Bab 1 – Oke, Nanti Aku Kabari

Rambutnya yang bergelombang sebahu, anting-anting kayu kecil yang selalu ia pakai, senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata.

Semua detail yang Bima tidak pernah secara sadar mencoba mengingatnya, tapi entah bagaimana tetap tersimpan di suatu tempat di kepalanya.

Ia membayangkan Nadine membaca pesan singkatnya tadi, mungkin di kamarnya yang dipenuhi sketsa dan layar monitor yang menyala, dan bertanya-tanya apakah “Oke, nanti aku kabari” adalah kode untuk sesuatu yang lain atau hanya berarti apa adanya.

Bima berharap – dan harapan ini terasa menyakitkan karena ia tahu itu tidak adil – bahwa Nadine entah bagaimana bisa membaca apa yang tidak jadi ia kirimkan.

Bahwa di antara dua kata “oke” dan “nanti”, ada ruang kosong yang cukup besar untuk menampung semua kalimat yang ia hapus, dan Nadine bisa melihatnya tanpa perlu ia tunjukkan.

Tapi itu tidak mungkin. Itu bukan cara dunia bekerja. Orang tidak bisa membaca apa yang tidak pernah ditulis, tidak bisa memahami apa yang tidak pernah diucapkan, dan Bima tahu itu lebih baik dari siapa pun.

Itulah mengapa ia menghapus pesannya tadi. Itulah mengapa ia selalu menghapusnya. Motor melaju melewati sebuah jembatan layang, dan untuk sesaat pemandangan di bawahnya terbuka.

Atap-atap rumah yang berdesakan, pohon-pohon kecil di halaman yang hampir tidak terlihat dalam gelap, lampu-lampu jendela yang menyala satu per satu seiring malam yang semakin turun.

Bima menarik napas panjang, merasakan udara yang masih lembap masuk ke paru-parunya, dan membiarkan pikirannya melayang ke pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Apakah ia akan selamanya menjadi orang yang mengetik lalu menghapus, yang merasakan lalu menyembunyikan, yang ingin berbicara lalu memilih diam?

Apakah Nadine juga merasakan hal yang sama – ketakutan yang sama, keraguan yang sama – atau apakah ia hanya menunggu, berharap Bima akan menjadi orang pertama yang cukup berani untuk memecahkan keheningan di antara mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan jawabannya malam ini. Mungkin tidak akan menemukan jawabannya dalam waktu dekat.

Tapi saat motornya berbelok ke jalan yang lebih kecil, jalan yang menuju ke rumahnya, Bima menyadari sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak hanya memikirkan pekerjaan dalam perjalanan pulang. Ia memikirkan seseorang.

Dan meskipun pemikiran itu dipenuhi oleh penyesalan dan kata-kata yang tak terucap, ada sesuatu di dalamnya yang terasa lebih hidup, lebih nyata, daripada semua spreadsheet dan proposal yang biasanya memenuhi kepalanya.

Rumahnya muncul di ujung jalan, sebuah bangunan sederhana dengan lampu teras yang menyala kuning.

Bima mematikan mesin motor dan mendorongnya ke dalam garasi kecil di samping rumah, suara langkah kakinya bergema pelan di lantai semen yang basah.

Ia melepas helmnya, menggantungkannya di stang, dan berdiri di sana selama beberapa detik, menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada balasan dari Nadine.

Mungkin ia sudah membaca pesannya, mungkin belum. Mungkin ia sedang mengetik sesuatu lalu menghapusnya, sama seperti yang Bima lakukan tadi.

Atau mungkin ia hanya mengangguk kecil, meletakkan ponselnya, dan melanjutkan pekerjaannya tanpa memikirkan apa pun di balik kata-kata “Oke, nanti aku kabari.”

Bima tidak tahu jawabannya. Tapi saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu di belakangnya, dan mendengar suara kulkas yang berdengung pelan di dapur, ia bertekad.

Dengan cara yang masih samar dan belum sepenuhnya ia percayai. Bahwa suatu hari nanti ia akan mengirimkan pesan yang sebenarnya. Bukan malam ini. Mungkin tidak besok.

Tapi suatu hari nanti, sebelum semua kesempatan ini berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa dihapus dengan satu sentuhan jari.

Latest Novel ionicons-v5-c