Radio itu muncul pada malam ketujuh.
Sarah sedang duduk di belakang meja kerjanya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu depan. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
Suara langkah itu sudah cukup dikenali: ringan, ragu-ragu, dengan jeda di antara setiap langkah seolah pemiliknya selalu mempertimbangkan apakah ia berhak berada di sana.
Raka Wijaya. Remaja itu sudah tiga kali datang ke bengkelnya dalam seminggu terakhir.
Dan setiap kali kedatangannya selalu membawa sesuatu yang membuat Sarah merasa seolah-olah seseorang telah membuka laci-laci di dalam ingatannya dan mengeluarkan benda-benda yang selama ini ia simpan dengan rapi.
Malam itu Raka membawa sebuah radio tua.
Sarah mengangkat kepalanya dari komponen jam meja Becker yang sedang ia bersihkan.
Lampu neon di atas meja kerjanya memancarkan cahaya putih yang sedikit berkedip, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di permukaan dinding bengkel yang dipenuhi jam.
Di antara tiga puluh dua jam dinding yang tergantung di sana, semuanya menunjukkan waktu yang berbeda-beda, seolah-olah setiap jam memiliki versinya sendiri tentang kapan malam itu dimulai.
Sarah melepas kacamatanya, mengusap lensanya dengan ujung lengan kemejanya, lalu memasangnya kembali. Matanya tertuju pada benda yang dipegang Raka.
Radio itu berukuran sedang, dengan casing kayu yang warnanya telah memudar menjadi cokelat kusam.
Gagangnya retak di satu sisi, dan di bagian depan, kain speaker-nya telah menguning dan sobek di beberapa tempat. Antenanya patah di bagian tengah, menyisakan ujung logam yang bengkok.
Radio tua yang tidak lagi menyala. Radio yang seharusnya tidak berada di tangan seorang remaja tujuh belas tahun yang tidak pernah ia kenal sebelum seminggu yang lalu.
Radio yang pernah menjadi milik Dimas.
“Ini radio siapa?” tanya Sarah. Suaranya keluar lebih datar dari yang ia inginkan.
Raka berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang radio itu dengan kedua tangan, seolah benda tersebut memiliki berat yang tidak bisa ditanggung oleh satu tangan saja.
Jaket tipisnya yang usang basah di bagian bahu. Di luar, hujan baru saja berhenti, dan udara malam membawa aroma tanah basah yang masuk melalui celah-celah pintu bengkel.
“Saya menemukannya di gudang,” kata Raka.
Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap radio itu, dan sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak, sesuatu yang selama delapan tahun ia latih untuk tetap diam.
Ia mengenali setiap detail radio itu: bentuknya, warnanya, bahkan pola retakan pada gagang kayunya. Radio itu adalah benda yang dulu selalu dinyalakan di rumah joglo keluarga mereka ketika listrik padam.
Ketika mereka masih kecil, ketika hujan turun deras di malam hari dan seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan, Dimas akan menyalakan radio itu dan mereka akan duduk bersama di ruang tengah.
Mendengarkan suara penyiar yang membaca berita atau memutar lagu-lagu lama, sementara lilin-lilin yang dinyalakan ibu mereka menari-nari di atas meja.
Tapi itu bukan satu-satunya alasan mengapa radio itu membuat tangan Sarah tiba-tiba terasa dingin.
“Gudang?” ulangnya.
“Gudang di mana?”
Raka menggeser berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki yang lain.
“Gudang di belakang rumah paman saya. Di dekat terminal.”
Sarah menatap remaja itu, dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Raka selalu memberikan jawaban yang terlalu sederhana untuk pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya membutuhkan penjelasan panjang. Ia selalu berbicara seolah-olah semua hal memiliki tempatnya masing-masing di dunia ini.
Seolah-olah tidak ada yang aneh tentang seorang remaja yang tiba-tiba muncul membawa benda-benda yang pernah dimiliki oleh seseorang yang telah mati delapan tahun lalu.
Dan Sarah tidak tahu apakah itu pertanda bahwa Raka menyembunyikan sesuatu, atau justru pertanda bahwa remaja itu tidak mengerti betapa ganjilnya situasi yang mereka berdua hadapi.
