Tapi satu hal yang Sarah tahu, dengan kepastian yang tumbuh perlahan di dalam dadanya seperti cahaya pagi yang merambat masuk melalui jendela: sketsa ini adalah sebuah pesan. Dan pesan itu bukan untuk dirinya.
Atau setidaknya, bukan hanya untuk dirinya.
Ia mengangkat kepalanya dan memandang ke sekeliling bengkel. Tiga puluh dua jam di dinding. Jam saku Dimas yang tersimpan di kotak kayu kecil di rak.
Jam saku identik yang dibawa Raka dan kini masih berada di laci meja kerjanya, menunggu untuk diperbaiki atau setidaknya untuk dipahami. Radio tua dengan tulisan tangan Dimas di dalamnya.
Kotak musik yang pernah diperbaiki untuk seorang nenek. Burung kayu bersayap patah yang masih tergeletak di sudut meja.
Semua benda ini adalah bagian dari sebuah narasi yang lebih besar, sebuah cerita tentang Dimas yang tidak pernah Sarah ketahui ketika adiknya masih hidup.
Dan kini, delapan tahun setelah kematiannya, cerita itu mulai terungkap melalui tangan seorang remaja yang entah bagaimana memiliki akses ke bagian-bagian hidup Dimas yang bahkan Sarah sendiri tidak pernah menyentuhnya.
Ia memikirkan Raka.
Tentang bagaimana remaja itu muncul di bengkelnya tiga minggu lalu dengan jam saku yang identik, dan bagaimana sejak saat itu setiap kunjungannya selalu membawa benda baru yang entah bagaimana selalu terhubung dengan Dimas.
Tentang bagaimana Raka berbicara tentang Dimas seolah ia mengenalnya secara personal, seolah ia pernah duduk di sampingnya dan belajar cara memperbaiki radio yang rusak.
Tentang bagaimana tatapan remaja itu selalu tenang, selalu sabar, seolah ia tahu sesuatu yang Sarah tidak tahu dan ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.
Tapi dari mana Raka tahu?
Dari mana ia mendapatkan semua benda ini?
Dan yang lebih penting: mengapa ia membawanya ke sini, ke bengkel Sarah, seolah ia ingin Sarah melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di depan matanya sendiri?
Sarah melipat sketsa itu kembali dengan hati-hati. Ia menyimpannya di dalam laci meja kerjanya, di samping amplop berisi surat Dimas yang ia temukan dua hari lalu.
Dua benda. Dua pesan. Keduanya dari adik yang sama, dan keduanya baru ditemukan setelah delapan tahun.
Seolah Dimas sudah merencanakan ini semua. Seolah ia sudah tahu bahwa suatu hari nanti Sarah akan membutuhkan kata-kata ini, dan ia meninggalkannya di tempat-tempat yang hanya akan ditemukan ketika Sarah sudah siap untuk membacanya.
Tapi siap untuk apa?
Siap untuk melepaskan?
Siap untuk berhenti memperbaiki masa lalu dan mulai menjalani hidupnya sendiri?
Atau siap untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan lebih sulit dari itu semua?
Siap untuk menerima bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal adiknya, dan bahwa selama delapan tahun ia telah menjaga kenangan tentang seseorang yang hanya ada dalam versi parsial.
Seseorang yang memiliki kehidupan lain di luar yang Sarah ketahui, seseorang yang meninggalkan jejak-jejak kecil di dunia ini yang baru sekarang mulai terungkap?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memiliki jawaban. Setidaknya belum. Tapi Sarah merasakan sesuatu yang lain tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang sebelumnya tidak ada di sana.
Sebuah dorongan. Sebuah keinginan untuk mencari tahu. Selama delapan tahun ia telah menjaga kamar Dimas, menyimpan barang-barangnya, mempertahankan setiap jejak keberadaannya seolah itu adalah bentuk cinta yang paling murni.
Tapi sekarang ia mulai bertanya-tanya apakah “perlindungan” yang ia berikan pada kenangan Dimas justru menghalanginya untuk benar-benar memahami adiknya.
Apakah dengan menjaga semuanya tetap sama, ia justru menutup pintu-pintu yang seharusnya ia buka?
Apakah dengan mempertahankan masa lalu, ia justru kehilangan kesempatan untuk melihat masa lalu itu sebagaimana adanya?
Di dinding bengkel, sebuah jam Junghans tua berdentang pelan. Pukul delapan pagi. Sarah menoleh ke arah suara itu, dan untuk sesaat ia hanya memandangi jam tersebut sambil merasakan detak-detaknya yang teratur.
Waktu terus bergerak. Selalu bergerak. Bahkan ketika ia berhenti, bahkan ketika ia memilih untuk tinggal di satu titik yang sama selama delapan tahun, dunia di sekitarnya tidak pernah berhenti berputar.
Dan mungkin, pikirnya sambil memandangi laci tempat ia menyimpan sketsa dan surat Dimas, mungkin sudah waktunya ia mulai bergerak juga.
Ia menutup laci itu pelan. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi kali ini ia tidak mencoba menghentikan getaran itu.
Ia membiarkannya ada di sana, di ujung jarinya, seperti getaran kecil dari mesin jam yang baru saja mulai berdetak lagi setelah bertahun-tahun berhenti.
Lalu ia menyalakan lampu tambahan di atas meja kerjanya, mengambil obeng kecil dari rak perkakas, dan mulai bekerja. Di hadapannya, sebuah jam dinding tua menunggu untuk diperbaiki.
Pegasnya masih utuh. Roda giginya masih bisa berputar. Dan Sarah tahu bahwa jam ini akan berdetak lagi ketika ia selesai memperbaikinya, sama seperti semua jam lain yang pernah ia perbaiki sebelumnya.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kali ini, ketika tangannya bergerak di antara roda gigi dan pegas, ia tidak hanya memikirkan tentang memperbaiki.
Ia juga memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan setelahnya. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Tentang Raka dan benda-benda yang dibawanya.
Tentang sketsa dengan tulisan “untuk yang masih hidup” yang kini tersimpan di lacinya, menunggu untuk dipahami.
Tentang semua hal tentang Dimas yang masih tersembunyi di suatu tempat di luar sana, di luar bengkel ini, di luar kamar yang selama delapan tahun ia jaga, di luar jangkauan ingatannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah Wulandari merasa bahwa ia ingin mencarinya.

