Lampu koridor lantai dua belas masih menyala ketika Damar Pratama menekan tombol lift, jari telunjuknya menempel lebih lama dari yang diperlukan pada panel logam yang sudah aus di bagian tengah.
Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit. Ia menghitung tanpa benar-benar peduli, karena tubuhnya sudah merekam jadwal ini seperti mesin yang diprogram untuk mengulang siklus yang sama.
Pulang setelah gedung kantor hampir kosong, menunggu lift yang selalu berhenti di lantai sembilan tanpa penumpang, lalu berjalan menyusuri koridor apartemen yang sunyi dengan langkah kaki yang tidak lagi terasa seperti miliknya sendiri.
Pintu apartemen membuka dengan bunyi klik elektronik yang familiar. Damar melepas sepatu di genkan, menggantung jas tipisnya di gantungan dinding, dan berdiri sejenak di ambang ruang tamu. Tidak ada yang menyambutnya.
Tidak ada suara televisi yang tertinggal menyala, tidak ada aroma masakan yang mengambang dari dapur, tidak ada pesan singkat yang menunggu dibalas.
Hanya dengung rendah dari kulkas dan pendingin ruangan yang bekerja tanpa henti, mengisi kekosongan dengan frekuensi yang terlalu pelan untuk disebut suara.
Ia menyalakan lampu ruang tamu dengan gerakan otomatis, dan apartemen itu muncul dalam pencahayaan kuning pucat yang memperlihatkan segala sesuatu persis seperti yang ia tinggalkan dua belas jam sebelumnya.
Sofa abu-abu dengan bantal yang masih rapi, meja kopi tanpa cangkir atau majalah, rak buku yang setengah kosong karena ia tidak pernah punya waktu untuk mengisinya.
Apartemen ini terlalu luas untuk satu orang, dan Damar tahu itu sejak pertama kali menyewanya dua tahun lalu.
Tapi saat itu ia berpikir ruang lebih adalah kemewahan, sesuatu yang pantas dimiliki oleh seseorang dengan karier yang sedang menanjak. Sekarang ruang lebih itu terasa seperti tuduhan.
Damar berjalan ke jendela kaca besar yang menghadap ke jalan protokol di bawah.
Di kejauhan, lampu-lampu gedung perkantoran masih menyala dalam pola yang tidak beraturan, jendela-jendela kecil yang berpendar kuning dan putih, masing-masing menampung seseorang yang masih terjaga karena alasan yang mungkin tidak jauh berbeda dengannya.
Deadline. Presentasi besok pagi. Laporan yang harus selesai sebelum akhir kuartal. Ia mengenali alasan-alasan itu seperti mengenali wajah sendiri di cermin: familiar, fungsional, dan semakin hari semakin sulit dibedakan dari sekadar kebiasaan.
Proyek besar yang baru saja ia selesaikan masih terasa di ujung jari dan di otot leher yang menegang.
Presentasi klien berjalan lancar, angka konversi melampaui target, dan atasannya mengirim email apresiasi yang akan ia arsipkan besok pagi sebagai bukti kinerja. Secara teknis, ini adalah kemenangan.
Tapi ketika Damar mencoba mengingat kembali momen setelah meeting terakhir selesai, yang ia temukan hanyalah kekosongan.
Ia berdiri di depan laptop yang masih menyala, menatap layar yang perlahan meredup ke mode hemat daya, dan tidak merasakan apa pun selain kelegaan yang terlalu singkat untuk disebut kepuasan.
Ia menekan tombol power pada laptopnya lebih awal dari biasanya malam itu. Tidak ada email yang perlu dibalas, tidak ada notifikasi Slack yang menuntut perhatian.
Untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu terakhir, pekerjaannya benar-benar selesai. Dan justru di situlah masalahnya: ketika tidak ada lagi yang harus dikerjakan, Damar tidak tahu harus mengisi ruang kosong itu dengan apa.
Ponselnya bergetar di saku celana. Alina.
Damar mengeluarkan ponsel dan menatap nama yang muncul di layar selama dua detik sebelum mengangkat. “Halo.”
“Kamu baru pulang?” Suara Alina terdengar sedikit serak, dengan latar belakang yang samar – mungkin musik, mungkin suara jalanan dari jendela yang terbuka. Damar tidak bisa memastikan.
“Baru sampai apartemen. Tadi meeting terakhir molor sedikit.”
