Angin sore menerpa wajah Bima saat ia melajukan motornya di jalan raya Surabaya yang mulai dipenuhi kendaraan pulang kerja.
Matahari menggantung rendah di ufuk barat, mewarnai aspal basah dengan pantulan jingga yang berpendar-pendar.
Sudah seminggu sejak malam itu di warung Mbok Darmi, dan selama seminggu itu pula ia belum menemukan keberanian untuk menanyakan apa pun kepada Nadine.
Nadine duduk di belakangnya, kedua tangan memegang pinggul jaket Bima dengan ringan.
Bukan pegangan erat seperti seseorang yang takut terjatuh, melainkan sentuhan yang sudah terbiasa, yang tahu persis kapan harus mengencang dan kapan harus melonggar.
Anting-anting kayu kecilnya bergoyang pelan tertiup angin, dan Bima menangkap gerakan itu dari spion samping. Perjalanan pulang bersama seperti ini sudah menjadi semacam ritual di antara mereka.
Setiap kali jadwal pertemuan dengan klien berakhir di waktu yang sama, atau setiap kali Nadine menyelesaikan revisi desain di kantornya dan Bima kebetulan masih ada urusan di sekitar pusat kota, mereka akan berangkat bersama.
Tanpa perlu janji yang eksplisit. Tanpa perlu konfirmasi lewat pesan. Hanya satu kalimat singkat dari Nadine—”Masih di sini?”—dan Bima akan menjawab, “Tunggu lima menit.”
Tapi sore ini berbeda. Sore ini keheningan di antara mereka terasa lebih padat, seolah-olah udara di sekitar motor telah berubah menjadi sesuatu yang bisa disentuh.
Bima merasakannya di tengkuknya, di bahunya yang sedikit menegang, di cara jari-jarinya menggenggam setang lebih erat dari biasanya. Ia tahu Nadine juga merasakannya.
Cara Nadine tidak menyandarkan dagunya di bahu Bima seperti biasa sudah cukup menjadi bukti.
Lampu merah di perempatan pertama memaksa mereka berhenti. Suara mesin motor menderu pelan dalam posisi netral.
Di sekeliling, klakson-klakson bersahutan, pengendara lain saling menyalip dengan gerakan-gerakan yang sudah dihafal oleh siapa pun yang setiap hari melintasi rute ini.
Tapi di atas motor Bima, semua kebisingan itu terasa seperti latar belakang yang tidak relevan.
Bima melirik spion. Wajah Nadine terpantul di sana, setengah tertutup helm, dengan helaian rambut yang keluar dari bawah pelindung dan menari-nari ditiup angin.
Mata Nadine menatap lurus ke depan, tapi bukan dengan fokus yang tajam. Lebih seperti seseorang yang sedang memandangi sesuatu di dalam dirinya sendiri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bima, dan suaranya terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan, terdorong keluar oleh kebutuhan untuk memecah keheningan yang semakin menyesakkan.
Nadine mengangguk pelan.
“Nggak apa-apa. Cuma agak capek.”
Jawaban yang terlalu cepat. Terlalu rapi. Bima mengenali pola itu karena ia sendiri sudah terlalu sering menggunakannya.
Jawaban-jawaban yang dirancang untuk menutup percakapan sebelum pertanyaan berikutnya sempat muncul. Jawaban yang berfungsi seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Lampu berubah hijau. Motor melaju kembali, dan keheningan ikut melaju bersama mereka.
Bima teringat malam di warung Mbok Darmi. Kata-kata Nadine tentang seseorang dari masa lalunya yang tidak pernah ia ajak bicara tentang perasaannya yang sebenarnya.
Kata-kata Pak Suryono tentang kopi yang hanya menjadi alasan. Dan di antara semua itu, ada pertanyaan yang belum sempat Bima tanyakan.
Apakah malam itu Nadine juga sedang membicarakan mereka?
Apakah keheningan yang sekarang menggantung di antara mereka adalah kelanjutan langsung dari percakapan yang tidak pernah selesai itu?
Ia ingin bertanya. Keinginan itu ada di sana, berdenyut di ujung lidahnya, siap untuk diucapkan. Tapi setiap kali ia membuka mulut, sesuatu menahannya. Bukan sesuatu yang bisa ia beri nama.
