Bab 6 – Nasi Goreng di Surabaya

Damar tidak langsung menjawab. Ia memandang piringnya. Butiran nasi yang mulai dingin, potongan telur yang mulai mengeras di pinggir. Di luar, suara motor lewat. Di dalam, suara televisi yang tetap menyala tanpa suara.

“Sudah tidak, Bu.”

Rini tidak bereaksi dengan cara yang Damar duga. Tidak ada kejutan, tidak ada pertanyaan lanjutan yang terburu-buru. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menyendok sambal lagi.

“Sudah berapa lama?”

“Tiga minggu.”

“Siapa yang memutuskan?”

“Dia.”

Rini meletakkan sendoknya. Tangannya, yang biasanya selalu bergerak, kini diam di atas meja.

“Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana. Dan Damar tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Karena baik-baik saja adalah frasa yang ia gunakan setiap hari di kantor, setiap kali seseorang bertanya bagaimana progres proyek atau bagaimana akhir pekannya.

Baik-baik saja adalah jawaban otomatis yang tidak memerlukan kejujuran. Tapi di meja makan ini, dengan ibunya yang menatapnya seperti itu, jawaban otomatis itu terasa tidak cukup.

“Aku tidak tahu, Bu.” Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan.

Dan begitu kata-kata itu melayang di udara, Damar menyadari bahwa itu adalah pertama kalinya ia mengatakan sesuatu yang jujur tentang dirinya sendiri dalam waktu yang sangat lama.

Bukan tentang proyek, bukan tentang target, bukan tentang strategi pemasaran atau metrik kinerja. Tentang dirinya.

Tentang fakta bahwa ia tidak tahu apakah ia baik-baik saja, atau apakah ia hanya sudah terlalu terbiasa berpura-pura baik-baik saja sampai ia lupa bagaimana rasanya yang sebenarnya.

Rini memandangnya. Dan di mata itu, Damar melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan kekhawatiran. Bukan kekecewaan. Sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih rentan.

Seolah-olah ibunya sedang melihat bukan hanya anaknya yang berusia dua puluh delapan tahun, duduk di meja makan dengan nasi goreng yang mulai dingin, tetapi juga seseorang yang dulu pernah duduk di meja yang sama, bertahun-tahun lalu, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama dan jawaban-jawaban yang sama tidak memadainya.

“Ibu juga dulu begitu,” kata Rini pelan.
“Waktu sama Bapakmu. Ibu terus bilang ke diri sendiri, ‘Nanti saja dipikirkan. Nanti saja.’ Sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa dipikirkan. Semuanya sudah selesai.”

Damar tidak pernah mendengar ibunya berbicara tentang perceraian itu. Tidak pernah dengan cara seperti ini, dengan suara yang tidak bergetar, dengan kata-kata yang tidak dibungkus kemarahan atau penyesalan.

Hanya sebuah fakta, diletakkan di atas meja di antara piring nasi goreng dan gelas teh hangat. Sesuatu yang sudah terjadi, dan tidak bisa diperbaiki, dan kini hanya menjadi bagian dari sejarah yang mereka berdua bawa masing-masing.

“Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Bu.”

“Lalu kenapa kamu tidak berusaha mempertahankannya?”

“Karena aku tidak bisa.” Damar merasakan sesuatu di tenggorokannya, sesuatu yang keras dan tidak mau bergerak.

“Aku tidak bisa hadir untuk dia. Aku selalu ada di tempat lain. Bahkan ketika aku bersamanya, pikiranku selalu di kantor, di proyek, di rapat berikutnya. Dia butuh seseorang yang benar-benar ada. Dan aku tidak bisa memberikan itu.”

Rini tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lagi, pelan, seperti seseorang yang mengerti lebih banyak daripada yang bisa ia katakan.

Dan di keheningan itu, Damar mendengar suara dari dapur: bunyi keran yang menetes, bunyi kulkas yang bergetar pelan.

Suara-suara yang selalu ada di rumah ini, yang dulu tidak pernah ia sadari karena ia terlalu sibuk menjadi anak yang ingin pergi jauh, yang ingin membuktikan sesuatu, yang ingin menjadi lebih dari sekadar anak pemilik warung makan di ujung gang.

“Kamu tahu,” Rini berkata akhirnya,
“dulu Bapakmu juga begitu. Selalu sibuk. Selalu di kantor. Selalu mikir pekerjaan. Sampai Ibu merasa, Ibu ini cuma orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.”

“Aku tidak tahu.” Damar menatap ibunya.

“Karena Ibu tidak pernah cerita. Ibu pikir, kamu tidak perlu tahu. Kamu masih kecil. Tapi sekarang…” Rini menghela napas, suara yang panjang dan pelan, seperti udara yang keluar dari balon yang bocor.

“Sekarang Ibu lihat kamu, dan Ibu takut kamu jadi seperti Bapakmu.”

Damar tidak mengatakan apa-apa. Ia memandang piringnya lagi. Nasi goreng itu sudah benar-benar dingin sekarang. Butiran nasinya menggumpal, minyaknya mulai membeku di pinggir piring.

Di luar jendela, langit Surabaya sudah berubah menjadi ungu gelap, warna senja yang selalu datang terlalu cepat di kota ini.

Dan di dalam rumah, di meja makan dengan taplak plastik bermotif kotak-kotak merah, Damar duduk berhadapan dengan ibunya, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh delapan tahun hidupnya, ia merasa bahwa mereka berdua sedang melihat hal yang sama.

