Bab 5 – Debu di Atas Rak

Sore itu hujan turun lebih awal dari biasanya. Air mengalir di sepanjang talang bengkel, menciptakan irama yang tidak sinkron dengan bunyi tiga puluh dua jam di dinding.

Sarah duduk di meja kerjanya, kedua siku menumpu pada permukaan kayu jati yang telah menyerap minyak dan keringat selama dua belas tahun. Di hadapannya, dua jam saku terbaring berdampingan.

Satu milik Dimas, yang selama delapan tahun ini tidak pernah meninggalkan kotak kayunya.

Satu lagi milik Raka, yang baru tiga hari berada di tangannya dan sudah membuat seluruh fondasi hidupnya retak seperti kaca yang mulai merambatkan garis-garis patah dari satu titik tekanan.

Ia mengambil jam saku Raka terlebih dahulu. Casing perak itu terasa dingin di ujung jarinya, bukan dingin yang berasal dari logam, melainkan dingin karena benda itu belum pernah benar-benar hangat dalam genggamannya.

Sarah membalikkan jam itu, dan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip pelan, ukiran bintang lima sudut di bagian belakangnya tampak seperti sebuah konfirmasi yang tidak ia butuhkan.

Ia sudah tahu. Sejak pertama kali Raka meletakkan jam itu di mejanya tiga hari lalu, ia sudah tahu bahwa benda ini bukan sekadar mirip. Benda ini adalah salinan dari sesuatu yang seharusnya tidak memiliki salinan.

Tangannya meraih obeng kecil dari rak di atas meja. Gerakannya otomatis, seperti seseorang yang telah melakukan hal yang sama ribuan kali sebelumnya.

Ujung obeng masuk ke celah casing, dan dengan tekanan ringan yang nyaris tidak terasa, penutup belakang jam itu terbuka.

Mekanisme internalnya terbaring di hadapannya, sebuah kota kecil yang terdiri dari gir, pegas, dan tuas-tuas kuningan yang telah lama berhenti bergerak.

Sarah mengeluarkan kaca pembesar dari lacinya. Ia mendekatkan matanya ke lensa, dan dunia di bawahnya tiba-tiba membesar. Setiap komponen tampak jelas, setiap goresan pada logam menjadi lanskap tersendiri.

Ia mulai menelusuri mekanisme itu dengan ujung pinset, menyentuh satu per satu gir yang membeku dalam posisinya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit.

Waktu yang sama persis dengan jam saku Dimas. Waktu yang sama persis dengan hari kematian adiknya delapan tahun lalu.

Tangannya berhenti. Bukan karena ia menemukan sesuatu yang rusak. Bukan karena ada komponen yang patah atau pegas yang aus.

Tangannya berhenti karena tiba-tiba ia teringat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mekanisme jam. Ia teringat kebiasaan Dimas yang selalu menyimpan obeng kecil di saku jaket denimnya.

Bukan obeng besar, bukan toolkit lengkap. Hanya satu obeng kecil dengan gagang kayu yang sudah terkikis, yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.

“Soalnya kalau nggak,” Dimas pernah berkata sambil menyelipkan obeng itu ke sakunya,
“nanti aku kepikiran seminggu.”

Kalimat itu melintas begitu saja di kepalanya, tidak diminta, tidak diundang. Sarah tidak sedang memikirkan Dimas. Ia sedang bekerja. Ia sedang memeriksa jam saku yang dibawa oleh seorang remaja asing ke bengkelnya.

Tapi kalimat itu datang, lengkap dengan suara Dimas yang cepat dan santai, lengkap dengan cara adiknya menyelipkan rambut yang jatuh ke dahinya sebelum melanjutkan bicara.

Dan tiba-tiba ruangan itu tidak lagi hanya berisi tiga puluh dua jam yang berdetak.

Ruangan itu berisi suara Dimas, gerakan Dimas, kebiasaan-kebiasaan kecil Dimas yang selama delapan tahun ini ia kira telah ia kubur bersama kamar yang tidak pernah ia buka.

Sarah meletakkan pinsetnya. Ia menegakkan tubuhnya, melepas kaca pembesar dari matanya, dan menghela napas panjang. Di luar, hujan masih turun.

Di dalam, ketiga puluh dua jam di dinding terus bergerak, tidak peduli pada apa pun yang terjadi di bawahnya.

Detik-detik itu tidak pernah berhenti, tidak pernah menunggu, tidak pernah memberi ruang bagi seseorang untuk mengejar apa yang telah berlalu.

Dan di antara detik-detik itu, Sarah duduk dengan dua jam saku mati di hadapannya, dua benda yang sama-sama telah kehilangan kemampuan untuk mengukur waktu.

Ia mengalihkan pandangannya ke jam saku milik Dimas. Jam itu masih berada di kotak kayunya, masih dengan casing yang tidak pernah ia tutup kembali sejak terakhir kali ia mencoba memperbaikinya delapan tahun lalu.

