Dan saat ia membersihkan, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Bukan rasa bersalah.
Melainkan sesuatu yang lebih tenang, sesuatu yang lebih diam, sesuatu yang terasa seperti penerimaan yang belum sepenuhnya terbentuk tapi sudah mulai merambat di sepanjang tulang punggungnya.
Ia teringat kata-kata Pak Hadi, pensiunan guru yang datang ke bengkelnya dua hari lalu dengan radio tua yang tidak lagi menyala.
“Saya hanya belajar hidup sambil tetap merindukannya,” kata Pak Hadi saat Sarah bertanya bagaimana ia bisa terus berjalan setelah istrinya meninggal.
Saat itu Sarah tidak benar-benar mendengarkan. Saat itu ia hanya mengangguk, hanya menerima kata-kata itu sebagai sesuatu yang diucapkan orang untuk mengisi keheningan.
Tapi sekarang, saat tangannya bergerak di atas rak yang mulai bersih dari debu, kata-kata itu kembali padanya. Belajar hidup sambil tetap merindukan.
Bukan melupakan. Bukan mengganti. Bukan memperbaiki. Hanya belajar hidup. Sambil tetap merindukan.
Mungkin itulah yang selama ini tidak ia lakukan. Mungkin itulah yang selama ini tidak ia izinkan untuk dirinya sendiri. Selama delapan tahun, ia tidak belajar hidup dengan kehilangan Dimas.
Ia hanya belajar mempertahankan kehilangan itu.
Ia hanya belajar menjaga kamar Dimas tetap utuh, menyimpan jaket denimnya di belakang pintu, membiarkan jam meja di meja belajarnya berhenti pada pukul tiga lewat tujuh belas menit, tidak menyentuh debu di rak-rak, tidak membuka jendela, tidak membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan yang telah menjadi mausoleum bagi adiknya.
Ia mengira itu adalah cinta. Ia mengira mempertahankan adalah cara untuk mencintai. Tapi mungkin ia salah. Mungkin selama ini ia bukan mencintai Dimas. Mungkin selama ini ia hanya mencintai rasa bersalahnya sendiri.
Sarah meletakkan kain lap di sisi meja. Rak di atasnya kini bersih, kayunya menampakkan serat-serat yang selama ini tersembunyi di balik debu.
Ia menatap kedua jam saku di hadapannya, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia tidak merasa perlu untuk segera memperbaikinya. Tidak merasa perlu untuk segera membongkar mekanismenya.
Tidak merasa perlu untuk segera mencari tahu apa yang salah dan bagaimana cara membetulkannya. Kedua jam itu hanya terbaring di sana, mati, diam, tidak bergerak. Dan ia membiarkannya.
Ia membiarkannya karena mungkin itulah yang seharusnya ia lakukan sejak awal. Mungkin itulah yang Dimas inginkan. Mungkin adiknya tidak pernah memintanya untuk memperbaiki jam saku itu.
Mungkin adiknya hanya ingin ia belajar bahwa tidak semua yang berhenti harus dipaksa bergerak kembali.
Di luar, hujan mulai mereda. Suara air di talang berubah dari deras menjadi tetesan, dari tetesan menjadi keheningan.
Cahaya sore menerobos masuk melalui jendela bengkel, menciptakan garis-garis kuning keemasan di lantai kayu yang telah berusia puluhan tahun.
Debu-debu yang tadi beterbangan kini telah menemukan tempatnya masing-masing, menetap di sudut-sudut baru, menunggu untuk dibersihkan lagi di lain waktu.
Dan di tengah semua itu, Sarah duduk di meja kerjanya, kedua tangannya terlipat di atas permukaan kayu jati, kedua matanya menatap dua jam saku yang tidak akan pernah berdetak lagi.
Ia memutuskan untuk menyimpan jam saku Raka di samping jam saku Dimas. Bukan karena ia berharap bisa memperbaikinya nanti. Bukan karena ia ingin membandingkan keduanya lebih lanjut.
Tapi karena ia merasa bahwa kedua benda itu seharusnya berada bersama. Dua jam saku yang mati pada waktu yang sama. Dua benda yang berasal dari sumber yang sama.
