Pagi itu hujan belum sepenuhnya reda. Sisa-sisa gerimis masih menggantung di udara seperti kabut tipis yang menempel di kaca jendela bengkel.
Sarah sudah duduk di meja kerjanya sejak pukul enam, menyalakan lampu neon yang berdengung pelan di atas kepala, membiarkan tangannya sibuk dengan sebuah jam meja Becker yang pegas utamanya patah.
Ia sudah membongkar mekanismenya selama hampir satu jam, memisahkan komponen-komponen kecil yang berkarat.
Membersihkannya satu per satu dengan cairan pembersih yang aromanya selalu mengingatkannya pada masa kecil – pada bengkel ayahnya yang dulu masih berbau kayu dan tembakau.
Tiga puluh dua jam dinding di sekelilingnya terus berdetak, masing-masing dengan ritmenya sendiri, menciptakan simfoni yang sudah terlalu akrab untuk ia sadari.
Ketika bel di atas pintu berdering, Sarah tidak langsung menoleh. Ia sedang memegang sebuah gir kecil dengan pinset, mencoba memasangnya kembali ke posisinya yang semula.
Suara langkah kaki yang mendekat ringan dan ragu-ragu, seperti seseorang yang belum terbiasa dengan ruangan ini meskipun sudah beberapa kali datang. Sarah mengenali ritme itu sekarang. Raka.
“Pagi,” katanya, akhirnya menoleh.
Raka berdiri di dekat pintu, satu tangan memegang sesuatu yang dibungkus kain katun tipis.
Seragam sekolahnya masih sama – putih abu-abu yang sudah mulai kusam di bagian kerah – dan jaket tipisnya masih basah di bagian bahu karena hujan.
Rambutnya sedikit lepek, menempel di dahi, dan ia mengusapnya dengan gerakan canggung sebelum melangkah lebih dekat ke meja kerja.
“Saya bawa sesuatu,” katanya pelan.
Sarah meletakkan pinsetnya dan menyeka tangannya pada kain lap yang tergeletak di samping kotak perkakas.
Ia memperhatikan bungkusan di tangan Raka, memperhatikan cara anak itu memegangnya dengan kedua tangan seolah benda tersebut rapuh dan berharga.
Ada sesuatu dalam sikapnya yang berbeda pagi ini. Bukan kegugupan seperti biasanya. Melainkan kehati-hatian yang lebih dalam, semacam kesadaran bahwa apa yang ia bawa memiliki bobot yang tidak bisa diukur dengan timbangan biasa.
“Apa itu?” tanya Sarah.
Raka membuka kainnya perlahan, memperlihatkan sebuah burung kayu dengan sayap yang patah. Kayunya sudah tua, warnanya menggelap di beberapa bagian, dan ada retakan halus di sepanjang tubuhnya seperti peta sungai yang mengering.
Salah satu sayapnya menggantung lepas, hanya terhubung oleh seutas kawat tipis yang sudah mulai berkarat.
Paruhnya yang runcing masih utuh, tapi catnya sudah mengelupas, meninggalkan bercak-bercak putih yang memperlihatkan kayu asli di bawahnya.
Sarah tidak langsung menyentuhnya. Ia hanya menatap burung itu, dan sesuatu di dalam dadanya bergerak – bukan rasa sakit, melainkan semacam pengenalan yang datang sebelum pikirannya sempat menangkap apa yang sedang ia lihat.
Matanya menyusuri lekukan tubuh burung itu, sayapnya yang patah, ekornya yang sedikit miring ke kiri. Dan kemudian ia melihatnya.
Goresan kecil di bagian bawah, hampir tidak terlihat karena sudah aus dimakan waktu. Tiga huruf yang diukir dengan tangan yang tidak terlalu terampil.
Ari.
Sarah menelan ludah. Nama itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia tidak mengenal seorang pun yang bernama Ari.
Tidak pernah mendengar nama itu disebut dalam percakapan keluarga, tidak pernah melihatnya tertulis di surat atau catatan atau halaman buku telepon.
Tiga huruf sederhana yang seharusnya hanya menjadi goresan acak di atas kayu tua, tapi entah kenapa membuat dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Dari mana kamu dapat ini?”
Suaranya keluar lebih datar dari yang ia maksudkan. Raka menatapnya dengan mata yang masih sulit dibaca, lalu mengalihkan pandangannya ke burung itu seolah mencari jawaban di permukaan kayunya.
“Pasar yang sama,” katanya.
“Tapi bukan dari kios yang dulu. Ada seorang ibu di lantai atas. Jualan mainan bekas. Saya lihat burung ini di kotaknya, hampir ketutup sama barang lain. Saya tanya, dia bilang burung ini punya anaknya dulu. Anaknya sudah lama… pergi.”
Kata pergi itu menggantung di udara seperti nada yang tidak selesai. Sarah tahu apa artinya. Ia sudah terlalu sering mendengar orang menggunakan kata itu sebagai pengganti yang lebih lunak untuk sesuatu yang tidak ingin mereka ucapkan.
