Pagi berikutnya, Sarah menuruni tangga rumah joglo dengan langkah yang lebih berat dari biasanya.
Udara pagi di Kotagede masih membawa sisa dingin malam, dan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kayu tampak lebih redup dari yang ia ingat.
Di bengkel, tiga puluh dua jam dinding sudah mulai bersuara ketika ia mendorong pintu masuk – bunyi mekanis yang saling bertumpuk, masing-masing dengan ritmenya sendiri, menciptakan semacam orkestra yang hanya bisa dipahami oleh telinga yang telah bertahun-tahun hidup di antaranya.
Sarah menyalakan lampu neon di atas meja kerja, dan dengung listrik yang pelan bergabung dengan simfoni detikan yang sudah menunggunya.
Ia menggantungkan tas kainnya di paku dekat pintu, kemudian berjalan ke meja jati warisan keluarga yang telah menjadi pusat hidupnya selama dua belas tahun terakhir.
Di atas meja itu, di antara komponen-komponen jam yang berserakan dan alat-alat yang tertata rapi, tergantung jam saku perak milik Dimas.
Sarah tidak langsung menyentuhnya. Ia membiarkan matanya berhenti sejenak pada benda itu – sebuah kebiasaan yang telah menjadi bagian dari ritual paginya, seperti seseorang yang berhenti di depan foto orang yang telah pergi sebelum melanjutkan harinya.
Jam saku itu masih dalam keadaan yang sama seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti delapan tahun terakhir: diam, dengan jarum-jarum yang menunjuk pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, dan permukaan perak yang mulai kusam di bagian tepinya.
Sarah menghela napas panjang, kemudian duduk di kursi kayunya dan mulai bekerja.
Pagi itu ia memiliki sebuah Junghans Jerman dari tahun empat puluhan yang perlu dibersihkan – sebuah jam dinding dengan ukiran kayu di bingkainya yang dibawa oleh seorang pelanggan dua hari sebelumnya.
Sarah membuka panel belakang jam itu dengan hati-hati, jari-jarinya yang penuh bekas goresan dan noda minyak bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah melakukan pekerjaan ini ribuan kali.
Ia mengeluarkan roda gigi satu per satu, meletakkannya di atas kain beludru yang telah ia siapkan, dan mulai membersihkan setiap komponen dengan sikat kecil dan cairan pembersih.
Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran, dan Sarah memilikinya dalam jumlah yang berlimpah – kesabaran yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, yang telah menjadi semacam benteng pertahanan melawan segala sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun pagi ini, pikirannya tidak sepenuhnya berada di bengkel. Sebagian dari dirinya masih tertinggal di lantai atas, di koridor gelap, di depan pintu yang tertutup dengan suara klik yang pelan. Kamar Dimas.
Ia memikirkannya tanpa sengaja, seperti seseorang yang lidahnya tanpa sadar menyentuh gigi yang sakit.
Gambaran tentang jaket denim yang tergantung di sandaran kursi, tentang buku-buku yang tidak pernah lagi dibaca, tentang jam meja yang selalu menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit – semuanya muncul di kepalanya dalam potongan-potongan yang tidak ia undang.
Sarah menghentikan tangannya sejenak, menyadari bahwa ia telah memegang roda gigi yang sama selama hampir satu menit tanpa melakukan apa pun.
Ia menggelengkan kepala pelan, seolah-olah gerakan itu bisa mengusir pikiran-pikiran yang tidak diinginkan, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Di luar, suara motor dan becak mulai mengisi jalanan Kotagede. Pagi telah berubah menjadi siang, dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela bengkel telah bergeser, menciptakan pola-pola bayangan yang berbeda di lantai kayu.
Sarah menyelesaikan pembersihan Junghans dan mulai memasang kembali komponen-komponennya. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, gerakan tangannya yang berulang-ulang menciptakan semacam meditasi yang menenangkan.
Dalam pekerjaan ini, Sarah menemukan sesuatu yang tidak bisa ia temukan di tempat lain: kepastian.
Sebuah jam yang rusak memiliki masalah yang konkret – roda gigi yang aus, pegas yang patah, poros yang bengkok – dan setiap masalah memiliki solusinya sendiri.
Tidak ada yang abstrak. Tidak ada yang ambigu. Semuanya bisa dipegang, diukur, diperbaiki.
Pukul sebelas lewat dua puluh menit, bel di atas pintu bengkel berdering.
