Hari sudah bergeser ke senja ketika ponsel Sari Wulandari berdering di atas meja kerja yang penuh sketsa.
Studio seni di Yogyakarta itu tidak besar, hanya sebuah ruang bekas gudang yang ia sulap menjadi tempat kerja dengan dinding bata ekspos dan jendela tinggi yang membiaskan cahaya jingga.
Di sekelilingnya, gulungan kertas kalkir berserakan, beberapa sudah dipenuhi garis-garis arsitektural yang presisi, yang lain masih kosong menunggu sentuhan berikutnya.
Ia sedang berdiri di depan papan mood board ketika nada dering itu memotong konsentrasinya, sebuah lagu lama yang sengaja ia pasang sebagai penanda siapa yang menelepon.
Sari melirik layar. Nama Damar Pratama terpampang di sana, huruf-huruf putih di atas latar gelap.
Ia membiarkannya berdering tiga kali, empat kali, sambil menyeka ujung jari yang terkena arang ke kain lap yang tergantung di pinggir meja. Lalu ia mengangkatnya.
“Halo.” Suaranya terdengar sedikit serak, bukan karena lelah, melainkan karena ia belum banyak bicara sepanjang hari.
Di ujung sana, Damar membalas dengan nada yang lebih rapi, lebih terstruktur, seperti seseorang yang baru saja keluar dari rapat dan belum sempat melepas mode profesionalnya.
“Alina. Lagi sibuk?” Ia memanggilnya Alina. Selalu begitu.
Nama itu sudah menjadi semacam kode di antara mereka, sebuah panggilan sayang yang lahir dari masa-masa awal hubungan mereka di Bandung, ketika Damar pertama kali melihatnya menggambar di sebuah kafe kecil dan bertanya apakah ia boleh duduk di sebelahnya.
Sari tidak pernah keberatan dengan nama itu. Tapi belakangan, entah kenapa, ia merasa panggilan itu terdengar seperti sesuatu yang diucapkan dari jarak jauh, bukan dari keintiman.
“Nggak juga,” jawab Sari. Ia menarik kursi kayu dan duduk, punggungnya menempel ke sandaran yang tidak empuk.
“Aku baru selesai nyusun fase awal proyek. Lumayan melelahkan, tapi…”
Ia menatap papan mood board di depannya, kolase foto-foto taman kota, referensi lanskap dari majalah arsitektur Jepang, dan catatan-catatan kecil yang ia tulis dengan spidol warna berbeda.
“Tapi aku merasa lebih hidup di sini.” Damar tidak langsung merespons. Sari mendengar suara samar di latar belakang, mungkin suara klakson atau deru mesin kendaraan yang merayap di jalanan Jakarta.
Ia membayangkan Damar sedang berdiri di balkon apartemennya, atau mungkin duduk di sofa dengan laptop masih menyala di dekatnya. Posisi yang persis sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
“Aku senang denger itu,” kata Damar akhirnya. Nadanya hati-hati, seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan pertimbangan matang.
“Proyeknya jadi lebih besar dari yang kamu rencanain sebelumnya?” Sari menghela napas pendek.
Ini bukan pertama kalinya ia merasa Damar mendengarkan dengan setengah telinga, seolah-olah otaknya masih memproses spreadsheet dan deadline sementara mulutnya mengucapkan kata-kata yang tepat.
Tapi ia memutuskan untuk tidak membahas itu sekarang. Ada hal lain yang lebih penting.
“Damar, aku mau ngomong sesuatu.” Jeda.
Bukan jeda yang canggung, melainkan jeda yang penuh perhitungan, seperti ruang kosong di antara dua kalimat yang sama-sama tahu ke mana arah percakapan ini akan berjalan. Sari menunggu.
Ia sudah menyiapkan kata-kata ini sejak tiga hari lalu, sejak ia berdiri di depan kanvas kosong di studionya dan menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membagi hidupnya antara dua kota, dua ritme, dua versi dirinya yang berbeda.
“Aku dengerin,” kata Damar.
“Aku udah mutusin buat pindah permanen ke Yogya.” Kalimat itu keluar lebih mudah dari yang ia kira. Tidak ada getar di suaranya, tidak ada keraguan yang menyelinap di antara suku kata.
