Bab 1 – Detak di Tengah Sunyi

Pagi di bengkel selalu dimulai dengan suara.

Sarah Wulandari membuka pintu kayu bengkelnya tepat pukul enam, seperti yang ia lakukan setiap hari selama dua belas tahun terakhir.

Udara pagi Kotagede yang masih lembap masuk bersamanya, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam. Tapi begitu pintu tertutup di belakangnya, dunia luar lenyap. Yang tersisa hanyalah detak.

Puluhan jam dinding yang tergantung di kedua sisi ruangan menciptakan simfoni mekanis yang tidak pernah berhenti, masing-masing dengan ritmenya sendiri, namun entah bagaimana semuanya terdengar selaras.

Sarah menarik napas panjang dan membiarkan suara itu meresap ke dalam dirinya, seperti seorang pemain biola yang mendengarkan orkestra sebelum mulai memainkan bagiannya.

Ia menyalakan lampu neon di atas meja kerja.

Cahaya putihnya membanjiri permukaan kayu jati yang sudah aus di bagian tengah, tempat generasi demi generasi pengrajin jam di keluarganya meletakkan siku dan pergelangan tangan mereka.

Kakeknya dulu bekerja di meja yang sama. Ayahnya juga.

Dan sekarang Sarah, dengan kacamata bacanya yang bertengger di hidung dan rambut hitam yang diikat rapi di belakang kepala, melanjutkan ritual yang telah berlangsung selama hampir satu abad.

Tangannya bergerak dengan otomatis, mengambil kain mikrofiber dari laci dan membasahinya sedikit dengan cairan pembersih.

Ia mulai dari jam dinding paling kiri, sebuah Junghans Jerman dari tahun empat puluhan dengan ukiran kayu di bingkainya.

Kain itu bergerak melingkar di atas permukaan kaca, menghapus debu yang menumpuk semalam. Sarah tidak pernah menganggap pekerjaan ini membosankan.

Setiap jam memiliki karakternya sendiri, setiap permukaan kaca memiliki lekukan dan sudut yang berbeda, dan tangannya telah menghafal semuanya.

Ia membersihkan dengan gerakan yang hampir seperti belaian, bukan karena jam-jam itu membutuhkan kelembutan, melainkan karena begitulah caranya menghormati benda-benda yang telah bertahan lebih lama daripada manusia yang membuatnya.

Ketika kainnya mencapai jam kedelapan, sebuah Mauthe Jerman dengan pendulum kuningan yang mulai menghitam, Sarah berhenti sejenak. Jarum menitnya bergerak sedikit tersendat.

Ia memiringkan kepala, mengamati, lalu membuka panel kaca depan dan menyentuh roda gigi kecil di dalamnya dengan ujung jari. Basah. Sedikit minyak berlebih dari pelumasan minggu lalu.

Ia mengambil lap kering dan membersihkannya dengan hati-hati, lalu menutup kembali panelnya. Jarum menit itu kini bergerak mulus, dan Sarah mengangguk kecil sebelum melanjutkan ke jam berikutnya.

Begitulah hidupnya. Satu per satu. Setiap kerusakan memiliki solusinya, setiap ketidaksempurnaan memiliki cara untuk dikembalikan ke kondisi semula.

Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran, ketelitian, dan keyakinan bahwa tidak ada mekanisme yang terlalu rumit untuk dipahami.

Di ujung meja kerjanya, di antara kotak perkakas dan kaleng-kaleng kecil berisi sekrup dan pegas pengganti, tergantung sebuah jam saku.

Tali kulitnya sudah aus, permukaan peraknya telah kehilangan kilaunya, dan tutup depannya sedikit penyok di bagian kiri bawah. Jarum-jarumnya diam, menunjuk ke angka sepuluh lewat dua puluh tiga menit.

Sarah tidak perlu melihatnya untuk tahu bahwa jam itu ada di sana. Ia selalu tahu. Seperti seseorang yang tinggal dengan sebuah lukisan di dinding selama bertahun-tahun, ia tidak lagi perlu menoleh untuk merasakan kehadirannya.

Tapi setiap kali pandangannya secara tidak sengaja melintasi meja kerja, setiap kali ia meraih obeng kecil atau pinset dan matanya menangkap kilau perak yang kusam itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang mengencang.

Bukan rasa sakit yang tajam. Lebih seperti sebuah ingatan otot, sebuah refleks yang telah menjadi begitu akrab sehingga tubuhnya tidak lagi bisa membedakannya dari kondisi normal.

Jam saku itu milik Dimas. Adiknya. Satu-satunya benda di bengkel ini yang tidak pernah berhasil ia perbaiki.