“Ibunya cerita,” Raka melanjutkan, suaranya masih pelan,
“anaknya sakit. Harus di rumah sakit lama. Beberapa minggu. Dan ada seseorang yang datang ke rumahnya waktu itu. Seorang mahasiswa. Muda. Katanya dia suka bantu-bantu orang tanpa diminta. Dia bikin mainan ini buat anaknya supaya nggak bosan di rumah sakit.”
Sarah merasakan jari-jarinya mengepal di atas meja. Ia tidak menyadarinya sampai kukunya menyentuh permukaan kayu jati yang dingin.
“Mahasiswa itu,” katanya, dan suaranya sekarang bergetar sedikit meskipun ia berusaha menahannya,
“siapa namanya?”
“Ibunya nggak ingat. Udah terlalu lama. Tapi dia ingat satu hal.” Raka berhenti sejenak, menatap burung itu lagi.
“Dia ingat mahasiswa itu selalu bawa jaket denim. Yang ada banyak bekas oli di lengannya.”
Sarah menutup matanya. Di belakang kelopaknya, ia melihat jaket itu. Jaket denim biru yang masih tergantung di balik pintu kamar Dimas, yang sudah delapan tahun tidak ia cuci karena takut baunya akan hilang.
Yang di saku kirinya selalu terselip obeng kecil dengan gagang kayu. Yang lengannya penuh dengan noda hitam yang tidak pernah bisa hilang meskipun sudah dicuci berkali-kali.
Dimas.
Tentu saja Dimas.
Ia membuka matanya dan menatap burung itu lagi. Kali ini dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai benda asing yang dibawa oleh seorang anak laki-laki ke bengkelnya.
Melainkan sebagai sesuatu yang pernah disentuh oleh tangan adiknya. Sesuatu yang pernah dibuat oleh jari-jarinya yang selalu penuh oli.
Sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya – hidup yang ternyata jauh lebih luas dari yang Sarah ketahui.
“Dia nggak pernah cerita,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Raka.
Dan di situlah letak rasa sakitnya.
Bukan pada fakta bahwa Dimas pernah membantu seorang anak yang sedang sakit. Bukan pada kenyataan bahwa adiknya telah menghabiskan waktu berminggu-minggu membuat mainan untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik.
Melainkan pada fakta bahwa semua itu terjadi tanpa sepengetahuannya. Bahwa ada bagian dari hidup Dimas yang begitu besar, begitu penting, begitu nyata, dan ia tidak pernah diberi tempat di dalamnya.
Sarah masih ingat bagaimana Dimas membuat mainan itu. Tiga kali burung kayu tersebut patah sebelum selesai. Dimas bahkan sempat membuangnya ke halaman belakang karena kesal.
“Nggak usah sok jadi pengrajin kalau nggak bisa ngukir lurus,” ejek Sarah waktu itu.
Dimas mendengus dan tidak mau bicara dengannya sampai malam. Keesokan harinya, ia mengambil kembali potongan-potongan kayu itu dan mulai mengerjakannya dari awal.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sarah mengingat Dimas bukan sebagai kenangan yang sempurna. Selainkan sebagai adiknya yang keras kepala.
Selama delapan tahun, Sarah percaya bahwa ia mengenal adiknya sepenuhnya. Bahwa tidak ada yang tersembunyi.
Bahwa setiap sudut kamarnya, setiap benda di mejanya, setiap goresan di bukunya adalah peta yang lengkap dari siapa Dimas sebenarnya.
Tapi sekarang, di tangannya yang masih gemetar, ia memegang bukti bahwa peta itu tidak pernah lengkap. Bahwa ada wilayah-wilayah dalam hidup Dimas yang tidak pernah ia masuki.
Yang tidak pernah ia ketahui. Yang tidak pernah ia izinkan untuk menjadi bagian dari kenangannya.
“Siapa nama anak itu?” tanyanya tiba-tiba.
“Yang diukir di sini. Ari. Siapa dia?”
Raka menggeleng.
“Ibunya cuma bilang itu nama panggilan. Nama aslinya beda. Tapi dia nggak ingat lagi. Udah terlalu lama.”
Sarah mengangguk pelan. Ia mengulurkan tangan dan akhirnya menyentuh burung itu, mengambilnya dari tangan Raka dengan gerakan yang lebih lembut dari yang ia kira mampu ia lakukan.
Kayunya terasa dingin di telapak tangannya, tapi bukan dingin yang berasal dari suhu ruangan. Melainkan dingin yang berasal dari waktu.
Dari delapan tahun yang telah berlalu sejak tangan terakhir menyentuhnya, dari semua malam yang telah dilewati burung ini di dalam kotak kardus di pasar, dari semua kenangan yang telah mengendap di permukaannya seperti lapisan debu yang tidak terlihat.
Ia membalikkan burung itu dan menatap nama itu lagi. Ari. Tiga huruf yang diukir dengan pisau kecil, mungkin obeng, mungkin alat apa pun yang kebetulan ada di saku Dimas waktu itu.