Ia mengucapkannya seperti seseorang yang baru saja menandatangani kontrak dengan dirinya sendiri, dan sekarang tinggal menyerahkan salinannya ke pihak lain untuk ditandatangani juga. Atau tidak.
Di ujung sana, Damar terdiam. Sari bisa mendengar napasnya, ritmis dan teratur, seperti seseorang yang sedang menghitung sampai sepuluh dalam hati sebelum merespons sesuatu yang tidak terduga.
Ketika ia akhirnya bicara, suaranya masih tenang, tapi Sari mengenal nada itu.
Nada yang sama yang ia dengar ketika Damar menerima telepon dari klien yang membatalkan kontrak di menit terakhir, atau ketika bosnya meminta revisi presentasi untuk besok pagi.
Nada seseorang yang sedang memproses informasi dan mencari solusi praktis.
“Pindah permanen,” ulang Damar, bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai konfirmasi.
“Berarti kamu ninggalin Jakarta sepenuhnya?”
“Iya.”
“Dan proyek kamu di sana…”
“Proyeknya lebih besar. Lebih punya makna buat aku.” Sari mencondongkan tubuh ke depan, sikunya menyentuh meja.
“Ini bukan keputusan yang tiba-tiba, Damar. Aku udah mikirin ini berbulan-bulan. Studio ini, ruang kerja ini, semua yang aku bangun di sini… ini yang selama ini aku cari.”
Damar menghela napas. Sari mendengar suara gesekan, mungkin Damar mengusap wajahnya dengan telapak tangan, gestur yang selalu ia lakukan ketika sedang kelelahan tapi tidak mau mengakuinya.
“Aku ngerti,” katanya.
“Aku ngerti kok. Cuma…” Ia berhenti, dan Sari tahu persis apa yang akan keluar berikutnya.
“Cuma gimana dengan kita?” Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini menggantung di antara mereka seperti lampu neon yang berkedip-kedip, tidak pernah benar-benar menyala dan tidak pernah benar-benar mati.
Sari menatap jendela tinggi di studionya. Cahaya jingga sudah mulai memudar, digantikan oleh biru keunguan yang merayap dari ufuk timur.
“Aku justru mau nanya itu ke kamu,” kata Sari pelan.
“Karena jujur, Damar… aku nggak merasa kamu pernah sepenuhnya hadir. Bahkan pas kita sama-sama di Jakarta. Bahkan pas kita ketemu langsung.” Ia membiarkan kalimat itu menggantung.
Tidak ada tuduhan di dalamnya, hanya kejujuran yang sudah terlalu lama disimpan dan sekarang akhirnya menemukan bentuknya sendiri.
Sari mendengar napas Damar berubah, menjadi lebih pendek, lebih terputus. Seperti seseorang yang baru saja tersadar bahwa ia sedang berjalan di tepi jurang dan tidak menyadarinya sampai seseorang menunjuk ke bawah.
“Alina, aku…”
“Kamu selalu setengah di sana,” potong Sari. Suaranya tidak keras, tapi tegas, seperti garis pensil yang ditekan cukup dalam agar tidak mudah dihapus.
“Setengah di kantor, setengah di email, setengah di presentasi berikutnya. Bahkan waktu kita makan malam bareng, matamu masih ngeliatin jam. Bahkan waktu aku cerita tentang proyekku, kamu nanya deadline-nya kapan, bukan inspirasinya dari mana.”
Damar tidak membantah. Dan itu, bagi Sari, lebih menyakitkan daripada jika ia membantah. Karena diamnya Damar adalah pengakuan. Diamnya Damar adalah cermin yang akhirnya ia paksakan untuk dilihat sendiri.
“Aku nggak minta kamu berhenti kerja,” lanjut Sari.
“Aku nggak minta kamu ninggalin karier kamu. Aku cuma minta kamu hadir. Sepenuhnya. Dan aku rasa… aku rasa itu sesuatu yang nggak bisa kamu kasih sekarang.”
Di ujung sana, Damar menghela napas panjang. Sari membayangkan ia sedang duduk di apartemennya, ruangan yang selalu ia deskripsikan sebagai terlalu luas untuk satu orang, dengan lampu-lampu kota Jakarta yang berkedip di kejauhan seperti sinyal yang tidak pernah sampai.
