Hujan sudah berhenti sekitar dua puluh menit yang lalu, meninggalkan lapisan tipis air di aspal yang memantulkan cahaya lampu jalan dengan cara yang membuat semuanya tampak sedikit lebih lunak.
Bima Aditya melajukan motornya di antara kendaraan lain yang juga bergerak pelan, postur jangkungnya sedikit membungkuk di atas stang, kacamata tipis berbingkai logamnya sesekali menangkap kilatan dari lampu depan mobil yang lewat.
Udara masih membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tajam, seperti ozon yang tertinggal setelah petir terakhir. Ia tidak sedang terburu-buru.
Tidak ada yang menunggunya di rumah, dan itu bukan keluhan, hanya fakta yang sudah lama ia terima begitu saja.
Jalan raya Surabaya di sore seperti ini selalu ramai dengan ritme yang bisa ditebak. Deru mesin, klakson yang tidak perlu, lampu rem yang menyala bergantian seperti kunang-kunang merah di senja yang belum sepenuhnya gelap.
Bima sudah melewati rute ini ratusan kali, mungkin ribuan, dan biasanya pikirannya hanya melayang ke hal-hal teknis – deadline proposal, revisi pitch deck, email yang belum dibalas, angka-angka yang perlu disesuaikan di spreadsheet.
Malam ini berbeda. Malam ini pikirannya tidak menuju ke mana pun yang bisa ia beri nama, hanya berputar di sekitar kekosongan yang terasa seperti ruang kosong di antara dua kalimat yang tidak pernah selesai.
Di saku jaketnya, ponsel bergetar dua kali pendek. Bima tidak langsung meraihnya.
Ia membiarkan motor melaju beberapa meter lagi, melewati sebuah angkot yang berhenti mendadak untuk menurunkan penumpang, sebelum akhirnya menepi di depan sebuah toko kelontong yang sudah setengah tutup.
Lampu neon di dalamnya masih menyala, memantulkan warna putih kebiruan ke genangan air di trotoar.
Ia mengeluarkan ponselnya, dan di layar yang sedikit berkabut karena lembap, sebuah notifikasi WhatsApp menampilkan nama yang dikenalnya terlalu baik: Nadine Putri.
Pesan itu singkat, seperti kebanyakan pesan Nadine.
Progres desain udah sampe mana? Klien nanyain revisi.
Bima membaca pesan itu dua kali, bukan karena ia tidak memahaminya, tapi karena ada sesuatu di balik kata-kata itu yang tidak ia temukan.
Nadine selalu menulis dengan cara yang efisien, kalimat-kalimat yang langsung ke intinya tanpa basa-basi, dan biasanya Bima menghargai itu.
Mereka sudah saling kenal cukup lama – tiga tahun, mungkin lebih – dan bekerja bersama dalam beberapa proyek yang membuat mereka terbiasa dengan ritme komunikasi yang bersih dan profesional.
Tapi belakangan ini, setiap kali nama Nadine muncul di layar ponselnya, Bima merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata “profesional”.
Sesuatu yang lebih mirip dengan rasa ingin melanjutkan percakapan setelah pertemuan selesai, atau keinginan untuk mengirim pesan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sama sekali.
Jari-jarinya mulai mengetik balasan. Awalnya hanya satu dua kalimat tentang revisi dan deadline, tapi kemudian tangannya terus bergerak, seolah-olah ada bagian dari dirinya yang sudah lelah menahan diri.
Ia menulis tentang bagaimana minggu ini terasa lebih panjang dari biasanya, tentang rapat-rapat yang membuat kepalanya penuh tapi hatinya kosong, tentang keinginannya untuk sekadar duduk di suatu tempat yang tenang dan berbicara tentang hal-hal yang tidak perlu dicatat dalam notulensi.
Ia menulis tentang Nadine – bukan secara langsung, tidak dengan nama, tapi dengan cara yang cukup jelas bagi siapa pun yang membaca untuk menyadari bahwa kata “kamu” dalam kalimat-kalimat itu bukan sekadar kata ganti orang kedua yang sopan.
