Bab 1 – Lampu Kantor yang Masih Menyala

Damar berjalan ke kamar mandi dan membuka keran air hangat. Uap mulai memenuhi ruangan kecil itu, mengaburkan cermin dan menciptakan ilusi kehangatan yang tidak benar-benar ada.

Ia melepas kemeja, melipatnya dengan rapi di atas keranjang cucian, lalu berdiri di bawah pancuran dengan gerakan yang terlalu metodis untuk disebut relaksasi.

Air hangat mengalir di bahu dan punggungnya, membawa serta sisa-sisa ketegangan yang menumpuk di otot trapezius dan rhomboid – nama-nama otot yang ia pelajari dari aplikasi kesehatan yang tidak pernah ia buka lagi setelah minggu pertama.

Tapi air tidak bisa mencuci apa yang sebenarnya ingin ia bersihkan.

Kekosongan itu tetap menempel. Bukan di kulit atau di otot, tapi di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh air maupun logika.

Di ruang antara tulang rusuk dan diafragma, di celah antara pikiran dan perasaan, di bagian dirinya yang paling tidak terlindungi dan paling jarang ia akui keberadaannya.

Damar mematikan keran dan meraih handuk. Gerakannya lambat, bukan karena lelah, tapi karena ia sedang mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Bukan hadir secara fisik – tubuhnya selalu ada di tempat yang seharusnya, di kantor, di apartemen, di meeting room dengan kursi ergonomis dan proyektor yang selalu macet di menit pertama.

Tapi hadir secara penuh: mendengar tanpa menyusun jawaban, melihat tanpa mengevaluasi, merasa tanpa segera mengkategorikan emosi itu sebagai produktif atau tidak produktif.

Ia tidak bisa mengingatnya. Dan itu lebih menakutkan dari deadline mana pun yang perah ia hadapi. Di kamar tidur, Damar duduk di tepi kasur dengan handuk masih melingkar di leher.

Laptopnya tergeletak di meja samping, layarnya gelap, tapi ia bisa merasakan tarikan gravitasi dari benda itu – sebuah undangan untuk membuka email, memeriksa notifikasi, memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.

Ia menolak tarikan itu malam ini, dan penolakan itu terasa seperti kemenangan kecil yang tidak akan dicatat oleh siapa pun.

Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan Damar mulai curiga bahwa ia juga tidak.

Bukan dalam arti harfiah – ia tidur, tentu saja, rata-rata lima setengah jam setiap malam, cukup untuk berfungsi tapi tidak cukup untuk bermimpi.

Tapi ada bagian dari dirinya yang terus terjaga bahkan ketika tubuhnya beristirahat, bagian yang terus menghitung, merencanakan, mengantisipasi, dan tidak pernah benar-benar menyerah pada keheningan.

Ia memikirkan Alina, yang saat ini mungkin masih terjaga di studionya di Yogyakarta, dikelilingi sketsa dan material proyek, mencoba teknik baru yang ia deskripsikan dengan antusiasme yang dulu selalu membuat Damar tersenyum.

Dulu. Sebelum antusiasme itu menjadi sesuatu yang ia dengar sambil lalu, sambil matanya tetap terpaku pada layar laptop, sambil pikirannya menyusun daftar tugas untuk hari berikutnya.

Kapan terakhir kali ia benar-benar mendengarkan Alina tanpa gangguan?
Tanpa ponsel di tangan, tanpa tab browser yang terbuka di latar belakang, tanpa jadwal meeting yang mengintai di sudut pikiran?

Pertanyaan itu muncul tanpa peringatan, dan Damar tidak punya jawaban yang memuaskan.

Yang ia punya hanyalah daftar percakapan yang setengah hadir, panggilan telepon yang terburu-buru, dan momen-momen yang seharusnya menjadi milik mereka berdua tapi malah menjadi milik pekerjaannya seorang diri.

Ia menghela napas panjang, dan suara itu terdengar asing di kamar yang terlalu sunyi.

Bukan napas kelegaan, bukan napas frustrasi. Hanya napas seseorang yang mulai menyadari bahwa ia telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menjadi sukses sehingga ia lupa bagaimana caranya menjadi hadir.

Dan kesadaran itu, untuk pertama kalinya, terasa lebih berat dari semua target kuartalan yang pernah ia capai.

Di atas meja samping, ponselnya bergetar sekali lagi – notifikasi email masuk. Mungkin dari klien, mungkin dari atasan, mungkin dari sistem otomatis yang tidak peduli bahwa sudah hampir tengah malam.

Damar menatap layar yang menyala itu, dan untuk beberapa detik ia membiarkan dirinya tidak meraihnya. Tidak membalas. Tidak memeriksa.

Di kejauhan, suara sirene ambulans melintas di jalan protokol, makin lama makin pelan sampai akhirnya lenyap ditelan hiruk-pikuk kota yang tidak pernah berhenti.

Damar memejamkan mata dan mencoba mengingat suara Alina saat ia tertawa sungguhan.

Bukan tawa sopan di telepon, bukan tawa singkat yang mengisi jeda canggung, tapi tawa yang dulu pernah ia dengar di suatu sore di Bandung, ketika mereka masih punya waktu untuk duduk tanpa agenda dan berbicara tanpa deadline.

Tawa yang muncul dari sesuatu yang lucu dan sederhana, sesuatu yang sekarang sudah tidak bisa ia ingat detailnya tapi masih bisa ia rasakan gaungnya di suatu tempat di dalam dada.

Gaung itu masih ada. Samar, tapi ada. Dan selama gaung itu masih bisa ia rasakan, mungkin – hanya mungkin – belum semuanya terlambat.

Sebelumnya:
Jeda dan Jejak

Latest Novel ionicons-v5-c