Bab 3 – Pesan yang Tak Dibalas

Layar laptop di depan Damar menampilkan deretan angka yang seharusnya ia baca. Laporan penjualan kuartal ketiga, grafik batang berwarna biru dan oranye, persentase pertumbuhan yang naik dua koma tiga persen.

Tapi matanya hanya menelusuri kolom-kolom itu tanpa menangkap artinya, seperti seseorang yang membaca buku dengan halaman yang terus berulang.

Sudah sebelas hari sejak ia mengirim paket itu ke Yogyakarta.

Damar menggeser kursor ke sudut layar, membuka aplikasi pelacakan pengiriman untuk keempat kalinya pagi ini.

Statusnya masih sama: Paket telah diterima di alamat tujuan, dengan cap waktu tiga hari setelah ia mengirimkannya dari kantor pos dekat apartemen.

Ia membayangkan Sari menerima kotak karton cokelat itu, membukanya dengan pisau cutter seperti yang selalu ia lakukan, menemukan tiga benda yang Damar pilih dengan hati-hati.

Sekantong biji kopi Arabika dari roastery langganan mereka dulu di Bandung, buku Lanskap Urban Kontemporer yang baru terbit bulan lalu, dan sebuah kartu ucapan bergambar abstrak yang ia tulis dengan canggung di meja apartemennya.

Semoga proyekmu lancar. Aku tahu ini akan jadi sesuatu yang besar.

Itu saja. Dua kalimat yang ia tulis setelah merobek tiga kartu sebelumnya karena merasa kata-katanya terlalu berlebihan atau terlalu kering. Damar bukan tipe orang yang pandai menuangkan perasaan ke dalam tulisan.

Baginya, tindakan selalu lebih jujur daripada kata-kata.

Mengirim sesuatu yang konkret, sesuatu yang bisa dipegang dan digunakan, adalah caranya mengatakan aku di sini, aku memikirkanmu, aku masih ada tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Tapi sekarang, menatap layar pelacakan yang tidak berubah, ia mulai meragukan logika itu.

Di seberang mejanya, Nara sedang berbicara di telepon dengan suara rendah. Sesekali ia tertawa kecil, suara yang Damar kenali sebagai tawa sopan untuk klien.

Nara sudah bekerja di perusahaan ini lebih lama dari Damar, tapi entah bagaimana ia selalu bisa memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dengan rapi, seperti laci-laci yang tidak pernah tumpang tindih.

Damar meliriknya sekilas, lalu kembali ke layar sendiri. Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk. Damar membukanya dengan gerakan yang sudah menjadi refleks.

Proyek Delta: Laporan Kemajuan Tahap II. 

Subject line yang tebal dan formal. Ia menggulir ke bawah tanpa benar-benar membaca, melihat lampiran spreadsheet dan dokumen PDF yang akan menuntut perhatiannya selama berjam-jam ke depan.

Proyek ini adalah salah satu alasan mengapa ia mendapat tawaran promosi itu. Proyek besar, klien besar, ekspektasi besar. Jika ia berhasil, posisinya di perusahaan akan naik signifikan.

Mungkin ia akan punya tim sendiri. Mungkin ia akan bepergian lebih sering, Singapura, Bangkok, Sydney. Mungkin inilah yang selama ini ia kejar.

Tapi di antara kata mungkin dan mungkin itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia hitung dengan spreadsheet.

Damar menutup email dan membuka aplikasi pesan. Percakapan terakhirnya dengan Sari masih menggantung di sana, seperti jendela yang belum ditutup. Pesan dari dirinya sendiri, dikirim tiga hari lalu:

Paketnya sudah sampai? Kopinya masih fresh, aku minta mereka roasting sehari sebelum kirim. 

Di bawahnya, tidak ada balasan. Hanya centang biru yang menunjukkan pesan sudah dibaca. Dibaca, tapi tidak dibalas.

Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, kebiasaan lama yang muncul setiap kali pikirannya mulai berputar ke tempat-tempat yang tidak ia inginkan. Ritme itu familiar: ketukan cepat tiga kali, jeda, lalu dua kali lagi.

