Bab 4 -Remaja dan Jam Saku

Dua hari berlalu tanpa kabar dari Raka. Sarah menjalani rutinitasnya seperti biasa.

Menyalakan lampu neon di atas meja kerja pukul enam pagi, menyeka debu dari roda gigi jam Junghans yang masih menunggu perbaikan, mencatat pesanan pelanggan di buku kecil bersampul kulit yang sudah mulai mengelupas di sudut-sudutnya.

Tiga puluh dua jam di dinding bengkel terus berdetak, masing-masing dengan ritmenya sendiri, menciptakan simfoni mekanis yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya musik yang Sarah kenali.

Namun pagi ini tangannya terasa lebih lambat dari biasanya.

Ia beberapa kali salah memasang sekrup kecil pada pelat jam Mauthe yang sedang ia kerjakan, dan ketika ia mencoba mengencangkannya, obeng di tangannya tergelincir, meninggalkan goresan tipis di permukaan kuningan.

Sarah menghela napas panjang, meletakkan obeng, dan menatap goresan itu. Bekas kesalahan yang tidak bisa dihapus. Seperti banyak hal lain dalam hidupnya.

Pikirannya terus kembali pada jam saku yang dibawa Raka dua hari lalu. Pada ukiran bintang lima sudut di bagian belakangnya.

Pada cara jarum jam itu tidak bergerak, sama persis seperti jam saku Dimas yang selama delapan tahun terakhir terbaring di sudut meja kerjanya, menjadi saksi bisu dari satu-satunya kegagalan yang tidak pernah bisa Sarah terima.

Ia melirik ke arah meja kerja. Jam saku Dimas masih di sana, tersembunyi di balik kotak kayu kecil tempat ia menyimpan komponen-komponen cadangan.

Sarah sengaja tidak menyimpannya di laci. Ia ingin benda itu tetap terlihat, tetap hadir, sebagai pengingat bahwa ada sesuatu yang belum selesai. Bahwa selama jam itu masih mati, ia masih memiliki alasan untuk tidak melanjutkan hidup sepenuhnya.

Ketukan di pintu bengkel membuyarkan lamunannya.

Pak Hadi masuk dengan langkah pelan, membawa radio tua yang sama yang pernah ia bawa beberapa minggu lalu.

Kali ini gagang kayunya sudah diperbaiki, tetapi dari cara Pak Hadi meletakkannya di meja dengan hati-hati, Sarah tahu ada masalah lain.

“Suaranya mulai menghilang lagi, Mbak Sarah,” kata Pak Hadi, suaranya rendah dan tenang seperti biasa.
“Kadang muncul, kadang hilang. Seperti orang yang bicara dari jauh.”

Sarah mengangguk, menarik radio itu mendekat. Ia membuka panel belakangnya dan memeriksa sambungan-sambungan solder yang pernah ia perbaiki. Semuanya masih terlihat rapi. Tidak ada yang longgar. Tidak ada yang retak.

“Saya coba periksa dulu, Pak,” katanya, tangannya sudah bergerak mencari titik masalah.

Pak Hadi duduk di kursi tua dekat pintu, kursi yang sama yang selalu ia duduki setiap kali datang ke bengkel. Ia tidak banyak bicara, hanya mengamati Sarah bekerja dengan kesabaran yang sudah menjadi kebiasaannya.

Kadang-kadang Sarah lupa bahwa Pak Hadi masih di sana, sampai akhirnya lelaki itu berdehem pelan atau menggeser posisi duduknya.

Pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit, pintu bengkel terbuka lagi. Raka berdiri di ambang pintu, mengenakan seragam sekolah yang sama persis seperti dua hari lalu.

Kemeja putih yang mulai kusut di bagian lengan, celana abu-abu yang sedikit kebesaran, dan jaket tipis yang warnanya sudah memudar di bagian bahu.

Di tangannya, tidak ada apa-apa. Tidak ada jam saku. Tidak ada benda rusak lain yang perlu diperbaiki. Sarah mengangkat kepala dari radio Pak Hadi. Untuk sesaat, ia tidak yakin apa yang harus ia katakan.

Raka datang tanpa membawa apa pun, dan entah mengapa itu membuat Sarah merasa lebih waspada daripada jika remaja itu datang dengan benda rusak lain di tangannya.

“Masuk,” kata Sarah akhirnya, suaranya lebih pendek dari yang ia maksudkan.

Raka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan pelan, dan berdiri di dekat meja kerja Sarah.

Matanya menatap ke arah meja, ke arah komponen-komponen jam yang berserakan, ke arah radio Pak Hadi yang masih terbuka panel belakangnya.

Tapi Sarah tahu Raka tidak benar-benar melihat benda-benda itu. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang ia cari.

“Jam saku saya, Kak,” kata Raka, suaranya pelan dan sopan seperti biasa.
“Sudah bisa dilihat?”

Pertanyaan itu seharusnya sederhana. Seharusnya biasa saja. Tapi entah mengapa, Sarah merasakan sesuatu yang menegang di dadanya, sebuat ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Ia melirik ke arah meja kerjanya, ke arah kotak kayu keil tempat jam saku Dimas tersimpan. Lalu ia melirik ke Raka.

“Sebentar,” katanya.

Ia berjalan ke meja kerjanya, membuka kotak kayu itu, dan mengeluarkan jam saku Dimas. Jam saku yang sudah delapan tahun tidak pernah berdetak.