Sarah mengambil obeng presisi dan mulai mengerjakan jam meja yang dibawa seorang pelanggan kemarin. Sebuah Becker Jerman dengan pegas utama yang patah.

Ia membongkar mekanismenya dengan gerakan yang efisien dan pasti, jari-jarinya bekerja dengan presisi yang hanya bisa dicapai setelah ribuan jam latihan. Roda gigi kecil berbaris di atas kain felt.

Sekrup-sekrup mikro ditempatkan di wadah magnetik. Dan saat ia bekerja, detak jam di sekelilingnya terus mengalir, suara latar yang konstan seperti napas ruangan itu sendiri.

Tiga puluh dua jam dinding. Masing-masing dengan waktunya sendiri, masing-masing dengan ritmenya sendiri, dan tidak satu pun yang pernah berhenti.

Pukul sembilan lewat seperempat, pintu bengkel terbuka dan seorang laki-laki tua masuk.

Pak Hadi mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika rapi dan peci hitam yang sedikit miring di kepalanya.

Tubuhnya membungkuk sedikit, bukan karena usia, melainkan karena kebiasaan bertahun-tahun mengajar di depan papan tulis yang membuat bahunya selalu condong ke depan.

Di tangannya, ia membawa sebuah radio tua dengan gagang kayu yang sudah retak.

“Selamat pagi, Mbak Sarah,” katanya, suaranya pelan dan penuh jeda, seperti seseorang yang tidak pernah merasa perlu terburu-buru untuk menyelesaikan kalimatnya.

Sarah mendongak dari meja kerjanya.
“Pak Hadi. Pagi.”

Ia tidak tersenyum, tapi nada suaranya turun setengah oktaf, menjadi sedikit lebih hangat. Pak Hadi sudah datang ke bengkel ini sejak sebelum Dimas meninggal.

Dulu ia hanya pelanggan biasa, seorang pensiunan guru yang membawa jam dinding tua atau radio rusak untuk diperbaiki. Tapi setelah kematian Dimas, kunjungannya menjadi lebih sering.

Dan Sarah, yang biasanya tidak suka diganggu saat bekerja, tidak pernah keberatan dengan kehadirannya. Mungkin karena Pak Hadi tidak pernah mencoba mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.

Mungkin karena ia mengerti bahwa beberapa orang lebih suka ditemani dalam diam.

“Radio saya mati lagi,” kata Pak Hadi sambil meletakkan radio itu di atas meja.
“Semalam saya nyalakan, suaranya bagus. Tadi pagi sudah tidak mau bunyi.”

Sarah mengambil radio itu dan memutarnya. Kotak kayunya sudah kusam, tapi masih kokoh. Tombol volumenya longgar sedikit. Ia mencolokkan kabel listrik ke stopkontak dan menekan tombol power.

Tidak ada suara. Tidak ada dengung. Hanya keheningan.

“Ini radio tua,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Pak Hadi.
“Model begini biasanya masalahnya di kapasitor. Atau di sambungan solder yang mulai retak.”

Ia membalik radio itu dan membuka panel belakangnya dengan obeng. Di dalamnya, komponen-komponen elektronik berdebu tersusun rapi di atas papan sirkuit.

Sarah menyentuh salah satu kapasitor dengan ujung jarinya. Masih bagus. Tapi sambungan solder di dekat transformator kecil terlihat mulai mengelupas.

“Ini,” katanya, menunjuk dengan obengnya.
“Sambungannya retak. Kena getaran sedikit, langsung putus kontak. Besok bisa saya solder ulang.”

Pak Hadi mengangguk pelan.
“Tidak apa-apa. Tidak usah buru-buru.”

Ia tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, di seberang meja kerja Sarah, dengan tangan terlipat di depan perutnya.

Matanya menyapu ruangan, melewati jam-jam dinding yang berjejer di dinding, melewati rak-rak berisi komponen dan perkakas, dan berhenti sejenak di meja kerja Sarah.

Tepat di tempat jam saku Dimas tergantung. Sarah tidak perlu mengikuti arah pandangannya untuk tahu apa yang dilihatnya. Tapi Pak Hadi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya berdiri di sana, dan dalam keheningan itu, Sarah merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namakan.

Bukan belas kasihan. Bukan rasa iba. Lebih seperti pengakuan diam-diam bahwa ia melihat, bahwa ia tahu, dan bahwa ia mengerti mengapa beberapa benda tidak pernah disentuh.

“Mbak Sarah baik-baik saja?” tanya Pak Hadi akhirnya.

Latest Novel ionicons-v5-c