Dua hari setelah Raka meninggalkan burung kayu bersayap patah itu, Sarah masih belum menyentuhnya dengan obeng atau tang.
Mainan tersebut hanya tergeletak di sudut meja kerja, di antara tumpukan komponen jam yang sudah dibongkar dan kotak-kotak kecil berisi sekrup.
Sayap kanannya yang retak menggantung dengan sudut yang salah, tidak lagi sejajar dengan tubuh burung itu, dan setiap kali Sarah melirik ke arahnya, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa: keraguan.
Bukan keraguan teknis tentang bagaimana cara menyambung kayu yang patah. Melainkan keraguan yang lebih dalam, yang lebih lambat, yang bertanya apakah benda ini memang perlu disambung kembali.
Di luar bengkel, siang hari kesebelas berjalan seperti biasa. Matahari Kotagede berada di titik tertingginya, menyiram jalanan dengan cahaya yang membuat debu-debu beterbangan terlihat seperti partikel emas yang melayang.
Tapi di dalam bengkel, waktu terasa berbeda. Sarah duduk di kursi kayunya, kedua tangan terlipat di atas meja jati warisan keluarga, dan ia mendengarkan. Bukan suara jalanan. Bukan suara tetangga yang sesekali lewat.
Ia mendengarkan detak jam-jam di dinding, tiga puluh dua buah jam yang selama dua belas tahun menjadi latar hidupnya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dalam irama itu.
Detaknya lebih lambat.
Sarah mengangkat kepalanya, menatap jam dinding Junghans yang tergantung di dekat pintu masuk. Jarum menitnya bergerak dengan jeda yang hampir tidak terlihat, tapi tetap terasa.
Sarah sudah cukup lama hidup bersama jam untuk mengenali ketika sebuah mekanisme mulai lelah.
Ia tahu bagaimana roda gigi yang aus mulai kehilangan presisinya. Ia tahu bagaimana pegas yang sudah tua tidak lagi menyimpan energi dengan sempurna.
Tapi ini bukan masalah teknis. Ini bukan sesuatu yang bisa ia perbaiki dengan membuka casing dan membersihkan komponennya.
Ini adalah sesuatu yang ia rasakan di dalam dirinya sendiri, seolah-olah detak jam itu bukan lagi berasal dari mesin di balik dinding kayu, melainkan dari dalam dadanya.
Detak jantungnya sendiri. Melankolis dan sedikit lelah.
Sarah menurunkan pandangannya kembali ke meja kerja. Di sana, di antara alat-alat yang tersusun rapi, tergeletak dua buah jam saku.
Yang pertama adalah jam saku Dimas, yang sudah delapan tahun tidak pernah bergerak dari pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit.
Casing peraknya sudah mulai kusam di bagian tepi, dan ukiran bintang bersudut lima di bagian belakangnya sudah hampir tidak terlihat karena tertutup lapisan minyak dan debu yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Yang kedua adalah jam saku milik Raka, yang identik dalam setiap detailnya, yang juga berhenti pada waktu yang sama, dan yang sudah tiga hari tergeletak di meja itu tanpa pernah Sarah sentuh lagi setelah malam ia menyerahkannya.
Dua jam saku. Dua benda yang sama persis. Dua simbol dari kegagalan yang sama.
Sarah mengambil jam saku Dimas dan memegangnya di telapak tangan. Logamnya dingin. Bukan dingin yang berasal dari suhu ruangan, tapi dingin yang berasal dari delapan tahun ketidakmampuan.
Delapan tahun usaha yang selalu berakhir dengan tangan gemetar dan napas yang tertahan di kerongkongan.
Delapan tahun malam-malam di mana ia duduk di meja ini, membuka casing jam itu, memeriksa roda giginya, mencoba memahami apa yang rusak, dan selalu, selalu, menutupnya kembali tanpa pernah berhasil membuat jarumnya bergerak satu detik pun.
Ia sudah mencoba mengganti pegas utama. Ia sudah mencoba membersihkan setiap gir dari karat yang mungkin menyumbat. Ia sudah mencoba menyetel ulang keseimbangan roda escapement.
Dan tidak ada yang berhasil.
Jam itu tetap berhenti pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit, seolah-olah waktu itu sendiri yang memilih untuk tidak melanjutkan hidup, seolah-olah ada sesuatu yang lebih besar dari mekanisme yang menolak untuk diperbaiki.
Dan sekarang ada jam kedua.
Jam yang dibawa oleh seorang remaja berjaket tipis, yang ditemukan di sebuah kios barang bekas di Pasar Beringharjo, yang entah bagaimana memiliki ukiran yang sama, kerusakan yang sama, dan waktu kematian yang sama.
Sarah tidak tahu apa artinya. Ia tidak tahu apakah ini kebetulan atau pertanda. Tapi yang ia tahu, sambil memegang kedua jam itu di tangannya, adalah bahwa ia lelah.
Ia lelah mencoba memperbaiki hal-hal yang mungkin memang tidak dirancang untuk diperbaiki.
Burung kayu itu masi tergeletak di sudut meja. Sarah melirk ke arahnya, dan untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya bertanya.
Apakah sayap yang patah itu memang harus disambung kembali?
Atau apakah justru dalam kepatahannya, burung itu sudh menjadi sesuatu yang utuh dengan caranya sendiri?
Pertanyaan itu menggantung di udara, tidak terjawab, dan Sarah merasakan sesuatu yang lama tidak ia rasakan.
