Ingin mengatakan bahwa ia juga menyukai perjalanan seperti ini, bahwa ia menyukai cara Nadine menyandarkan dagunya di bahunya, bahwa ia menyukai semua momen kecil yang mereka bagi tanpa perlu kata-kata.
Tapi ia tahu jika ia mengatakan itu sekarang, ia akan mengatakan lebih banyak lagi. Dan ia belum siap untuk itu. Atau mungkin ia siap, tapi ia tidak tahu apakah Nadine juga siap.
Jadi ia hanya mengangguk. Sebuah anggukan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh Nadine, tapi cukup untuk membuatnya merasa bahwa ia sudah mengatakan sesuatu.
Motor terus melaju, membelah jalanan Surabaya yang semakin gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan garis-garis cahaya yang memantul di aspal basah.
Di kejauhan, gedung-gedung perkantoran mulai menyalakan lampunya, dan Bima memikirkan semua orang yang masih bekerja di sana, semua spreadsheet yang masih harus diisi, semua revisi desain yang masih harus diselesaikan.
Dunia terus berputar, dan di atas motornya, ia dan Nadine hanya dua titik kecil yang bergerak di antara jutaan titik lainnya.
Tapi entah kenapa, momen ini terasa penting. Bukan karena sesuatu yang besar terjadi. Justru karena tidak ada yang terjadi.
Karena di antara semua kebisingan dan kesibukan dan tuntutan untuk selalu mengatakan sesuatu, mereka berdua menemukan cara untuk hadir tanpa perlu mengisi ruang dengan kata-kata.
Dan mungkin, pikir Bima, itu sudah cukup untuk sekarang.
Mungkin kehadiran adalah bahasa yang paling jujur, dan semua yang ingin ia katakan kepada Nadine sudah ada di sana, di cara ia mengendarai motor dengan hati-hati, di cara ia memastikan bahwa perempuan di belakangnya sampai di rumah dengan selamat, di cara ia tidak pernah meminta lebih dari apa yang Nadine bisa berikan.
Atau mungkin itu hanya alasan yang ia buat untuk dirinya sendiri. Alasan yang rapi dan masuk akal dan membuatnya merasa lebih baik tentang semua kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan.
Bima tidak tahu. Dan ia tidak yakin apakah ia ingin tahu.
Motor berbelok ke jalan yang lebih kecil, meninggalkan hiruk-pikuk jalan raya utama. Di sini, suasananya lebih tenang.
Rumah-rumah dengan lampu teras yang mulai menyala, pohon-pohon yang berjajar di tepi jalan, suara azan magrib yang sayup-sayup terdengar dari masjid terdekat.
Ini adalah rute yang sudah Bima hafal di luar kepala, rute yang akan membawa mereka ke rumah Nadine dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sepuluh menit. Itu saja yang tersisa.
Sepuluh menit sebelum perjalanan ini berakhir, sebelum Nadine turun dari motor dan mengucapkan terima kasih dan menutup pintu rumahnya, sebelum Bima kembali ke apartemennya sendiri dan duduk di depan laptop dan berpura-pura bahwa malam ini sama seperti malam-malam lainnya.
Tangannya mengepal di setang motor. Kali ini bukan karena tegang. Kali ini karena ia menyadari sesuatu: bahwa ia tidak ingin perjalanan ini berakhir.
Bahwa ia ingin terus melaju, melewati semua lampu merah dan semua perempatan, sampai mereka tiba di suatu tempat di mana waktu tidak lagi dihitung dengan menit dan kata-kata tidak lagi perlu ditahan.
Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Perjalanan selalu punya akhir. Dan malam ini, akhir itu semakin dekat.
Mereka berhenti di depan rumah Nadine. Sebuah rumah kecil dengan pagar kayu dan pot-pot tanaman yang mulai layu karena kurang disiram.
Lampu teras menyala, memancarkan cahaya kuning yang hangat. Nadine turun dari motor, melepas helmnya, dan mengibaskan rambutnya yang sedikit kusut.
“Makasih, Bim,” katanya.
“Sama-sama.”
Nadine berdiri di sana, di depan pagar rumahnya, dengan anting-anting kayunya yang masih bergoyang pelan. Ia menatap Bima, dan untuk sesaat Bima merasa bahwa perempuan itu sedang menunggu sesuatu.
Sebuah kalimat. Sebuah pertanyaan. Sebuah pengakuan yang mungkin akan mengubah segalanya.
Tapi kemudian Nadine tersenyum, senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata, seperti biasa, dan berkata, “Sampai ketemu besok?”
“Sampai ketemu besok,” jawab Bima.
Nadine berbalik dan membuka pagar.
Bima menunggu sampai ia mendengar bunyi pintu yang menutup, sampai lampu teras itu berkedip sekali dan kemudian menyala stabil, sampai ia yakin bahwa Nadine sudah berada di dalam dengan selamat.
Baru kemudian ia memutar gas dan melaju pergi. Jalanan di depannya kosong dan gelap, hanya diterangi oleh lampu motornya sendiri.
Tapi di spion, ia masih bisa melihat rumah Nadine, semakin kecil dan semakin jauh, sampai akhirnya lenyap di tikungan.
Dan bersamanya, lenyap pula semua kata-kata yang tidak terucap, semua pertanyaan yang tidak terjawab, semua janji yang masih menunggu untuk ditepati.
Bima menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya. Ia tidak tahu kapan ia akan menemukan keberanian untuk mengatakan semua yang ingin ia katakan.
Ia tidak tahu apakah Nadine juga sedang menunggu hal yang sama.
Tapi ia tahu satu hal: bahwa selama ia masih bisa mengendarai motor ini dan membawa Nadine pulang, selama ia masih bisa merasakan berat kepala perempuan itu di bahunya, selama mereka masih bisa berbagi keheningan yang tidak perlu diisi, maka mungkin belum semuanya terlambat.
Mungkin masih ada waktu. Mungkin masih ada kesempatan lain. Mungkin besok, atau lusa, atau minggu depan, ia akhirnya akan berhenti di taman kota itu dan mengatakan semuanya.
Tapi malam ini, ia hanya akan terus melaju, membiarkan motor membawanya pulang ke apartemennya yang kosong, di mana tidak ada yang menunggunya kecuali laptop dan spreadsheet dan pesan-pesan WhatsApp yang belum dibalas.
Dan saat ia melaju di jalanan Surabaya yang semakin sepi, Bima menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidak lagi memikirkan kata-kata yang tidak terucap.
Ia hanya memikirkan cara Nadine menyandarkan dagunya di bahunya, dan bagaimana gerakan kecil itu terasa seperti jawaban yang tidak perlu diucapkan.