Dulu Sari pernah menirukannya sambil tertawa, mengatakan bahwa Damar punya ritme sendiri untuk segala hal, bahkan untuk kegelisahan. Tapi sekarang tidak ada yang menirukan ketukan itu.

Hanya suara AC kantor yang mendengung pelan, dan di kejauhan, suara Nara yang masih berbicara di telepon.

Damar memejamkan mata sejenak. Ia mencoba mengingat percakapan mereka sebelas hari lalu, percakapan yang berakhir dengan suara Sari yang lebih tenang dari yang ia duga.

Bukan kemarahan. Bukan tangisan. Hanya kejelasan, seperti seseorang yang sudah selesai dengan keraguan dan memilih untuk berhenti di sebuah keputusan.

Aku lelah menyesuaikan diri dengan jadwalmu, Damar. Aku lelah menjadi orang yang selalu menunggu.

Kata-kata itu masih tersimpan di suatu tempat di dalam kepalanya, seperti file yang tidak bisa ia hapus. Dan sekarang, sebagai jawaban atas kejujuran itu, Damar mengirimkan sekantong kopi dan buku.

Ia membuka mata dan menatat layar laptop kembali. Grafik penjualan masih di sana, menunggu untuk dianalisis.

Tapi yang ia lihat sekarang adalah sesuatu yang lain: sebuah pertanyaan yang mulai merayap dari pinggiran kesadarannya, seperti jamur yang tumbuh di sudut ruangan yang jarang dibersihkan.

Apakah ini memang caranya mencintai seseorang?

Dengan mengirimkan benda-benda yang bisa dibeli, dengan memastikan kopi masih segar dan buku masih baru, dengan menulis dua kalimat di kartu ucapan dan merasa itu sudah cukup?

Apakah ia selama ini mengira bahwa kehadiran bisa digantikan dengan pengiriman, bahwa perhatian bisa diwakilkan oleh benda, bahwa cinta bisa diukur dengan seberapa praktis dan terencananya sebuah isyarat?

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini sebuah notifikasi kalender: Rapat Tim Proyek Delta, 14:00. Damar melirik jam di sudut layar. Pukul satu lewat dua puluh tiga.

Empat puluh tujuh menit lagi sebelum ia harus duduk di ruang rapat, mempresentasikan progres, menjawab pertanyaan, tersenyum pada klien, melakukan semua hal yang ia kuasai dengan sempurna.

Tapi di antara sekarang dan pukul dua nanti, ada ruang kosong yang biasanya ia isi dengan pekerjaan. Dan hari ini, ruang itu terasa seperti jurang yang terlalu lebar untuk diseberangi.

Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan lagi. Jarinya menggulir ke atas, melewati pesan-pesan lama yang sudah berbulan-bulan usianya.

Foto-foto yang pernah mereka kirimkan: Sari di depan studio barunya, Sari dengan sketsa lanskap yang baru selesai, Sari dengan secangkir kopi dan senyum yang setengah tersembunyi di balik uap.

Damar berhenti di sebuah foto yang diambil di Bandung, dua tahun lalu. Mereka duduk di sebuah kedai kopi kecil, dan Sari sedang tertawa. Bukan tawa sopan atau tawa basa-basi.

Tawa sungguhan, yang membuat matanya menyipit dan bahunya berguncang. Damar ingat persis momen itu.

Ia baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh, sesuatu tentang betapa ia tidak bisa membedakan rasa kopi yang satu dengan yang lain meskipun sudah minum empat cangkir.

Dan Sari tertawa, dan tawa itu mengisi seluruh ruangan, dan untuk sesaat Damar merasa bahwa inilah artinya hadir: ketika seseorang tertawa karena dirimu, dan tawa itu tidak bisa terjadi tanpa kehadiranmu.

Kapan terakhir kali ia mendengar Sari tertawa seperti itu?

Latest Novel ionicons-v5-c