Sarah mendongak dari pekerjaannya, kacamatanya melorot sedikit ke ujung hidung.
Seorang remaja berdiri di ambang pintu, tubuhnya separuh masuk dan separuh masih di luar, seolah-olah ia ragu apakah ia boleh melangkah lebih jauh.
Remaja itu mengenakan seragam sekolah yang kusut – putih abu-abu yang sudah mulai kehilangan kecerahan warnanya – dan jaket tipis yang tampak terlalu usang untuk melindungi pemakainya dari dingin.
Tubuhnya kurus, dengan bahu yang sedikit membungkuk, dan rambutnya yang hitam jatuh tidak teratur di atas dahinya. Di tangannya, ia memegang sesuatu yang kecil, sesuatu yang berkilau di bawah cahaya lampu neon.
“Permisi, Bu,” katanya, suaranya pelan dan sopan.
“Ini bengkel jam, ya?”
Sarah mengangguk, meletakkan obeng kecil yang sedang ia pegang.
“Ya. Ada yang bisa saya bantu?”
Remaja itu melangkah masuk sepenuhnya ke dalam bengkel, dan untuk pertama kalinya Sarah bisa melihat dengan jelas apa yang ada di tangannya.
Sebuah jam saku. Perak. Dengan rantai yang menggantung di antara jari-jarinya. Dan di bagian belakangnya, sebuah ukiran kecil yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang telah menghabiskan delapan tahun menatap benda yang sama.
Jantung Sarah berhenti. Tidak secara harfiah, tentu saja – tetapi untuk sesaat yang sangat singkat, seluruh tubuhnya terasa seperti berhenti bergerak, seperti sebuah jam yang tiba-tiba kehilangan detaknya.
Tangannya yang masih memegang obeng kecil mengejang, dan ia harus secara sadar meletakkan alat itu sebelum jari-jarinya meremukkannya.
Jam saku itu identik. Persis. Sama persis dengan jam saku yang tergantang di meja kerjanya – yang seharusnya masih tergantang di meja kerjanya, yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun selain dirinya selama delapan tahun terakhir.
Sarah melirik ke ara meja jatinya, hanya untuk memastikan. Jam saku Dimas masih di sana, tergantang di tempatnya, dengan permukaan perak yang mulai kusam di bagian tepinya.
Dan kemudian matanya kembali ke jam saku di tang an remaja itu, dan ia melihat ukiran kecil di bagian belakangnya – sebuah ukiran berbentuk bintang dengan lima sudut, yang sama persis dengan ukiran di jam saku adiknya.
“Ini…,” suara Sarah terhenti. Ia harus menelan ludah sebelum bisa melanjutkan.
“Darimana kamu mendapatkan jam ini?”
Remaja itu menatapnya dengan mata yang tenang, terlalu tenang untuk seseorang seusianya.
“Saya menemukannya di tempat barang bekas,” katanya.
“Beberapa hari yang lalu. Saya tertarik dengan mekanisme internalnya. Tapi saya tidak bisa memperbaikinya sendirian.”
Sarah mengulurkan tangannya, dan remaja itu meletakkan jam saku tersebut di telapak tangannya dengan hati-hati, seolah-olah benda itu adalah sesuatu yang berharga dan mudh pecah.
Jari-jari Sarah menutup di sekeliling jam itu, dan ia merasakan beratnya, tekstur peraknya, dingin logam yang sudah tidak asing lagi di kulitnya.
Ia membalik jam itu, dan di bagian belakangnya, ukiran bintang dengan lima sudut itu menatapnya kembali, seakan-akan menantangnya untuk mengingkari apa yang sudah jelas di depan matanya.
Ini adalah jam saku Dimas. Tidak mungkin bukan.
Ukiran itu – Dimas sendiri yang membuatnya, bertahun-tahun yang lalu, dengan pisau kecil dan kesabaran yang hanya dimiliki oleh seseorang yang benar-benar mencintai benda-benda yang ia miliki.
Sarah masih ingat hari itu, ketika adiknya dat ang ke bengkel dengan jam saku yang baru saja ia beli dari pasar loak, dan dengan bangga menunjukan ukiran yang telah ia selesaikan setelah tiga jam bekerja.
“Supaya kalau hilang, orang tahu ini punyaku,” katanya saat itu, tertawa.
Sarah tidak tertawa saat itu. Ia hanya menggelengkan kepala, mengatakan sesuatu tentang bagaimana adiknya selalu membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit dari yang seharusnya.
