Pagi di Denpasar tidak seperti pagi di Jakarta. Damar menyadari itu begitu ia membuka pintu penginapan dan udara laut menyambutnya, tidak membawa bunyi klakson atau deru mesin, hanya desir angin yang bercampur garam.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu, merasakan sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Penginapan itu sederhana. Dinding bercat putih dengan retakan-retakan halus di sudut langit-langit, lantai ubin yang dingin di telapak kaki, dan sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke jalan setapak menuju pantai.
Ia tiba semalam, setelah penerbangan singkat dari Surabaya, dan langsung tertidur tanpa sempat membongkar tas. Kini, pukul enam pagi, ia duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan. Layar menyala.
Notifikasi berderet: email dari kantor, pesan dari grup proyek Delta, pengingat rapat pukul empat belas. Ia membaca satu per satu tanpa membuka, hanya memandang deretan teks yang terus bertambah.
Lalu, dengan gerakan yang lebih tenang dari yang ia duga, ia menekan tombol daya dan menunggu sampai layar itu mati sepenuhnya. Ponsel itu kini hanya seonggok logam dan kaca, tidak lagi menuntut apa pun darinya.
Damar mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. Buku itu masih baru, dibelinya di stasiun sebelum berangkat, dengan sampul kulit sintetis berwarna cokelat tua.
Ia juga membawa pena, sebuah bolpoin murah yang tintanya kadang tersendat. Dua benda itu terasa lebih nyata di tangannya daripada ponsel yang barusan ia matikan.
Ia menyelipkan keduanya ke dalam saku jaket tipis, lalu berjalan keluar. Jalan setapak menuju pantai masih basah oleh embun. Di kiri-kanan, pohon kelapa berdiri miring, daun-daunnya bergesek pelan.
Damar berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru, merasakan pasir mulai masuk ke celah-celah sandalnya. Tidak ada orang lain di jalan ini. Hanya ia, dan suara ombak yang semakin lama semakin keras, seperti sesuatu yang memanggil tanpa kata-kata.
Pantai itu hampir kosong. Seorang nelayan tua sedang menarik jaring di kejauhan, tubuhnya hanya siluet melawan cahaya pagi yang mulai menguning.
Damar memilih tempat di dekat sebuah batu besar yang permukaannya sudah licin oleh lumut kering. Ia duduk, meletakkan buku catatan di atas lutut, dan menatap laut.
Ombak bergulir tanpa henti. Satu datang, pecah, mundur. Satu lagi datang, pecah, mundur. Ritme yang tidak pernah berubah, tidak peduli apa yang terjadi di daratan.
Ia membuka buku catatan itu. Halaman pertama masih kosong, putih, menunggu. Damar menekan ujung pena ke kertas, dan untuk beberapa saat tidak terjadi apa-apa.
Tangannya diam. Pikirannya penuh, tapi kata-katanya tersangkut di suatu tempat di antara otak dan jemari. Ia mengembuskan udara panjang. Lalu, tanpa rencana, ia mulai menulis.
Alina.
Nama itu muncul begitu saja, seperti sesuatu yang selama ini hanya menunggu untuk dituliskan. Damar memandangnya. Nama itu, dalam huruf-huruf kecil yang agak miring karena tangannya belum stabil, terasa asing sekaligus akrab.
Sudah berapa lama sejak terakhir ia menyebut nama itu, bahkan dalam pikirannya sendiri? Tiga minggu? Lebih?
Waktu terasa mengabur sejak malam itu di apartemen, sejak Sari berdiri di depan pintu dengan tas kanvas di bahunya dan mengatakan hal-hal yang tidak bisa Damar sangkal.
Ia melanjutkan menulis.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Mungkin karena aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana memulai sesuatu yang penting. Semua selalu terasa seperti proyek. Seperti sesuatu yang harus diselesaikan, bukan dijalani.
