Senja ketiga belas turun dengan cahaya jingga yang menembus jendela bengkel, membiaskan bayangan panjang di lantai kayu yang sudah mengilap karena puluhan tahun diinjak.
Sarah Wulandari masih duduk di meja kerjanya, punggungnya sedikit membungkuk, tangannya diam di atas permukaan kayu yang penuh goresan.
Burung kayu bersayap patah itu masih tergeletak di sudut meja, belum tersentuh sejak pagi. Ia tidak mencoba memperbaikinya. Ia juga tidak mencoba mengabaikannya.
Benda itu hanya ada di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab segera, seperti sebuah luka yang sudah cukup tua untuk tidak lagi terasa perih namun masih menyisakan bekas yang tidak bisa dihapus.
Di sekelilingnya, tiga puluh dua jam dinding terus berdetak. Masing-masing dengan iramanya sendiri. Masing-masing dengan waktunya sendiri. Namun hari ini suara itu terasa berbeda.
Bukan lebih lambat seperti dua hari sebelumnya, melainkan lebih berat. Seolah setiap detak membawa beban yang tidak hanya dihitung dalam detik dan menit, melainkan dalam kenangan dan pertanyaan yang belum terjawab.
Sarah mendengarkan suara itu dan merasakan sesuatu mengendap di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki.
Ia menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke jam saku yang tergeletak di dekat burung kayu. Dua jam saku. Satu milik Dimas, satu milik Raka.
Keduanya berhenti pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit. Keduanya memiliki ukiran bintang bersudut lima di bagian belakang.
Keduanya identik dalam segala hal kecuali satu: yang satu telah berada di tangannya selama delapan tahun, sementara yang satu lagi datang tiga hari lalu dibawa oleh seorang remaja yang tidak seharusnya memiliki benda itu.
Sarah menatap kedua jam saku itu dan merasakan pertanyaan yang sama kembali berputar di kepalanya, seperti roda gigi yang tidak pernah berhenti bergerak meskipun jamnya sendiri telah mati.
Dari mana Raka mendapatkan semua ini?
Pertanyaan itu telah menggerogoti pikirannya sejak malam pertama Raka datang ke bengkel.
Sejak remaja itu meletakkan mainan kayu bertanda “Ari” di meja kerjanya dan menyebutkan nama Dimas dengan suara pelan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seseorang yang tidak pernah mengenal adiknya.
Sejak ia membawa radio tua dengan tulisan tangan Dimas di dalamnya. Sejak ia menceritakan tentang seorang mahasiswa berjaket denim yang mengajarinya membongkar radio di sebuah gudang dekat terminal.
Setiap benda yang dibawa Raka adalah benda yang seharusnya berada di dalam kamar Dimas. Setiap cerita yang ia bagikan adalah cerita tentang sisi kehidupan Dimas yang tidak pernah diketahui Sarah.
Dan setiap kali Raka datang, pertanyaan itu semakin dalam menggerogoti, semakin tajam menusuk, semakin sulit untuk diabaikan.
Sarah mengalihkan pandangannya ke jendela. Cahaya jingga di luar semakin pekat, berubah menjadi ungu di ufuk barat. Sebentar lagi malam akan tiba.
Sebentar lagi ia akan menyalakan lampu neon di atas meja kerjanya, seperti yang ia lakukan setiap hari selama dua belas tahun terakhir.
Sebentar lagi ia akan berjalan ke ujung rumah, ke kamar Dimas, dan duduk di sana selama beberapa menit seperti yang ia lakukan setiap malam selama delapan tahun.
Rutinitas yang tidak pernah berubah. Rutinitas yang telah menjadi jangkarnya. Rutinitas yang kini terasa semakin rapuh, seolah setiap benda baru yang dibawa Raka adalah retakan kecil di dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri.
Suara langkah kaki di luar bengkel membuat Sarah menoleh.
Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Hanya ada satu orang yang akan datang ke bengkelnya di jam senja seperti ini.
Hanya ada satu orang yang langkah kakinya terdengar ragu namun pasti, seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia diterima namun tidak bisa menahan diri untuk tetap datang.
Sarah mendengarkan langkah itu mendekat, mendengarkan suara pintu bengkel yang didorong pelan, mendengarkan suara napas yang sedikit terengah karena berjalan terlalu cepat.
Dan ketika ia akhirnya mengangkat pandangannya, Raka Wijaya sudah berdiri di ambang pintu, tubuh kurusnya dibingkai oleh cahaya senja yang hampir mati, tangannya memegang sesuatu yang dibungkus dengan kain usang.
“Selamat sore, Kak,” kata Raka pelan.
Sarah tidak menjawab. Ia hanya menatap remaja itu, menatap bungkusan di tangannya, dan merasakan pertanyaan yang sama kembali muncul ke permukaan.