Ia mengambilnya, merasakan berat yang sama, melihat ukiran bintang lima sudut yang sama, menyentuh goresan kecil di sisi casing yang ia buat sendiri dengan obengnya bertahun-tahun silam.

Goresan itu adalah kecelakaan. Tangannya terpeleset saat ia sedang membersihkan casing itu, dan goresan itu tertinggal sebagai tanda yang tidak disengaja.

Tapi sekarang, saat ia melihat goresan yang sama di jam saku Raka, ia menyadari bahwa tidak ada yang tidak disengaja dalam hidup ini.

Setiap goresan, setiap tanda, setiap benda yang ditinggalkan seseorang akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali ke permukaan.

Ia membuka mekanisme internal jam saku Dimas. Sama seperti jam saku Raka, gir-gir di dalamnya membeku, jarum-jarumnya berhenti pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit.

Sama seperti jam saku Raka, tidak ada komponen yang patah, tidak ada pegas yang putus, tidak ada kerusakan yang bisa ia identifikasi dengan mata telanjang maupun dengan kaca pembesar.

Kedua jam itu mati bukan karena sesuatu yang rusak. Kedua jam itu mati karena sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki.

Dan di sanalah letak persoalannya.

Selama dua belas tahun menjalankan bengkel ini, Sarah telah memperbaiki ratusan jam. Jam dinding Junghans dari tahun empat puluhan. Jam meja Becker dengan pegas utama yang patah.

Jam Mauthe dengan pendulum kuningan yang mulai menghitam. Radio tua dengan gagang kayu retak.

Mainan kayu yang diwariskan turun-temurun. Benda-benda yang dibawa orang ke bengkelnya dengan harapan bahwa sesuatu yang telah berhenti bisa dibuat bergerak kembali. Dan ia selalu berhasil. Selalu.

Karena ia percaya bahwa selama seseorang cukup sabar, cukup teliti, dan cukup bersedia untuk duduk berjam-jam di depan mekanisme yang rumit, hampir segala sesuatu bisa dipulihkan.

Tapi tidak jam saku ini. Tidak jam saku yang berhenti pada hari kematian adiknya.

Tidak jam saku yang selama delapan tahun ia simpan di kotak kayu di atas meja kerjanya, menjadi satu-satunya benda di bengkel ini yang tidak pernah ia perbaiki.

Dan sekarang, di hadapannya, terbaring jam saku kedua yang identik, yang juga mati, yang juga berhenti pada waktu yang sama, yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan apa pun.

Seolah-olah semesta sedang mengirimkan pesan yang tidak bisa ia abaikan: bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak dirancang untuk diperbaiki.

Bahwa ada kehilangan yang tidak memiliki solusi. Bahwa ada waktu yang, begitu berhenti, tidak akan pernah berdetak lagi, tidak peduli seberapa keras seseorang mencoba memutarnya kembali.

Sarah menutup casing jam saku Raka. Ia melakukannya dengan hati-hati, dengan gerakan yang persis sama seperti saat ia membukanya. Lalu ia meletakkan jam itu di samping jam saku Dimas.

Dua jam saku perak dengan ukiran bintang lima sudut. Dua jam saku yang mati pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit.

Dua benda yang seharusnya tidak mungkin ada di tempat yang sama pada waktu yang sama, namun di sinilah mereka, berdampingan di meja kerja seorang perempuan yang telah menghabiskan delapan tahun hidupnya mencoba memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

Tangannya bergerak ke arah rak di atas meja kerjanya. Di sana, di antara kotak-kotak komponen dan kaleng-kaleng minyak, debu telah menumpuk dalam lapisan tipis yang nyaris tidak terlihat.

Debu yang berasal dari bertahun-tahun tidak membersihkan.

Debu yang berasal dari keyakinan bahwa selama ia tidak menyentuhnya, selama ia tidak mengusapnya, selama ia membiarkannya menumpuk, maka waktu tidak benar-benar berlalu.

Tapi debu itu ada. Debu itu nyata.

Debu itu adalah bukti bahwa bahkan di dalam ruangan yang ia jaga tetap sama persis seperti delapan tahun lalu, waktu terus bergerak, partikel demi partikel, lapisan demi lapisan, tanpa peduli pada usahanya untuk menghentikannya.

Ia mengambil kain lap dari bawah meja. Kain itu sudah kusam, sudah terlalu sering dicuci, sudah kehilangan sebagian besar seratnya. Tapi masih bisa digunakan. Masih bisa menyerap. Masih bisa membersihkan.

Sarah mulai mengusap rak itu, gerakan melingkar yang pelan dan metodis.

Debu-debu terangkat, beterbangan sejenak di udara sebelum jatuh kembali ke tempat lain, ke permukaan lain, ke sudut-sudut lain yang akan kembali ia bersihkan nanti.

Latest Novel ionicons-v5-c