Bab 6 – Nasi Goreng di Surabaya

Kereta api ekonomi jurusan Jakarta–Surabaya melambat memasuki Stasiun Pasar Turi tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit.

Damar mengangkat tas ranselnya dari rak bagasi, merasakan pegal di punggung bawah setelah delapan jam duduk di kursi yang terlalu tegak.

Udara di luar gerbong terasa lebih berat, lebih lembap, membawa aroma asin dari laut yang tidak terlalu jauh.

Ia turun mengikuti arus penumpang lain, melewati pedagang asongan yang menawarkan air mineral dan pisang goreng, melewati keluarga-keluarga yang saling menyambut dengan pelukan dan tas besar.

Tidak ada yang menyambutnya di sini. Ia sudah memberi tahu ibunya bahwa ia akan datang, tetapi tidak menyebutkan jam pastinya.

Rini pasti sedang sibuk di warung makannya, tangan-tangan kecil yang selalu bergerak itu menyiapkan pesanan pelanggan sore.

Di luar stasiun, Damar menghentikan taksi. Sopirnya seorang lelaki tua dengan kacamata hitam yang terlalu besar untuk wajahnya, dan tanpa diminta ia langsung tahu arah ke daerah Darmo.

“Jalanan macet, Mas. Jam pulang kantor,” katanya sambil menyalakan mesin. Damar hanya mengangguk. Ia memandang keluar jendela, menyaksikan Surabaya yang bergerak lambat di balik kaca.

Deretan ruko dengan cat mengelupas, pohon trembesi yang menjatuhkan daun-daun kecil ke trotoar, papan reklame besar yang mempromosikan apartemen baru dengan slogan tentang hidup modern.

Kota ini selalu terasa seperti tempat yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan, meskipun ia sudah dua tahun menyewa apartemen di Jakarta dan mengisi hari-harinya dengan rapat dan spreadsheet dan proyek-proyek yang tidak pernah selesai tepat waktu.

Rumah ibunya masih sama. Sebuah bangunan satu lantai dengan pagar besi bercat putih yang mulai berkarat di bagian bawah, terletak di ujung gang sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil.

Damar membayar taksi, mengangkat tasnya, dan menekan bel pintu. Bunyi bel itu juga masih sama: nada pendek yang diikuti dengung panjang, seperti suara yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dari dalam rumah terdengar langkah kaki, cepat dan pendek, lalu pintu terbuka.

“Damar.” Rini Sumarni berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih basah di bagian depan. Rambutnya disanggul sederhana, dan ada tetesan keringat di pelipisnya.

Ia menatap Damar selama beberapa detik, seolah-olah memastikan bahwa yang berdiri di depannya benar-benar anaknya, bukan seseorang yang hanya mirip. Lalu ia menarik Damar ke dalam pelukan.

“Kamu kurusan. Kapan terakhir makan?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa perlu jawaban.

Damar membiarkan dirinya dipeluk, merasakan bahu ibunya yang lebih pendek dari ingatannya. Atau mungkin ia yang bertambah tinggi. Ia tidak yakin lagi.

“Baru di kereta, Bu. Tadi ada nasi kotak.”

“Nasi kotak tidak ada gizinya.” Rini melepaskan pelukannya dan berjalan kembali ke dalam rumah, memberi isyarat agar Damar mengikuti.

“Masuk. Ibu baru selesai masak. Kamu pasti lapar.”

Damar masuk. Rumah itu berbau bawang putih yang ditumis dan kecap manis yang mengental di atas wajan panas. Di ruang tamu, sebuah televisi kecil menyala tanpa suara, menayangkan sinetron yang tidak dikenali Damar.

Di atas meja, tumpukan koran bekas dan beberapa lembar bon belanjaan. Tidak ada yang berubah.

Semuanya persis seperti terakhir kali ia pulang, enam bulan lalu, ketika ia masih punya alasan untuk mengatakan bahwa hubungannya dengan Sari baik-baik saja. Ia meletakkan tas di kamar tamu yang dulu adalah kamarnya sendiri.