“Coba lihat sini,” kata Sarah, mengulurkan tangannya.
Raka menyerahkan radio itu. Sarah menerimanya dengan hati-hati, dan begitu tangannya menyentuh permukaan kayu yang telah lapuk dimakan usia, sesuatu di dalam dadanya mengencang.
Benda ini memiliki berat yang persis sama seperti yang ia ingat. Ia membalikkan radio itu, memeriksa bagian belakangnya, dan di sanalah ia melihat sesuatu yang membuat napasnya terhenti sejenak.
Di bagian belakang casing kayu, di dekat lubang ventilasi, terdapat goresan tulisan tangan. Goresan itu kecil, hampir tidak terlihat, dibuat dengan ujung benda tajam yang menekan permukaan kayu.
Tulisan itu bukan bagian dari desain radio. Tulisan itu dibuat oleh seseorang yang sengaja meninggalkan jejaknya di sana.
Sarah mendekatkan radio itu ke arah lampu neon. Matanya menyipit, mencoba membaca huruf-huruf yang telah memudar.
Sarah menemukan secarik kertas kecil terselip di balik panel radio. Tulisan tangan Dimas masih mudah dikenali.
Tulisan Dimas selalu memiliki ciri khas: huruf-hurufnya miring ke kanan, sedikit terburu-buru, seolah-olah tangannya selalu bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
"Radio ini masih nggak bisa nangkep siaran dengan benar. Tiga malam dibongkar, tetap aja nyebelin."
Di bawahnya ada tambahan tulisan yang lebih kecil.
"Tapi suara statisnya lumayan. Bikin rumah nggak terlalu sepi pas hujan."
Sarah tersenyum tipis tanpa sadar. Selama ini ia selalu mengingat Dimas sebagai seseorang yang tahu cara memperbaiki apa saja.
Ia hampir lupa bahwa sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk gagal, mengeluh, lalu mencoba lagi keesokan harinya.
Dan kalimat itu. Kalimat itu bukan sekadar catatan biasa. Kalimat itu adalah sebuah pengakuan yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca oleh siapa pun.
Sarah meletakkan radio itu di atas meja kerjanya. Tangannya bergerak secara otomatis, mengambil kain lap bersih dari laci, membuka tutup botol cairan pembersih.
Ia mulai membersihkan permukaan radio itu dengan gerakan yang lambat dan metodis, mengikuti alur serat kayu, membersihkan debu yang telah menumpuk di sudut-sudut casing.
Ia melakukan semua ini tanpa berpikir, karena berpikir adalah sesuatu yang tidak bisa ia lakukan saat ini. Berpikir akan membawanya ke tempat-tempat yang selama delapan tahun ia hindari.
“Kamu kenal Dimas?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menghentikannya.
Raka tidak langsung menjawab. Remaja itu masih berdiri di dekat pintu, dan dari sudut matanya Sarah bisa melihat bahwa Raka sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Bukan ekspresi takut. Bukan ekspresi bersalah. Melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat Sarah merasa seolah-olah remaja itu tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.
“Saya tidak pernah kenal langsung,” kata Raka akhirnya.
“Tapi saya tahu siapa dia.”
Sarah berhenti membersihkan radio itu. Tangannya yang memegang kain lap berhenti di atas permukaan kayu.
“Tahu dari mana?”
“Dari barang-barang yang dia tinggalkan.”
Jawaban itu seharusnya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengenal orang lain hanya dari barang-barang yang ditinggalkannya?
Tapi Sarah tidak bisa membantah logika itu, karena selama delapan tahun terakhir, itulah yang ia lakukan.
Ia mengenal Dimas melalui kamarnya, melalui pakaiannya, melalui jam sakunya yang tidak pernah berhasil ia perbaiki. Ia mengenal Dimas melalui benda-benda yang adiknya tinggalkan, dan mungkin, mungkin, itulah satu-satunya cara yang tersisa.
“Radio ini,” kata Sarah pelan,
“dulu selalu dinyalakan kalau listrik padam. Waktu kami masih kecil.”
Raka mengangguk pelan.
“Dimas sering mendengarkan radio sendirian di malam hari. Itu yang dia tulis di belakang radio.”
Sarah menoleh, menatap Raka.
