Bab 10 – Pertanyaan yang Tidak Dijawab

Senja hari kelima belas turun di Kotagede dengan cahaya jingga yang menembus celah-celah jendela bengkel.

Sarah Wulandari duduk di meja kerjanya, kedua tangan tergeletak di atas permukaan kayu yang telah menyerap minyak dan keringat selama dua belas tahun.

Di hadapannya, kotak musik tua logam yang dibawa Raka dua hari lalu masih terbuka, roda gigi kecilnya terlepas dari poros, dan burung kayu bersayap patah tergeletak di sampingnya seperti sebuah pertanyaan yang tidak pernah selesai.

Namun tangannya tidak bergerak ke arah benda-benda itu. Tangannya justru berhenti di atas laci kecil di sudut meja, tempat ia menyimpan amplop putih menguning yang telah ia baca berulang kali sejak senja ketiga belas.

Ia menarik laci itu. Amplopnya masih di sana. Tulisan tangan Dimas di bagian depan,

Untuk Mbak Sarah, 

Masih terbaca jelas meskipun tinta birunya telah memudar.

Sarah tidak mengeluarkannya. Ia hanya menyentuh permukaan kertas itu dengan ujung jari, merasakan tekstur seratnya yang kasar, lalu menutup laci kembali.

Detak tiga puluh dua jam di dinding bengkel mengisi keheningan, masing-masing dengan iramanya sendiri, dan di tengah simfoni kecil itu Sarah mendapati dirinya tidak lagi mendengarkan jam.

Ia mendengarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih pelan, lebih dalam, yang berdenyut di balik suara mekanis itu seperti napas yang tertahan.

Dua hari telah berlalu sejak ia membaca tulisan Dimas. Dua hari sejak kata-kata itu memasuki dirinya dan menetap di sana seperti air yang meresap ke dalam tanah.

Mbak Sarah tidak perlu memperbaiki semuanya. Tidak semua yang rusak itu salah Mbak. 

Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, mengulang dirinya sendiri seperti jarum jam yang tersangkut di satu titik.

Dan di antara putaran itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia izinkan masuk sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang Dimas.

Tentang apa yang adiknya lakukan di luar rumah. Tentang siapa saja yang ditemuinya. Tentang mengapa ia tidak pernah tahu.

Sarah mengalihkan pandangannya ke kotak musik di atas meja. Ia memungut roda gigi kecil itu, memeriksanya di bawah cahaya lampu neon, mencari tahu di mana letak kerusakannya.

Gerakan ini familiar. Gerakan yang telah ia lakukan ribuan kali. Namun kali ini tangannya terasa berbeda. Ada sesuatu yang berat di pergelangan tangannya, sesuatu yang membuat setiap gerakan terasa seperti melawan arus.

Ia meletakkan roda gigi itu kembali, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Di luar, suara motor melintas di jalan kecil depan bengkel, dan suara itu memudar dengan cepat, ditelan oleh detak jam yang terus berjalan.

Pintu bengkel terbuka tanpa ketukan.

Sarah menoleh. Raka Wijaya berdiri di ambang pintu, tubuh kurusnya dibingkai oleh cahaya senja yang mulai meredup.

Jaket tipisnya yang usang menggantung longgar di bahunya, dan rambutnya yang sedikit terlalu panjang menutupi sebagian dahinya. Ia tidak membawa apa pun kali ini.

Tidak ada radio tua. Tidak ada kotak musik. Tidak ada mainan kayu. Hanya dirinya sendiri, berdiri di sana dengan kedua tangan di saku jaket, seolah kehadirannya sudah cukup menjadi alasan untuk datang.

“Masuk,” kata Sarah.

Raka melangkah masuk. Ia menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan yang nyaris tidak bersuara, lalu berjalan ke arah meja kerja. Sarah memperhatikan setiap langkahnya.

Cara remaja itu bergerak di antara jam-jam dinding. Cara matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak di burung kayu bersayap patah, lalu beralih ke kotak musik yang masih terbuka.

Ada sesuatu dalam tatapan Raka yang tidak bisa Sarah tempatkan. Bukan rasa ingin tahu. Bukan pula kekaguman. Melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat Sarah merasa bahwa remaja ini melihat lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.

“Kotak musiknya belum selesai,” kata Raka. Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan.

“Belum.” Sarah menggeser kotak musik itu sedikit ke samping, memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berpikir.
“Ada bagian yang aus. Roda giginya perlu diganti.”

Raka mengangguk pelan. Ia tidak mendekati meja. Ia tetap berdiri di tempatnya, sekitar dua langkah dari meja kerja, menjaga jarak yang terasa disengaja.

Di atas mereka, jam dinding Junghans tua berdetak dengan irama yang berat dan teratur, pendulum kuningannya berayun seperti metronom yang mengukur keheningan di antara mereka.

Sarah menarik napas. Ia telah memikirkan momen ini selama dua hari. Ia telah berlatih mengatakannya di dalam kepalanya, menyusun kalimat-kalimat yang tepat, mempertimbangkan nada suara yang akan ia gunakan.

Namun sekarang, dengan Raka berdiri di hadapannya, semua persiapan itu terasa tidak berguna. Ia menatap remaja itu. Menatap matanya. Dan ia bertanya.

“Dari mana kamu tahu semua ini tentang Dimas?”

Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. Lebih lelah. Namun pertanyaan itu menggantung di udara di antara mereka, padat dan tidak bisa diabaikan, seperti jarum jam yang tiba-tiba berhenti berdetak.

Raka tidak menjawab.