“Ibu tidak mau kamu berakhir seperti Ibu dan Bapakmu,” lanjut Rini. Suaranya masih pelan, tapi sekarang ada sesuatu yang lebih tegas di dalamnya.
“Tapi Ibu juga tidak mau kamu menyalahkan diri sendiri terus-menerus. Kamu sudah coba. Itu yang penting.”

“Tapi mencoba saja tidak cukup, Bu.”

“Ibu tahu.” Rini mengulurkan tangannya ke seberang meja, menyentuh punggung tangan Damar dengan ujung jarinya. Sentuhan yang ringan, hampir tidak terasa.
“Ibu tahu.”

Damar tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jari-jari ibunya berada di sana, di atas kulitnya, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: perasaan bahwa ia tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi.

Bahwa ibunya sudah mengerti, bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahwa di meja makan sederhana ini, dengan nasi goreng yang sudah dingin dan teh yang sudah tidak lagi hangat, ada sesuatu yang akhirnya bisa ia lepaskan.

Bukan jawaban. Bukan solusi. Hanya pengakuan bahwa ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, dan bahwa tidak tahu pun adalah sebuah kebenaran yang bisa diterima.

Dari ruang tamu, televisi masih menyala tanpa suara. Sinetron itu sudah berganti ke adegan lain: seorang perempuan menangis di depan pintu, seorang lelaki berdiri membelakanginya.

Damar tidak tahu konteksnya. Ia hanya melihat gambar-gambar itu bergerak di layar, tanpa suara, seperti sebuah cerita yang tidak pernah selesai. Seperti hidupnya sendiri.

Seperti semua pertanyaan yang menggantung di udara dan tidak pernah menemukan jawabannya.

“Nasi gorengnya sudah dingin,” kata Rini tiba-tiba, suaranya kembali ke nada praktis yang dikenali Damar.
“Ibu panaskan lagi.”

“Tidak usah, Bu.”

“Kamu harus makan. Kamu kurusan.”

“Nanti saja. Aku masih kenyang.” Damar hampir tersenyum. Hampir.

Rini menatapnya dengan ragu, lalu mengangguk. Ia menarik tangannya kembali, merapikan sendok dan garpu di atas meja.

“Kalau begitu, kamu istirahat dulu. Perjalanan jauh. Besok kita ngobrol lagi.”

Damar bangkit dari kursinya. Ia membawa piringnya ke dapur, meletakkannya di bak cuci piring yang sudah penuh dengan peralatan masak. Di sebelah kompor, sebuah wajan masih mengepulkan asap tipis.

Di atas meja dapur, tumpukan bawang merah dan cabai yang belum dipotong. Semuanya masih sama. Semuanya masih persis seperti yang ia ingat. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba, Damar merasa bahwa mungkin itulah yang ia butuhkan.

Bukan perubahan. Bukan jawaban. Hanya sesuatu yang tetap sama, sesuatu yang tidak bergerak, sesuatu yang bisa ia pegang ketika segala sesuatu yang lain terasa seperti sedang meluncur entah ke mana.

Ia berjalan ke kamar tamu. Menutup pintu pelan. Di atas dipan, tas ranselnya masih tergeletak, belum dibuka. Damar duduk di tepi kasur, melepas sepatunya, dan membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang.

Langit-langit kamar itu berwarna putih dengan noda air di salah satu sudutnya. Noda yang sudah ada di sana sejak ia masih kecil, sejak ia masih percaya bahwa hidup akan menjadi lebih sederhana ketika ia dewasa.

Ternyata tidak. Ternyata hidup hanya menjadi lebih rumit, lebih penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan nasi goreng dan teh hangat.

Tapi setidaknya, malam ini, ia tidak sendirian. Di luar kamar, ia mendengar suara ibunya membereskan meja makan. Bunyi piring yang ditumpuk, bunyi gelas yang diletakkan di rak.

Suara-suara kecil yang entah kenapa terasa lebih nyaring daripada semua notifikasi ponsel yang ia matikan sejak tadi pagi. Damar menutup mata. Ia tidak tidur.

Ia hanya berbaring di sana, mendengarkan suara-suara itu, dan membiarkan dirinya merasa bahwa untuk malam ini saja, ia tidak perlu menjadi apa-apa selain anak yang pulang ke rumah ibunya.

Di dapur, Rini menyalakan kompor lagi. Api kecil, biru, memanaskan wajan yang masih berminyak.

Ia mengambil piring nasi goreng yang tadi ditinggalkan Damar, menuangkannya kembali ke wajan, dan mengaduknya pelan-pelan. Nasi itu akan hangat lagi. Tidak akan seenak tadi, tapi setidaknya masih bisa dimakan.

Dan ketika ia mendengar langkah kaki di belakangnya, ia tidak menoleh. Ia hanya berkata, pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri: “Kamu tidak perlu buru-buru, Damar. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

Damar berdiri di ambang dapur. Ia mendengar kata-kata itu. Ia tidak menjawab.

Tapi ia menyimpannya, di suatu tempat di dalam dirinya yang mungkin akan ia buka lagi nanti, ketika ia sudah siap untuk memikirkan semuanya. Ketika ia sudah tidak lagi menunda pertimbangan yang sebenarnya sudah mendesak.

Latest Novel ionicons-v5-c