Dua saksi bisu dari sesuatu yang telah berhenti delapan tahun lalu dan tidak pernah benar-benar selesai. Ia membuka kotak kayu kecil tempat ia menyimpan jam saku Dimas, dan dengan hati-hati, ia meletakkan jam saku Raka di dalamnya, di samping jam saku Dimas yang telah lebih dulu menghuni kotak itu.
Keduanya berdampingan, dua benda identik yang kini berbagai ruang yang sama, dua jam saku yang tidak akan pernah menunjukkan waktu yang berbeda.
Lalu ia menutup kotak itu. Perlahan. Hati-hati.
Seperti seseorang yang sedang menutup sebuah bab dalam buku yang belum selesai ia baca, tidak tahu apa yang akan terjadi di halaman berikutnya, tapi akhirnya bersedia untuk membalik halaman itu.
Ia mendorong kotak kayu itu ke sudut mejanya, ke tempat yang sama di mana kotak itu telah berada selama delapan tahun.
Lalu ia mengambil napas panjang, mengeluarkannya perlahan, dan merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namai.
Sesuatu yang bukan kelegaan, bukan kesedihan, bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih dekat ke keheningan. Sesuatu yang lebih dekat ke penerimaan.
Besok Raka akan datang lagi. Ia akan memberitahu remaja itu bahwa ia perlu waktu lebih lama untuk memeriksa jam sakunya. Mungkin beberapa hari lagi. Mungkin lebih. Ia tidak tahu.
Tapi ia tahu bahwa ia tidak akan memberikan jawaban yang pasti. Tidak akan memberikan janji bahwa jam itu bisa diperbaiki. Karena mungkin jam itu memang tidak bisa diperbaiki.
Mungkin tidak ada yang salah dengan jam itu.
Mungkin jam itu hanya telah mencapai akhir dari waktunya, sama seperti Dimas, sama seperti delapan tahun yang telah berlalu, sama seperti segala sesuatu yang pada akhirnya akan berhenti berdetak dan tidak bisa diputar kembali.
Jam dinding Junghans di atas meja kerjanya menunjukkan pukul setengah enam sore.
Pendulumnya bergerak ke kiri dan ke kanan, gerakan yang telah berulang selama delapan puluhan tahun, gerakan yang tidak pernah lelah, tidak pernah berhenti, tidak pernah mempertanyakan mengapa ia harus terus bergerak.
Sarah menatap jam itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak merasa iri pada kemampuannya untuk terus berdetak. Ia hanya merasa lelah.
Lelah karena telah mencoba memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.
Lelah karena telah mencoba menghentikan sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Lelah karena telah mencoba hidup di masa lalu saat seluruh dunia terus bergerak menuju masa depan.
Ia bangkit dari kursinya. Lututnya terasa kaku, sendi-sendinya mengeluarkan bunyi kecil yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Ia berjalan ke arah jendela, mendorongnya terbuka sedikit, membiarkan udara sore yang lembap dan bersih masuk ke dalam bengkel.
Aroma tanah basah dan daun-daun yang terguyur hujan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma minyak dan kayu tua yang telah menjadi parfum permanen bengkel itu.
Di kejauhan, ia bisa mendengar suara azan Magrib mulai berkumandang dari masjid terdekat, suara yang selalu datang pada waktu yang sama setiap harinya, suara yang menandai pergantian dari sore ke malam, dari terang ke gelap, dari satu hari ke hari berikutnya.
Sarah menutup jendela itu kembali. Ia berjalan ke arah pintu belakang, ke arah rumah joglo yang berdiri di belakang bengkelnya, ke arah kamar Dimas yang masih tertutup dan masih menyimpan semua pertanyaan yang belum terjawab.
Tapi malam ini ia tidak akan membuka kamar itu.
Malam ini ia hanya akan duduk di ruang tengah, mendengarkan hujan yang mungkin akan turun lagi, dan membiarkan pikirannya beristirahat dari delapan tahun usaha yang tidak pernah membuahkan hasil. Malam ini ia hanya akan belajar hidup.
Sambil tetap merindukan.