“Kamu baca tulisan ini?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Sebelum saya bawa ke sini.”
Sarah kembali menatap radio itu. Jari-jarinya menyusuri goresan tulisan tangan di bagian belakang casing, dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Tulisan itu tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Selama bertahun-tahun radio itu berada di rumah mereka, selama bertahun-tahun ia dan Dimas duduk bersama mendengarkan suara penyiar di malam hari, ia tidak pernah tahu bahwa adiknya telah menulis sesuatu di belakang radio itu.
Ia tidak pernah tahu bahwa Dimas memiliki kebiasaan mendengarkan radio sendirian. Ia tidak pernah tahu bahwa adiknya merasa kesepian di rumah yang mereka tinggali bersama.
Dan kesadaran itu, lebih dari apa pun, adalah hal yang paling menyakitkan.
Selama delapan tahun, Sarah telah mempertahankan keyakinan bahwa ia mengenal Dimas sepenuhnya. Bahwa ia tahu setiap kebiasaan adiknya, setiap pikiran yang melintas di kepalanya, setiap ketakutan yang ia simpan.
Keyakinan itu adalah fondasi dari semua yang ia lakukan. Keyakinan itu adalah alasan mengapa ia tetap menjaga kamar Dimas, tetap menyimpan jam sakunya, tetap hidup dalam satu momen yang sama selama delapan tahun.
Karena jika ia mengenal Dimas sepenuhnya, maka ia berhak untuk mempertahankan semua yang tersisa dari adiknya. Maka ia berhak untuk tidak melepaskan.
Tapi malam ini, radio tua itu membuktikan bahwa keyakinannya salah.
Dimas memiliki kehidupan batin yang tidak pernah benar-benar ia lihat. Dimas memiliki kesepian yang tidak pernah ia ceritakan.
Dimas memiliki malam-malam di mana ia duduk sendirian, mendengarkan radio, menulis kalimat-kalimat kecil di belakang casing kayu, dan semua itu terjadi di rumah yang sama, di bawah atap yang sama, sementara Sarah tidur di kamar sebelah tanpa pernah tahu apa-apa.
Sarah meletakkan kain lapnya. Ia membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan obeng kecil, dan mulai membuka sekrup-sekrup di bagian belakang radio.
Gerakannya mekanis, tepat, gerakan yang telah ia lakukan ribuan kali sebelumnya. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kali ini tangannya bergerak dengan tujuan yang tidak sepenuhnya ia mengerti.
Ia tidak sedang mencoba memperbaiki radio itu. Ia sedang mencoba mencari sesuatu.
Sekrup terakhir terlepas. Sarah membuka panel belakang radio itu dengan hati-hati, dan di dalamnya, di antara komponen-komponen elektronik yang telah berkarat, ia menemukan secarik kertas.
Kertas itu dilipat menjadi empat bagian, kecil, hampir tidak lebih besar dari perangko. Warnanya telah menguning, dan tinta yang digunakan untuk menulis di atasnya telah memudar menjadi cokelat pucat.
Sarah mengeluarkan kertas itu dengan jari-jarinya yang gemetar, membukanya dengan hati-hati, dan membaca tulisan yang ada di dalamnya.
Sarah, Kalau kamu nemuin radio ini, berarti aku udah nggak ada. Aku nggak pernah bilang ini langsung ke kamu, soalnya kalau ngomong langsung aku selalu lupa apa yang mau aku katakan. Tapi aku mau kamu tahu satu hal: aku nggak pernah ngerasa sendirian selama tinggal di rumah ini. Radio ini cuma temen buat malam-malam yang terlalu sunyi, tapi bukan berarti aku nggak bahagia. Aku bahagia. Aku cuma nggak pernah bisa ngomongin perasaanku sebaik kamu bisa ngomongin perasaanmu. Maaf kalau aku bikin kamu khawatir. Maaf kalau aku pergi tanpa pamit. Jangan simpan radio ini terlalu lama. Radio ini cuma benda. Aku bukan radio ini. Dimas.
Sarah membaca surat itu dua kali. Tiga kali. Empat kali. Dan setiap kali ia membacanya, kata-kata di atas kertas itu tetap sama, tidak berubah, tidak menghilang, tidak menjadi lebih mudah untuk diterima.