Pena itu bergerak lebih cepat sekarang. Kata-kata mengalir dengan cara yang tidak sepenuhnya ia kendalikan, seperti air yang akhirnya menemukan celah di bendungan.
Aku ingat malam itu. Kamu duduk di sofa, menggambar sesuatu di buku sketsamu, dan aku di meja makan dengan laptop terbuka. Kamu tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu kamu menunggu.
Menunggu aku selesai. Menunggu aku menoleh. Dan aku tidak menoleh. Aku terus mengetik, terus memikirkan presentasi besok pagi, terus menghitung berapa jam lagi sebelum meeting dengan klien.
Kamu ada di ruangan yang sama, tapi aku tidak di sana. Aku tidak pernah benar-benar di sana.
Damar berhenti sejenak. Ia memandang ombak yang terus bergulir, dan untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya mengingat malam itu tanpa membelokkan pikirannya ke hal lain.
Malam ketika Sari akhirnya meletakkan pensilnya, menutup buku sketsa, dan berkata dengan suara yang tidak meninggi, “Aku tidak bisa terus menunggu, Damar. Aku tidak bisa terus menjadi orang yang menunggu.”
Ia menulis lagi.
Aku pikir aku mencintaimu dengan cara yang benar. Aku pikir hadir secara fisik sudah cukup. Aku pikir membalas pesanmu dalam waktu satu jam sudah cukup.
Aku pikir mengingat tanggal-tanggal penting sudah cukup. Tapi ternyata tidak. Ternyata kamu butuh sesuatu yang tidak bisa kuberikan hanya dengan hadir. Kamu butuh aku. Sepenuhnya.
Dan aku tidak tahu di mana aku menyimpan diriku yang sepenuhnya itu. Mungkin di kantor. Mungkin di spreadsheet dan meeting dan presentasi klien. Mungkin aku sudah membaginya begitu rupa sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk kamu.
Tinta pena mulai tersendat. Damar mengguncang-guncangkannya sedikit, lalu melanjutkan.
Aku tidak menyalahkan pekerjaanku. Itu akan terlalu mudah. Pekerjaan hanya sesuatu yang aku gunakan untuk mengisi ruang-ruang kosong yang tidak aku mengerti.
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai merasa bahwa menjadi sibuk adalah sama dengan menjadi berharga. Mungkin sejak kecil.
Mungkin sejak aku melihat ayahku pulang larut malam dan ibuku menunggu dengan makan malam yang sudah dingin, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjadi seperti ayah.
Tapi lihatlah aku sekarang. Aku persis seperti dia. Hanya lebih rapi. Hanya dengan kemeja yang lebih mahal dan alasan yang lebih masuk akal.
Damar menutup matanya. Angin laut menyapu wajahnya, membawa butiran pasir yang menempel di pipi. Ia mendengar suara nelayan itu memanggil seseorang, mungkin temannya, dalam bahasa Bali yang tidak ia mengerti.
Suara itu terdengar jauh, seperti datang dari dunia lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ia membuka mata dan menulis lagi.
Aku di Bali sekarang. Aku mematikan ponselku. Aku duduk di pantai dan menulis surat yang tidak akan pernah kamu baca. Dan aku tidak tahu apakah ini bentuk keberanian atau justru bentuk pengecut yang paling halus.
Mungkin aku hanya ingin mengatakan sesuatu tanpa harus menghadapi konsekuensinya. Mungkin aku hanya ingin jujur tanpa harus terluka. Atau mungkin aku hanya lelah.
Lelah menjadi orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan tapi tidak pernah tahu apa yang harus dirasakan.
Ia berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Pena itu tergantung di udara, dan ia menyadari bahwa jari-jarinya gemetar. Bukan karena dingin.
Pagi Denpasar hangat, matahari sudah mulai naik dan mengubah warna langit dari abu-abu menjadi jingga pucat. Gemetar itu datang dari tempat lain, dari sesuatu yang selama ini ia tahan dan kini mulai bocor di tepi-tepi.
