tidak apa-apa. Radio Bapak tetap saya kerjakan.”

Ia mengambil radio itu lagi, tangannya bergerak otomatis mencari sambungan yang longgar.

Tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya masih di dua jam saku yang tergeletak di meja, dua benda identik yang seharusnya tidak mungkin ada di tempat yang sama.

Dan di Raka, yang masih berdiri di dekat meja kerja, menatapnya dengan mata yang tenang dan penuh pertanyaan yang tidak diucapkan.

“Saya akan coba perbaiki jam kamu,” kata Sarah akhirnya, tanpa menatap Raka.
“Tapi saya tidak bisa janji apa-apa. Jam seperti ini… kadang susah diperbaiki.”

“Saya ngerti, Kak,” kata Raka.
“Saya bisa nunggu.”

Sarah mengangguk. Ia mengambil jam saku Raka dari meja dan meletakkannya di samping jam saku Dimas. Dua jam yang identik, bersebelahan, sama-sama mati.

Dan untuk sesaat, Sarah hampir merasa bahwa kedua jam itu sedang menatapnya. Dua benda mati yang entah bagaimana caranya telah menjadi saksi dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kerusakan mekanis.

“Saya kabari kalau sudah ada perkembangan,” kata Sarah.

Raka mengangguk.
“Baik, Kak. Saya datang lagi beberapa hari ke depan.”

Ia berbalik, berjalan ke arah pintu, dan Sarah memperhatikan setiap langkahnya.

Cara Raka berjalan, cara ia menunduk sedikit ketika melewati ambang pintu, cara ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan dan hati-hati. Semua gerakan itu familiar.

Semua gerakan itu mengingatkan Sarah pada sesuatu yang tidak bisa ia tempatkan.

Ketika pintu akhirnya tertutup dan Raka menghilang di balik kaca buram, Sarah masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masih memegang radio Pak Hadi.

Tapi pikirannya sudah pergi jauh, ke tempat yang selama delapan tahun terakhir tidak pernah ia kunjungi. Ke pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak pernah ia beranikan diri untuk menanyakan.

Darimana Raka mendapatkan jam itu?
Dan kalau jam saku Dimas masih ada di kamar – kalau jam itu masih di dalam laci meja belajar, di antara buku-buku catatan dan foto-foto lama – lalu jam apa yang baru saja Raka bawa ke bengkelnya?

Pak Hadi berdehem lagi.
“Mbak Sarah,” katanya pelan,
“Mbak Sarah baik-baik saja?”

Sarah menatap lelaki tua itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Karena ia tidak yakin apakah ia baik-baik saja.

Ia tidak yakin apakah ia pernah baik-baik saja selama delapan tahun terakhir. Dan yang lebih menakutkan, ia tidak yakin apakah ia ingin tahu jawabannya.

“Saya baik, Pak,” katanya akhirnya, dan kata-kata itu keluar begitu saja, otomatis, seperti jawaban yang sudah dilatih bertahun-tahun.
“Saya hanya… perlu periksa sesuatu.”

Ia meletakkan radio Pak Hadi di meja. Tangannya bergerak ke arah kotak kayu kecil tempat ia menyimpan jam saku Dimas. Tapi sebelum tangannya mencapai kotak itu, ia berhenti.

Karena untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah Wulandari merasa takut. Bukan takut pada sesuatu yang ada di luar sana. Bukan takut pada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Tapi takut pada apa yang mungkin ia temukan ketika ia akhirnya membuka pintu kamar Dimas dan memeriksa apakah jam saku itu masih ada di tempatnya.

Jam dinding di atas meja kerja menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit. Detiknya terus bergerak, seperti biasa, seperti selalu, tidak peduli pada apa pun yang terjadi di bawahnya.

Latest Novel ionicons-v5-c