Jam saku yang jarumnya berhenti pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, hari yang sama ketika Dimas tidak pernah pulang ke rumah.

Sarah memegang jam itu di tangannya, merasakan beratnya, merasakan dingin logamnya di telapak tangan yang sudah terbiasa dengan minyak dan debu. Ia berbalik menghadap Raka.

“Jam kamu mana?” tanyanya.

Raka mengeluarkan jam saku dari saku jaketnya. Gerakannya pelan, hati-hati, seolah benda itu sesuatu yang berharga. Atau seolah ia tahu bahwa Sarah sedang mengamatinya dengan cara yang tidak biasa.

Sarah mengambil jam saku Raka dari tangan remaja itu. Kini kedua jam itu ada di tangannya. Satu di telapak kiri, satu di telapak kanan. Keduanya identik.

Perak yang mulai kusam di bagian tepi. Ukiran bintang lima sudut di bagian belakang.

Goresan kecil di casing, tepat di bawah engsel penutup, yang Sarah kenali karena ia sendiri yang tidak sengaja membuatnya bertahun-tahun lalu ketika mencoba membuka jam itu dengan obeng yang terlalu tajam.

Sarah menatap kedua jam itu lama sekali. Detak jam di dinding bengkel terasa semakin keras, atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Tiga puluh dua jam, masing-masing dengan ritmenya sendiri, dan di tengah semua bunyi mekanis itu, Sarah merasa sunyi yang aneh. Sunyi yang tidak berasal dari ketiadaan suara, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam.

“Ini jam yang sama,” kata Sarah, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
“Ini jam yang sama persis.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Sarah dengan mata yang tenang tapi penuh rasa ingin tahu. Mata yang mengingatkan Sarah pada seseorang yang sudah lama tidak ia lihat.

Seseorang yang dulu juga menatapnya dengan cara yang sama setiap kali Sarah mencoba menjelaskan sesuatu yang rumit.

Sarah mengangkat kepala, menatap Raka langsung.
“Kamu bilang kamu nemuin jam ini di Pasar Beringharjo.”

“Iya, Kak.”

“Di kios mana?”

Raka mengangkat bahu pelan. “Kios barang bekas di lantai bawah. Yang dekat tangga. Saya tidak ingat namanya.”

Sarah merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya. Bukan dingin yang berasal dari udara atau dari logam jam di tangannya.

Dingin yang berasal dari dalam dirinya sendiri, dari tempat yang selama delapan tahun terakhir tidak pernah ia sentuh.

“Kapan kamu nemuinnya?”

“Beberapa minggu yang lalu, Kak. Mungkin tiga minggu.”

Sarah menatap jam saku di tangan kirinya. Jam saku yang dibawa Raka. Jam saku yang seharusnya tidak mungkin ada di sini, di bengkelnya, di tangan seorang remaja yang tidak pernah ia kenal.

Karena jam saku yang identik dengan ini. Jam saku yang sama persis dengan ini, sampai ke goresan kecil di casing belakangnya, masih tersimpan di kamar Dimas.

Di dalam laci meja belajar. Di antara buku-buku catatan kuliah dan foto-foto lama yang tidak pernah lagi disentuh siapa pun.

Sarah tahu itu pasti. Ia telah memasuki kamar Dimas setiap malam selama delapan tahun. Ia telah menyentuh setiap benda di dalamnya.

Ia telah mengatur ulang barang-barang itu, membersihkannya dari debu, memastikan bahwa tidak ada yang berubah.

Dan jam saku Dimas – jam saku yang asli, jam saku yang berhenti pada hari kematiannya – masih ada di sana. Masih di dalam laci meja belajarnya. Masih mati.

Atau setidaknya, itulah yang selama ini Sarah percaya.

Ia menatap Raka lagi, dan kali ini ada sesuatu yang berubah dalam cara ia memandang remaja itu. Bukan lagi rasa ingin tahu yang samar. Bukan lagi kehati-hatian yang biasa ia tunjukkan pada pelanggan baru.

Kali ini ada ketakutan di matanya. Ketakutan yang pelan, yang hampir tidak terlihat, tapi nyata.

“Kamu yakin nemunya di Pasar Beringharjo?” tanya Sarah, dan kali ini suaranya lebih pelan, lebih hati-hati, seolah ia takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Raka.

Raka menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Sarah melihat sesuatu yang lain di mata remaja itu. Sesuatu yang bukan sekadar rasa ingin tahu.

Sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seolah Raka tahu persis apa yang sedang Sarah pikirkan dan memilih untuk tidak mengatakannya.

“Di tempat barang bekas, Kak,” kata Raka akhirnya, suaranya tetap pelan dan sopan.
“Kenapa? Apa itu penting?”

Pertanyaan itu menusuk sesuatu di dalam diri Sarah. Sesuatu yang selama delapan tahun terakhir tidak pernah ia izinkan untuk muncul ke permukaan.

Pertanyaan sederhana dari seorang remaja yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia tanyakan. Atau mungkin ia tahu.

Mungkin itulah sebabnya ia bertanya dengan cara itu, dengan nada yang begitu tenang, seolah ia sedang mengetuk pintu yang sudah lama tidak dibuka dan menunggu dengan sabar sampai seseorang akhirnya keluar.

Sarah meletakkan kedua jam saku itu di meja. Satu di samping yang lain. Dua benda yang identik, dua benda yang seharusnya tidak mungkin ada di tempat yang sama pada waktu yang sama.

Latest Novel ionicons-v5-c