Bab 1 – Detak di Tengah Sunyi

Pertanyaan yang sederhana. Tapi Sarah tahu bahwa Pak Hadi tidak pernah menanyakan hal-hal sederhana tanpa alasan.

“Baik,” jawabnya, tangannya sudah kembali membongkar mekanisme jam meja di depannya.
“Banyak kerjaan. Musim hujan begini, jam-jam tua banyak yang mulai lembap. Roda giginya gampang karatan.”

Pak Hadi mengangguk lagi.

“Saya dulu punya jam dinding dari Jerman. Waktu istri saya masih ada, jam itu selalu bunyi tepat waktu. Setelah istri saya meninggal, jam itu ikut berhenti. Saya bawa ke tukang jam, katanya tidak ada yang rusak. Tapi tetap tidak mau jalan.” Ia berhenti sejenak.

“Sampai sekarang saya masih simpan jam itu. Tidak tahu kenapa.”

Sarah menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak dan menatap Pak Hadi. Laki-laki tua itu tidak melihat ke arahnya.

Matanya masih tertuju pada jam-jam di dinding, tapi ada sesuatu dalam cara ia berbicara yang membuat Sarah merasa bahwa kata-kata itu ditujukan langsung kepadanya.

“Mungkin,” kata Sarah pelan,
“jamnya cuma butuh waktu.”

Pak Hadi tersenyum. Senyuman yang kecil dan cepat menghilang, seperti kilatan cahaya yang memantul dari permukaan kaca.

“Mungkin,” katanya.
“Atau mungkin ada benda yang memang tidak perlu diperbaiki. Cuma perlu disimpan.”

Ia mengambil radio tuanya dari meja, meskipun Sarah belum selesai memeriksanya.
“Ini saya tinggal dulu. Besok lusa saya ambil lagi.”

“Besok sudah bisa,” kata Sarah.
“Saya solder ulang sambungannya. Paling lama setengah jam.”

“Tidak usah buru-buru,” ulang Pak Hadi, dan kali ini Sarah mendengar sesuatu dalam nada suaranya yang tidak ada hubungannya dengan radio. “Saya cuma mau mampir. Sudah lama tidak ke sini.”

Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti.
“Mbak Sarah, hati-hati. Jangan terlalu lama di dalam. Udara di luar lebih segar.”

Dan sebelum Sarah bisa menjawab, ia sudah pergi, meninggalkan pintu yang sedikit terbuka dan suara detak jam yang terus mengalir.

Sarah menatap pintu itu selama beberapa detik, lalu kembali ke pekerjaannya. Tapi kata-kata Pak Hadi masih menggantung di udara, seperti nada terakhir dari sebuah lagu yang belum selesai.

Jangan terlalu lama di dalam. Udara di luar lebih segar. Ia menggelengkan kepala sedikit, mencoba mengusir pikiran itu, dan tangannya kembali bergerak di atas mekanisme jam yang setengah terbongkar.

Siang berganti sore. Cahaya yang masuk melalui jendela bengkel berubah dari putih terang menjadi kuning keemasan, lalu menjadi jingga yang panjang dan malas.

Sarah terus bekerja. Ia menyelesaikan perbaikan jam meja Becker, mengganti pegas utama yang patah dengan yang baru, membersihkan setiap roda gigi dengan cairan khusus, dan melumasinya dengan minyak jam yang hampir tidak berbau.

Ketika ia selesai dan jam itu mulai berdetak kembali, jarumnya bergerak dengan mulus, dan Sarah merasakan kepuasan yang tenang.

Kepuasan yang selalu datang setiap kali ia berhasil mengembalikan sesuatu yang rusak ke kondisi semula. Tapi kemudian, seperti yang selalu terjadi, pandangannya jatuh ke ujung meja. Ke jam saku yang diam.

Sudah delapan tahun. Delapan tahun sejak hari itu. Delapan tahun sejak ia menemukan jam itu dalam keadaan rusak di saku jaket Dimas, dengan jarum-jarum yang berhenti tepat di angka sepuluh lewat dua pulu tiga menit.

Delapan tahun sejak ia mencoba memperbaikinya, membongkarnya, memeriksa setiap roda gigi dan pegas dan sekrup, dan tidak menemukan satu pun kerusakan yang bisa dijelaskan.

Jam itu tidak patah. Tidak aus. Tidak ada bagian yang hilang atau longgar atau salah pasang. Semuanya ada di tempatnya, semuanya dalam kondisi sempurna, dan tetap saja jam itu tidak pernah berdetak lagi.

Sarah tidak pernah membuangnya. Tidak pernah menyimpannya di laci atau menaruhnya di kotak bersama barang-barang lain yang sudah tidak bisa diperbaiki.

Ia membiarkannya di sana, di ujung meja kerjanya, tergantung di tiang kecil yang biasa ia gunakan untuk menguji jam saku yang baru selesai direstorasi.

Setiap hari ia melihatnya. Setiap hari ia tahu bahwa jam itu ada di sana. Dan setiap hari, tanpa pernah mengucapkannya dengan keras, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada satu benda di dunia ini yang tidak bisa ia perbaiki.

Satu kegagalan yang ia simpan bukan karena ia tidak bisa melepaskannya, melainkan karena ia memilih untuk tidak melupakannya.

Karena melupakan berarti mengkhianati. Dan Sarah tidak akan mengkhianati adiknya.

Malam tiba. Jam-jam di dinding menunjukkan pukul delapan, dan Sarah tahu sudah waktunya untuk menutup bengkel. Ia membersihkan meja kerjanya, menyimpan perkakas di tempatnya masing-masing, dan mematikan lampu neon.

Ruangan itu kini hanya diterangi oleh lampu kuning kecil di sudut, dan dalam kegelapan yang setengah, jam-jam di dinding terus berdetak. Suara mereka tidak berubah.

Tetap konstan, tetap ritmis, tetap tidak pernah berhenti. Seperti detak jantung. Seperti napas. Seperti waktu itu sendiri yang menolak untuk diam.

Sarah mengunci pintu bengkel dan berjalan menyusuri lorong menuju tangga. Rumah joglo itu sunyi. Dinding-dinding kayunya yang sudah berusia lebih dari seratus tahun menyimpan dinginnya malam dalam serat-seratnya.

Langkah kaki Sarah bergema pelan di atas ubin tanah liat, dan saat ia mencapai anak tangga pertama, ia berhenti.

Lantai atas. Kamar Dimas.

Ia tidak perlu naik ke sana. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada yang memintanya. Tapi setiap malam, selama delapan tahun, kakinya selalu membawanya ke sana.

Seperti sebuah ritual yang telah menjadi begitu otomatis sehingga ia tidak lagi bisa membedakan apakah ia melakukannya karena keinginan atau karena kebiasaan.

Tangannya menyentuh pegangan tangga. Kayunya dingin dan halus, dipoles oleh telapak tangan yang telah menyentuhnya ribuan kali sebelumnya.

Dan Sarah mulai naik. Satu langkah. Dua langkah. Detak jam dari bengkel di lantai bawah semakin pelan, semakin jauh, sampai akhirnya yang tersisa hanyalah keheningan rumah tua yang menunggu di atas.

Latest Novel ionicons-v5-c