“Aku juga baru selesai. Proyek instalasi ini bikin aku lupa waktu. Tadi siang aku coba teknik baru buat tekstur permukaannya, tapi hasilnya masih belum sesuai. Mungkin besok aku ulang lagi.”
Damar mengangguk pelan, meskipun Alina tidak bisa melihatnya.
“Teknik apa?”
“Campuran resin sama serat alami. Aku dapat inspirasinya dari video dokumenter tentang pengrajin tenun di Timor. Mereka pakai teknik yang sudah turun-temurun, dan aku pikir… menarik kalau bisa diaplikasikan ke medium yang lebih kontemporer.”
Damar mendengar kata-kata itu, tapi pikirannya sudah melayang ke presentasi yang baru saja ia selesaikan.
Slide keempat – grafik pertumbuhan pengguna – ada anomali di data bulan Agustus yang belum sempat ia jelaskan ke klien. Besok ia harus mengirim klarifikasi. Atau mungkin sekarang, sebelum tidur, supaya tidak menumpuk di pagi hari.
“Damar?” Ia mengedip.
“Iya. Maaf. Kedengaran menarik. Jadi kamu bakal lanjut besok?” Jeda sejenak di ujung sana.
“Iya. Aku lanjut besok.” Nada suara Alina berubah sedikit – tidak dingin, tidak kecewa, hanya sedikit lebih datar dari sebelumnya.
Seperti seseorang yang sudah terbiasa mengulang kalimat yang sama dan tahu bahwa lawan bicaranya tidak sepenuhnya mendengar.
“Aku capek bangat hari ini,” kata Damar, mengisi jeda yang mulai terasa tidak nyaman.
“Tapi seneng proyeknya akhirnya selesai. Lega rasanya.”
“Baguslah. Kamu perlu istirahat. Besok masih ada yang harus dikerjakan?”
“Selalu ada.” Alina tertawa kecil, tapi tawa itu tidak mencapai matanya – Damar bisa membedakan dari getaran suara yang terlalu pendek dan terlalu ringan.
“Kamu nggak pernah berhenti, ya?”
“Karier nggak akan nunggu kita siap. Kamu juga tahu itu.”
“Aku tahu. Tapi kadang aku mikir… apa yang kita kejar ini bakal cukup suatu hari nanti? Atau kita cuma terus nambah target baru setiap kali target lama tercapai?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, dan Damar merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namai – bukan kemarahan, bukan kesedihan, tapi sebuah kesadaran yang muncul terlalu cepat untuk ditangkap dan terlalu lambat untuk diabaikan.
Ia ingin menjawab, tapi kata-kata yang tersedia di kepalanya hanyalah jargon presentasi dan poin pembicaraan yang sudah usang.
“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya.
“Mungkin kita baru tahu setelah sampai di sana.”
“Atau mungkin kita nggak pernah sampai, karena garis finish-nya memang tidak pernah ada.”
Damar menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Sosok tinggi kurus dengan kemeja yang sedikit longgar di bahu, rambut yang mulai berantakan setelah dua belas jam bekerja, dan mata yang terlihat lebih lelah dari yang ia ingat pagi tadi.
“Kamu filosofis banget malam-malam.”
“Aku serius, Damar.”
“Aku juga. Aku cuma… capek. Besok kita ngobrol lagi, ya?” Jeda lagi. Kali ini lebih panjang.
“Iya. Besok. Selamat istirahat.”
“Kamu juga. Jangan tidur terlalu malam.”
Panggilan berakhir, dan layar ponsel kembali menampilkan wallpaper default – langit biru dengan awan putih yang terlalu sempurna untuk dipercaya.
Damar menyimpan ponsel ke saku dan berdiri di depan jendela lebih lama dari yang ia rencanakan. Percakapan dengan Alina selalu berakhir seperti ini akhir-akhir ini.
Dua orang yang saling berbicara tapi tidak benar-benar mendengar, dua jadwal yang bertabrakan tanpa ada yang mau mengalah, dua suara yang mencari frekuensi yang sama tapi terus meleset beberapa hertz dari titik temu.
Ia tidak bisa menyalahkan Alina. Alina tidak bisa menyalahkannya. Masalahnya bukan pada siapa yang salah, tapi pada kenyataan bahwa keduanya benar – hanya saja kebenaran mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama.