Dipan kayu dengan seprai bermotif bunga, lemari kecil yang pintunya tidak bisa menutup rapat, dan sebuah meja belajar yang kini dipenuhi tumpukan kardus bekas kiriman bahan pokok warung.

Damar duduk di tepi dipan, membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam kasur yang terlalu empuk. Di Jakarta, kasurnya keras. Ia memilihnya begitu karena katanya lebih baik untuk punggung.

Tapi sekarang ia tidak yakin apakah itu benar, atau apakah ia hanya ingin merasa bahwa ia membuat pilihan-pilihan yang benar.

Dari dapur, suara wajan dan spatula. Rini sedang menggoreng sesuatu.

Damar mengenali suara itu. Bunyi minyak yang mendesis ketika bahan makanan masuk, bunyi spatula yang menggores permukaan wajan, bunyi piring yang diletakkan di atas meja.

Suara-suara yang dulu ia dengar setiap sore sepulang sekolah, ketika hidupnya masih sesederhana PR matematika dan pertandingan sepak bola di lapangan belakang.

Sekarang hidupnya adalah rapat pukul empat belas dan proyek bernama Delta dan pesan singkat yang tidak pernah ia balas tepat waktu.

“Sini, Damar. Makan dulu.”

Damar bangkit dan berjalan ke ruang makan. Meja kecil dengan taplak plastik bermotif kotak-kotak merah. Dua piring nasi goreng, dua gelas teh hangat, dan sepiring kerupuk udang.

“Kamu masih suka nasi goreng Ibu, kan? Dulu setiap pulang sekolah pasti minta.” Rini sudah duduk di salah satu sisi, menyendokkan sambal ke piringnya sendiri.

“Masih, Bu.” Damar duduk di hadapannya. Ia mengambil sendok, mengaduk nasi goreng itu pelan-pelan.

Butiran nasi yang berwarna cokelat karena kecap, potongan telur dadar yang dipotong kasar, irisan cabai yang masih terlihat segar. Ia menyuap satu sendok. Rasanya persis seperti yang ia ingat. Tidak ada yang berubah.

Dan entah kenapa, kenyataan itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dadanya sesak.

“Jadi,” Rini memulai, suaranya ringan, terlalu ringan untuk sebuah pertanyaan yang sudah menunggu di ujung meja,
“kapan kamu akan menikah?”

Damar mengunyah lebih lambat. Ia tahu pertanyaan ini akan datang.

Sejak ia menginjakkan kaki di stasiun, sejak ia melihat nomor telepon ibunya di layar ponsel tiga hari lalu, sejak ia memutuskan untuk pulang karena tidak tahu harus pergi ke mana lagi.

Pertanyaan itu selalu ada di sana, menggantung di udara di antara mereka seperti lampu yang tidak pernah dimatikan. “Belum ada rencana, Bu.”

“Teman-teman Ibu semua sudah menanyakan.” Rini menyendok nasinya sendiri, tidak menatap Damar.

“Bu Hartini, anaknya yang paling kecil saja sudah punya dua anak. Padahal umurnya lebih muda dari kamu. Terus Bu Sri, yang di sebelah warung, anaknya baru lamaran bulan lalu. Mereka semua tanya, ‘Bu Rini, Damar kapan?’ Ibu cuma bisa bilang belum tahu.”

“Aku masih fokus karier, Bu. Di kantor lagi banyak proyek.” Damar meletakkan sendoknya. Ia meneguk teh hangat, merasakan cairan itu mengalir pelan di kerongkongannya.

“Karier itu penting. Tapi kamu tidak bisa selamanya sendiri.”

“Aku tidak sendiri.” Rini akhirnya menatapnya.

Mata itu, mata yang sama yang dulu menatap Damar ketika ia pulang dengan nilai matematika yang jelek, atau ketika ia ketahuan berbohong tentang uang jajan, atau ketika ia pertama kali mengatakan bahwa ia ingin pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan besar.

“Kamu masih sama Sari?” Mata yang selalu tahu lebih banyak daripada yang diucapkan.

Latest Novel ionicons-v5-c