Ia tidak mengalihkan pandangannya. Ia tidak menggeleng. Ia tidak mengangkat bahu. Ia hanya berdiri di sana, diam, dengan kedua mata yang menatap lurus ke arah Sarah namun seolah tidak benar-benar melihatnya.

Keheningan itu berlangsung selama beberapa detik. Lalu beberapa detik lagi.

Detak jam di dinding terus berjalan, mengisi ruang kosong di antara mereka dengan suara yang teratur dan mekanis, dan Sarah merasakan sesuatu yang dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya.

“Raka.”

Remaja itu mengerjapkan matanya. Sekali. Dua kali. Lalu ia menunduk, memandangi lantai kayu bengkel yang telah aus termakan usia.

“Saya… tidak bisa menjawabnya sekarang,” katanya. Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan. Namun di dalamnya ada sesuatu yang membuat Sarah terdiam. Bukan ketakutan. Bukan pula kebohongan.

Melainkan sesuatu yang terdengar seperti permohonan. Seperti seseorang yang meminta untuk tidak dipaksa membuka sesuatu yang belum siap ia buka.

Sarah merasakan otot-otot di rahangnya menegang. Ia ingin mendesak. Ia ingin bertanya lagi.

Ia ingin mengatakan bahwa ia berhak tahu, bahwa Dimas adalah adiknya, bahwa semua benda yang dibawa Raka seharusnya berada di kamar itu, di dalam rumah joglo itu, di bawah pengawasannya sendiri.

Namun kata-kata itu tidak keluar. Ada sesuatu dalam cara Raka berdiri. Dalam cara bahunya sedikit menurun.

Dalam cara tangannya yang masih berada di dalam saku jaket, mengepal, mungkin, atau justru menggenggam sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan. Ada sesuatu di sana yang mengingatkan Sarah pada dirinya sendiri.

Delapan tahun yang lalu. Berdiri di depan pintu kamar Dimas untuk pertama kalinya setelah kematiannya, tidak mampu membuka pintu itu, tidak mampu menghadapi apa yang ada di dalamnya.

Ia membuang napas.
“Baiklah.”

Kata itu keluar dengan berat. Sarah membalikkan tubuhnya ke arah meja kerja, memungut roda gigi kecil dari kotak musik, memaksakan tangannya untuk kembali bergerak.

Namun pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya masih tertambat pada keheningan Raka. Pada tatapan matanya. Pada sesuatu yang lebih tua dari usianya yang bersembunyi di balik pupil hitam itu.

Raka melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu berhenti.
“Kakak tidak pernah bertanya pada Dimas tentang hal-hal ini?”

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Sarah menoleh. Raka masih berdiri di tempat yang sama, namun kali ini matanya menatap langsung ke arah Sarah. Tidak menghindar. Tidak menunduk.

Dan di dalam tatapan itu, Sarah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan rasa ingin tahu seorang remaja yang menemukan cerita lama. Bukan pula kekaguman seorang anak muda terhadap seseorang yang telah tiada.

Melainkan sesuatu yang lebih tajam. Sesuatu yang menusuk. Seolah Raka bisa melihat menembus delapan tahun yang telah Sarah bangun di sekeliling dirinya.

Menembus dinding-dinding yang ia dirikan. Menembus pertahanan yang ia kira tidak bisa ditembus oleh siapa pun.

“Apa maksudmu?” tanya Sarah. Suaranya terdengar defensif, dan ia menyadarinya terlambat.

“Dimas selalu bilang,” kata Raka, dan Sarah merasakan jantungnya berhenti sejenak mendengar nama itu diucapkan dengan begitu alami, begitu akrab, seolah Dimas bukanlah seseorang yang telah mati delapan tahun melainkan seseorang yang baru saja ditemui kemarin sore.

“Dimas selalu bilang bahwa Kakaknya tidak pernah bertanya. Bahwa Kakaknya selalu sibuk dengan jam-jamnya. Bahwa Kakaknya tidak pernah punya waktu untuk mendengarkan.”

Sarah tidak bergerak. Kata-kata itu menghantamnya dengan kekuatan yang tidak ia duga. Bukan karena kata-kata itu kejam. Bukan karena kata-kata itu tidak benar.

Melainkan karena kata-kata itu diucapkan oleh seseorang yang seharusnya tidak tahu. Seseorang yang seharusnya tidak pernah bertemu Dimas.

Seseorang yang seharusnya tidak memiliki akses ke bagian hidup adiknya yang bahkan Sarah sendiri tidak pernah mengaksesnya.

“Kamu… kamu mengenal Dimas?” Suara Sarah pecah di ujung kalimat.

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Sarah dengan tatapan yang kini terasa semakin berat. Semakin dalam. Dan di dalam keheningan itu, Sarah mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini tercecer di hadapannya.

Radio tua yang ditemukan di gudang dekat terminal. Kotak musik yang diperbaiki untuk seorang nenek di dekat Pasar Beringharjo. Burung kayu bersayap patah yang dibeli dari seorang ibu di lantai atas pasar.

Dan sekarang, kata-kata ini. Kata-kata yang tidak mungkin diketahui oleh seseorang yang hanya menemukan benda-benda itu secara kebetulan.

Kata-kata yang hanya mungkin diketahui oleh seseorang yang pernah duduk di hadapan Dimas. Seseorang yang pernah mendengarkannya berbicara. Seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Sarah. Pertanyaan itu keluar sebelum ia bisa menghentikannya.

Pertanyaan yang telah mengendap di dalam dirinya selama tiga belas hari, sejak pertama kali Raka muncul di bengkelnya membawa jam saku yang identik dengan milik Dimas.

Latest Novel ionicons-v5-c