Apa lagi yang akan kau bawa kali ini?
Apa lagi yang akan kau ceritakan?
Apa lagi yang kau simpan tentang adikku yang tidak pernah kuketahui?
Raka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan yang hati-hati, lalu berjalan ke arah meja kerja Sarah.
Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja, di samping burung kayu bersayap patah, dan mulai membuka kain usang yang membungkusnya dengan jari-jari yang pelan dan teliti.
Sarah memperhatikan gerakan itu. Gerakan yang familiar. Gerakan yang mengingatkannya pada seseorang.
Seseorang yang dulu juga selalu membuka benda-benda dengan hati-hati, seolah setiap benda memiliki cerita, seolah setiap benda layak diperlakukan dengan hormat.
Ketika kain terakhir terlepas, sebuah kotak musik tua muncul ke permukaan.
Kotak itu terbuat dari logam yang dulu mungkin berwarna perak, namun kini telah berubah menjadi abu-abu kusam dimakan usia.
Ukiran di permukaannya sudah pudar, hampir tidak terbaca, hanya menyisakan garis-garis samar yang dulu mungkin membentuk bunga atau burung atau sesuatu yang indah.
Engselnya berkarat. Tutupnya sedikit miring ke kanan, seolah pernah terjatuh atau terbentur sesuatu.
Dan ketika Sarah mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaan logam itu, ia merasakan dingin yang bukan berasal dari suhu ruangan. Dingin yang berasal dari waktu. Dingin yang berasal dari delapan tahun kesunyian.
“Kotak musik,” gumam Sarah, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Raka.
“Dari mana kau dapatkan ini?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia berdiri di sisi meja, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket tipisnya, matanya menatap kotak musik itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Ada sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang bukan hanya kesungguhan, melainkan juga kehati-hatian.
Seolah ia tahu bahwa setiap benda yang ia bawa ke bengkel ini adalah sebuah batu yang dilemparkan ke permukaan air yang tenang, dan ia tidak pernah yakin seberapa besar riak yang akan ditimbulkannya.
“Saya menemukannya di rumah seorang nenek,” kata Raka akhirnya. Suaranya tetap pelan, tetap sopan, tetap hati-hati.
“Di ujung gang dekat Pasar Beringharjo. Nenek itu sudah tua sekali, Kak. Tinggal sendirian. Anak-anaknya sudah lama pergi, suaminya sudah meninggal. Rumahnya kecil dan gelap dan penuh dengan barang-barang tua yang sudah tidak ada yang mau.”
Sarah mendengarkan, jari-jarinya masih menyentuh permukaan kotak musik itu, merasakan dinginnya, merasakan tekstur logam yang sudah aus.
“Bagaimana kau bisa sampai ke rumah nenek itu?” tanyanya.
Raka mengangkat bahu sedikit. Gerakan kecil yang hampir tidak terlihat.
“Saya sering berjalan-jalan di sekitar pasar, Kak. Melihat-lihat barang bekas. Mencari benda-benda yang masih bisa diperbaiki. Kadang-kadang saya bertemu orang-orang. Orang-orang yang punya cerita. Orang-orang yang punya kenangan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang sedikit lebih pelan,
“Orang-orang yang pernah dibantu oleh seseorang.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Menggantung di antara detak jam yang terus berdetak. Menggantung di antara Sarah dan Raka dan kotak musik tua yang tergeletak di atas meja.
Sarah merasakan sesuatu mengetat di dadanya. Bukan rasa sakit. Bukan rasa takut. Melainkan sesuatu yang lebih rumit.
Sesuatu yang merupakan campuran dari rasa ingin tahu dan rasa tidak percaya dan rasa takut akan apa yang mungkin ia temukan jika ia terus menggali.
“Seseorang,” ulang Sarah pelan.
“Dimas.”
Raka mengangguk. Pelan. Hampir tidak terlihat. Namun cukup untuk membuat Sarah merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih tajam.
“Dimas memperbaiki kotak musik ini untuk nenek itu,” kata Raka.
“Dulu. Bertahun-tahun lalu. Sebelum…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Mereka berdua tahu apa yang tidak diucapkan. Mereka berdua tahu apa yang menggantung di akhir kalimat itu.
Sarah menatap kotak musik itu lagi. Kali ini dengan mata yang berbeda. Kali ini dengan pemahaman yang berbeda. Benda ini bukan hanya benda tua yang rusak. Benda ini adalah saksi.
Saksi dari sesuatu yang tidak pernah ia ketahui tentang adiknya. Saksi dari kebaikan yang dilakukan Dimas tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Saksi dari kehidupan rahasia yang dijalani oleh seorang mahasiswa berjaket denim yang selalu pulang ke rumah dengan tangan penuh oli dan senyum yang tidak pernah sepenuhnya bisa diartikan.