Kelelahan yang bukan berasal dari otot atau dari jam kerja yang panjang, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Kelelahan yang berasal dari delapan tahun perlawanan terhadap waktu.
Delapan tahun usaha untuk mempertahankan sesuatu yang sudah lama pergi. Delapan tahun keyakinan bahwa jika ia cukup teliti, jika ia cukup sabar, jika ia cukup keras kepala, ia bisa mengembalikan segalanya ke keadaan semula.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kenyataannya adalah bahwa adiknya sudah mati. Kenyataannya adalah bahwa jam saku itu sudah berhenti.
Kenyataannya adalah bahwa tidak peduli berapa kali ia membongkar dan membersihkan dan menyetel ulang, jarum itu tidak akan pernah bergerak lagi.
Dan mungkin, mungkin, itu bukan karena ia kurang berusaha. Mungkin itu karena memang sudah waktunya untuk berhenti.
Sarah meletakkan kedua jam saku itu kembali ke meja, berdampingan, seperti dua batu nisan kecil yang menandai sesuatu yang telah berakhir.
Ia menarik napas panjang, dan di dalam dadanya, detak jantungnya terus berdetak dengan irama yang sama lambatnya dengan jam-jam di dinding.
Ia tidak tahu apakah ia sedang mendengarkan dirinya sendiri atau apakah ia sedang mendengarkan waktu yang terus berjalan di sekitarnya. Mungkin keduanya adalah hal yang sama.
Mungkin selama ini ia telah begitu sibuk mendengarkan detak jam-jam itu sehingga ia tidak pernah benar-benar mendengarkan detak jantungnya sendiri.
Dan detak jantungnya sendiri, ia sadari sekarang, terdengar lelah. Terdengar seperti seseorang yang telah berlari terlalu lama tanpa pernah tahu ke mana ia pergi.
Terdengar seperti seseorang yang telah menahan napas selama delapan tahun dan baru sekarang menyadari bahwa ia bisa menghembuskannya.
Di luar, matahari terus bergerak. Cahayanya mulai bergeser dari jendela depan ke jendela samping, menandakan bahwa siang sudah mulai beranjak menjadi sore.
Di dalam bengkel, debu-debu terus beterbangan di udara, partikel-partikel kecil yang melayang tanpa tujuan, dan Sarah memperhatikan semuanya dengan mata yang sama yang telah memperhatikan benda-benda rusak selama dua belas tahun.
Tapi kali ini ada perbedaan. Kali ini ia tidak mencari apa yang perlu diperbaiki. Kali ini ia hanya melihat.
Hanya mengamati. Hanya membiarkan segalanya berada di tempatnya masing-masing, tanpa perlu campur tangan, tanpa perlu usaha untuk mengembalikan ke keadaan semula.
Suara detak jam terus bergema di dinding-dinding bengkel. Tiga puluh dua jam dengan tiga puluh dua irama yang berbeda, masing-masing dengan kecepatannya sendiri, masing-masing dengan waktunya sendiri.
Tapi di telinga Sarah, semuanya terdengar sama sekarang: lambat, berat, seperti langkah kaki seseorang yang tidak lagi terburu-buru.
Dan di antara semuanya, di antara detak-detak yang terus berulang tanpa henti, Sarah mendengarkan satu suara yang paling jelas: suara napasnya sendiri.
Napas yang masuk dan keluar dari paru-parunya dengan ritme yang tidak perlu ia perbaiki. Napas yang terus berjalan meskipun ia tidak pernah memintanya untuk terus berjalan.
Napas yang, selama delapan tahun, telah menjadi satu-satunya hal di dalam bengkel ini yang tidak pernah berhenti, tidak pernah rusak, dan tidak pernah membutuhkan perbaikan.
Sarah menatap burung kayu itu lagi. Sayapnya yang patah masih menggantung dengan sudut yang salah. Tapi kali ini, ketika Sarah melihatnya, ia tidak melihat kerusakan.
Ia melihat sesuatu yang lain: sebuah cerita yang tidak perlu ia selesaikan. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu ia jawab.
Sebuah benda yang, dalam ketidaksempurnaannya, telah menjadi lebih jujur tentang apa artinya hidup daripada semua jam yang pernah ia perbaiki.
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil obeng atau tang, melainkan hanya untuk menyentuh permukaan kayu itu. Merasakan teksturnya di bawah ujung jari.
Merasakan retakan di sayap yang patah, retakan yang sudah menjadi bagian dari benda itu, yang sudah menjadi sejarahnya, yang sudah menjadi identitasnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sarah tidak mencoba memperbaiki apa yang ia sentuh. Ia hanya menyentuhnya. Hanya merasakannya.
Hanya membiarkannya ada, dalam keadaan apa adanya, tanpa perlu campur tangan, tanpa perlu usaha untuk mengubah.
Detak jam di dinding terus bergema. Lambat. Berat. Seperti jantung yang lelah tapi masih terus berdetak.
Dan Sarah duduk di sana, di meja kerjanya, dengan burung kayu bersayap patah di satu sisi dan dua jam saku yang berhenti pada waktu yang sama di sisi lain, dan ia membiarkan dirinya tidak melakukan apa-apa.
Tidak memperbaiki. Tidak mencoba. Tidak melawan. Hanya duduk. Hanya bernapas. Hanya mendengarkan suara waktu yang terus berjalan, bahkan ketika ia sendiri sudah berhenti berusaha untuk mengejarnya.