Layar ponsel menampilkan blok teks yang panjang, mungkin tiga atau empat paragraf penuh. Bima menatapnya, dan untuk beberapa detik ia hanya diam, ibu jarinya melayang di atas tombol kirim yang berwarna hijau itu.
Di luar, sebuah motor lain lewat dengan knalpot yang meraung, dan suara itu terasa seperti pengingat bahwa dunia di sekitarnya masih bergerak, masih menuntut sesuatu darinya.
Apa yang akan dipikirkan Nadine jika ia membaca semua ini?
Apakah ia akan menganggap Bima terlalu berlebihan, terlalu emosional untuk urusan yang seharusnya hanya tentang pekerjaan?
Atau lebih buruk lagi – apakah ia akan membaca pesan ini dan memahami semuanya, memahami apa yang sebenarnya ingin Bima katakan, lalu memilih untuk tidak membalas dengan cara yang sama?
Ketakutan itu datang tanpa peringatan, seperti biasanya. Bukan ketakutan yang dramatis, bukan sesuatu yang membuat jantung berdebar kencang atau tangan gemetar.
Hanya sebuah kesadaran yang dingin dan tenang bahwa ada kemungkinan – sekecil apa pun – bahwa kata-kata yang baru saja ia tulis akan mengubah sesuatu di antara mereka, dan perubahan itu mungkin bukan ke arah yang ia inginkan.
Bima sudah terlalu sering melihat hubungan yang runtuh karena satu pihak berbicara terlalu jujur di saat yang salah. Ia tidak ingin menjadi orang itu. Tidak dengan Nadine.
Ia menekan tombol hapus. Satu per satu, kalimat-kalimat yang ia susun dengan hati-hati lenyap dari layar, digantikan oleh kekosongan yang sama persis seperti yang ia rasakan sebelumnya.
Prosesnya hanya memakan waktu beberapa detik, tapi setiap detik terasa seperti sebuah keputusan kecil yang semakin memperlebar jarak antara apa yang ingin ia katakan dan apa yang akhirnya ia biarkan terucap.
Ketika layar sudah bersih kembali, Bima mengetik ulang balasannya, kali ini hanya satu baris pendek:
Oke, nanti aku kabari.
Ia mengirimnya tanpa membaca ulang. Tidak perlu. Pesan itu tidak mengandung apa pun yang bisa disalahartikan, tidak membawa risiko, tidak membuka celah bagi penolakan atau harapan yang salah.
Pesan itu adalah versi dirinya yang paling aman, yang paling mudah diterima, dan Bima membencinya karena alasan itu.
Ponsel kembali ke saku jaketnya. Mesin motor masih menyala, bergetar pelan di antara kedua pahanya, dan Bima membiarkan dirinya duduk di sana selama beberapa detik lebih lama dari yang ia butuhkan.
Toko kelontong di depannya akhirnya mematikan lampu neon, dan tiba-tiba trotoar menjadi lebih gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan yang oranye dan redup.
Di kejauhan, ia bisa mendengar suara azan maghrib dari sebuah masjid yang tidak terlihat, suara yang selalu membuatnya merasa sedikit lebih kecil dari biasanya.
Perjalanan pulang dilanjutkan tanpa ia benar-benar memutuskan untuk melanjutkannya. Tangannya menggerakkan stang, kakinya menaikkan persneling, dan motor kembali meluncur ke jalan raya yang masih ramai.
Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia melaju. Sebelumnya, jalan ini hanyalah rute, sekadar garis yang menghubungkan titik A ke titik B tanpa makna apa pun di antaranya.
Sekarang, setiap lampu merah yang memaksanya berhenti terasa seperti jeda yang memberinya waktu untuk memikirkan ulang apa yang baru saja ia lakukan.
Setiap genangan air yang ia lewati memantulkan bukan hanya cahaya, tapi juga bayangan dirinya sendiri yang terpecah-pecah, tidak utuh. Ia memikirkan Nadine.