Lebih seperti sebuah insting yang bekerja lebih cepat dari logika, sebuah alarm di dalam dirinya yang memperingatkan bahwa beberapa pertanyaan lebih baik tetap tidak ditanyakan daripada dijawab dengan cara yang salah.
Motor melintasi sebuah taman kota di sisi kanan jalan. Taman itu sepi, hanya dihuni oleh beberapa bangku kosong dan pohon-pohon yang daunnya mulai menguning.
Di bawah cahaya matahari senja, tempat itu terlihat seperti lukisan yang belum selesai, seperti sebuah adegan yang menunggu seseorang untuk datang dan mengisinya.
Bima memelankan laju motor. Ia memikirkan untuk berhenti. Membawa Nadine duduk di salah satu bangku itu dan akhirnya mengatakan semua yang sudah seminggu ini ia pendam.
Tapi begitu ia melirik spion dan melihat wajah Nadine yang masih terpaku pada pemandangan di luar sana, keraguan itu datang lagi. Bukan keraguan tentang apa yang ingin ia katakan.
Itu sudah jelas. Yang ia ragukan adalah apakah momen ini tepat. Apakah Nadine siap mendengarnya. Apakah ia sendiri siap menghadapi apa pun yang akan terjadi setelah kata-kata itu keluar.
Tangannya menekan tuas gas. Motor melaju kembali ke kecepatan semula. Taman itu berlalu di belakang mereka, menjadi semakin kecil di spion, sampai akhirnya lenyap ditelan tikungan.
Di belakangnya, Nadine bergeser sedikit. Bima merasakan perubahan posisi itu sebelum melihatnya – cara tubuh Nadine yang tiba-tiba lebih dekat, cara pegangan di jaketnya yang sedikit mengencang.
Sebuah gerakan kecil yang hampir tidak terdeteksi, tapi bagi Bima yang sudah tiga tahun mengenal perempuan ini, gerakan sekecil apa pun selalu punya arti.
“Bim,” suara Nadine terdengar pelan, hampir tertelan deru mesin.
“Ya?”
Jeda. Satu detik. Dua detik. Tiga detik yang terasa seperti selamanya.
“Nggak jadi,” kata Nadine akhirnya.
“Lupa.”
Bima tidak menjawab. Ia tahu Nadine tidak lupa. Sama seperti ia tahu bahwa dirinya sendiri tidak pernah benar-benar lupa tentang apa pun yang ingin ia katakan kepada perempuan ini.
Mereka berdua hanya sedang berpura-pura, memainkan permainan yang sama dengan aturan yang sama: jangan mengungkapkan terlalu banyak, jangan membuka diri terlalu lebar, jangan menjadi orang pertama yang mengatakan kebenaran.
Motor terus melaju. Jalan raya Surabaya semakin ramai sekarang, dipenuhi oleh orang-orang yang juga sedang dalam perjalanan pulang, masing-masing membawa keheningan mereka sendiri.
Bima membayangkan semua pengendara lain di sekitarnya.
Apakah mereka juga sedang duduk di samping seseorang yang mereka cintai tapi tidak bisa mereka katakan?
Apakah mereka juga sedang menahan kata-kata di ujung lidah, menunggu momen yang tepat yang entah kapan akan datang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban. Tapi entah kenapa, memikirkannya membuat Bima merasa sedikit lebih ringan.
Seolah-olah keheningan di antara dirinya dan Nadine bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah kondisi yang dialami oleh banyak orang. Sebuah ruang tunggu yang dihuni oleh mereka yang mencintai tapi belum berani mengatakannya.
Nadine menyandarkan dagunya di bahu Bima. Akhirnya. Gerakan itu datang tanpa peringatan, begitu tiba-tiba sehingga Bima nyaris kehilangan keseimbangan.
Tapi begitu ia merasakan berat kepala Nadine di bahunya, sesuatu di dalam dirinya mengendur.
Sesuatu yang sudah tegang sejak seminggu yang lalu, sejak malam itu di warung Mbok Darmi, sejak ia pertama kali menyadari bahwa keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang nyaman.
“Aku suka perjalanan kayak gini,” kata Nadine, suaranya teredam oleh jaket Bima.
“Nggak perlu ngomong apa-apa. Cuma duduk di belakang, lihatin jalan, dan tahu ada yang bawa kita pulang.”
Bima ingin mengatakan sesuatu.