Dimas menulis surat ini untuknya. Dimas tahu bahwa suatu hari Sarah akan menemukan radio ini, dan ia ingin Sarah membaca kata-kata yang tidak pernah bisa ia ucapkan secara langsung.
Dimas, yang selalu berbicara dengan cepat dan santai dan penuh humor kecil, ternyata menyimpan kata-kata yang tidak pernah ia berani katakan.
Dan kata-kata itu ada di sini, di atas secarik kertas yang telah menguning, terselip di dalam radio tua yang tidak lagi menyala.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Butir-butir air mengetuk-ngetuk genteng bengkel, menciptakan irama yang tidak teratur, irama yang tidak bisa diukur oleh jam mana pun.
Sarah tetap duduk di belakang meja kerjanya, tangannya masih memegang surat itu, matanya masih menatap tulisan tangan adiknya yang miring ke kanan dan sedikit terburu-buru.
Raka masih berdiri di dekat pintu. Remaja itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menunggu, seolah ia mengerti bahwa momen ini bukan miliknya untuk diinterupsi.
“Kamu tahu surat ini ada di dalam?” tanya Sarah akhirnya. Suaranya serak.
Raka menggeleng.
“Nggak.”
Sarah melipat surat itu kembali, dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, seolah kertas itu bisa hancur jika ia menyentuhnya terlalu keras.
Ia memasukkannya ke dalam saku kemejanya, di dekat dadanya, di tempat di mana ia bisa merasakan keberadaannya setiap kali ia bernapas.
“Radio ini,” kata Sarah,
“nggak bisa diperbaiki.”
Itu bukan kebohongan. Komponen-komponen di dalam radio itu telah berkarat terlalu parah. Kabel-kabelnya telah putus. Speaker-nya telah sobek.
Bahkan jika ia mengganti semua bagian yang rusak, radio itu tidak akan pernah menyala lagi. Tapi itu bukan alasan sebenarnya mengapa ia mengatakan radio itu tidak bisa diperbaiki.
Alasan sebenarnya adalah karena radio itu, seperti jam saku Dimas, seperti semua benda yang pernah dimiliki adiknya, tidak pernah dimaksudkan untuk diperbaiki.
Radio itu dimaksudkan untuk ditemukan. Radio itu dimaksudkan untuk menyampaikan pesan yang selama delapan tahun tidak pernah sampai. Dan sekarang pesan itu telah sampai. Sekarang Sarah telah membaca kata-kata yang tidak pernah diucapkan.
Dan memperbaiki radio itu, membuatnya menyala lagi, akan menjadi seperti mencoba mengembalikan sesuatu yang seharusnya dibiarkan pergi.
Raka mengangguk pelan.
“Saya ngerti.”
Dan entah mengapa, Sarah percaya bahwa remaja itu benar-benar mengerti.
Ia menatap radio tua itu, yang sekarang terbaring di atas meja kerjanya dengan panel belakang terbuka dan komponen-komponen dalamnya terekspos ke udara malam.
Ia menatap goresan tulisan tangan di bagian belakang casing kayu, goresan yang telah ada di sana selama bertahun-tahun tanpa pernah ia sadari.
Dan ia menatap jam-jam dinding di sekelilingnya, tiga puluh dua jam yang semuanya terus berdetak, terus bergerak, terus menandai waktu yang tidak pernah berhenti untuk siapa pun.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal adiknya.
Bahwa ada bagian-bagian dari Dimas yang tetap tersembunyi, tetap tidak terlihat, tetap menjadi misteri yang tidak akan pernah terpecahkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah semua yang ia lakukan selama delapan tahun terakhir, semua usaha untuk mempertahankan, semua usaha untuk tidak melepaskan, sebenarnya bukan tentang Dimas.
Melainkan tentang dirinya sendiri. Tentang rasa bersalahnya. Tentang ketakutannya. Tentang kebutuhannya untuk percaya bahwa ia bisa menyelamatkan sesuatu dari semua yang telah hilang.
Hujan turun semakin deras. Suara air yang jatuh di atas genteng menciptakan simfoni yang tidak teratur, simfoni yang tidak bisa diukur oleh detak jam mana pun.
Sarah mendengarkan suara itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu untuk mengisinya dengan suara lain.
