Semuanya tetap seperti ketika Dimas masih hidup, ketika ia masih bisa berjalan masuk ke kamar ini kapan saja ia mau dan menemukan adiknya sedang duduk di meja belajar, kepala tertunduk di atas buku, tangan kanannya memegang pensil yang sudah terlalu pendek karena terlalu sering diraut.
Sarah mempertahankan kamar ini sebagai sebuah benteng melawan waktu, sebuah pernyataan diam bahwa ia menolak untuk melupakan. Bahwa ia menolak untuk melanjutkan hidup sepenuhnya.
Tangannya menyentuh bingkai foto di atas meja belajar. Foto mereka berdua, diambil bertahun-tahun lalu, ketika Dimas masih remaja dan Sarah masih seorang perempuan muda yang belum tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Di dalam foto itu, mereka tersenyum, berdiri di depan bengkel, dengan latar belakang jam-jam dinding yang berjejer di etalase. Sarah ingat hari itu. Hari yang biasa.
Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang menandakan bahwa suatu hari nanti foto ini akan menjadi salah satu dari sedikit benda yang ia miliki untuk mengingat adiknya.
Ia meletakkan foto itu kembali, hati-hati, seolah-olah bingkai itu terbuat dari sesuatu yang bisa pecah hanya dengan sentuhan yang salah.
Waktu berlalu tanpa ia sadari. Di dalam kamar ini, waktu selalu berlalu dengan cara yang aneh, seolah-olah ia bergerak lebih lambat, atau mungkin tidak bergerak sama sekali.
Sarah tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana, menyentuh benda-benda ini, mengingat kenangan-kenangan yang semakin lama semakin kabur ujung-ujungnya.
Yang ia tahu hanyalah bahwa ia merasa tenang di sini. Tenang dengan cara yang tidak bisa ia dapatkan di tempat lain.
Tenang yang datang dari ilusi bahwa ia masih bisa menjaga sesuatu, masih bisa mempertahankan seseorang, meskipun orang itu sudah lama pergi dan tidak akan pernah kembali.
Akhirnya, ia melangkah mundur. Tangannya terulur ke sakelar, dan lampu redup itu padam, mengembalikan kamar ke dalam kegelapan.
Sebelum menutup pintu, Sarah berhenti sejenak, memandangi ruangan yang kini hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk melalui jendela.
Dalam kegelapan itu, kamar ini terlihat seperti kamar biasa. Kamar yang hanya kebetulan kosong. Kamar yang menunggu penghuninya pulang. D
an untuk sesaat, hanya untuk sesaat yang sangat singkat, Sarah membiarkan dirinya percaya bahwa itu benar. Bahwa Dimas hanya pergi untuk sementara waktu.
Bahwa suatu hari nanti, ia akan pulang, membuka pintu ini, dan menemukan segala sesuatu persis seperti yang ia tinggalkan.
Bahwa jaket denimnya akan kembali hangat, bahwa buku-bukunya akan kembali dibaca, bahwa jam meja di samping tempat tidurnya akan kembali berdetak.
Pintu tertutup dengan suara klik yang pelan. Sarah berdiri di koridor gelap, tangannya masih memegang kenop, dan untuk beberapa detik ia tidak bergerak.
Kemudian, pelan-pelan, ia melepaskan pegangannya. Ia berbalik, dan langkahnya membawanya kembali ke tangga, kembali ke lantai bawah, kembali ke dunia yang terus bergerak dan tidak pernah berhenti menunggunya.
Di belakangnya, kamar itu kembali ke dalam keheningannya, menunggu malam berikutnya ketika ia akan datang lagi, seperti biasa. Seperti yang telah ia lakukakan selama delapan tahun.
Seperti yang akan terus ia lakukakan, karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk tetap mencintai seseorang yang telah pergi tanpa harus melepaskannya.
