Damar meletakkan ponselnya dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya, seperti benda itu terbuat dari kaca yang bisa pecah.
Ia menatap tangannya sendiri: jari-jari panjang yang biasanya mengetik dengan cepat, sekarang diam di atas meja. Tangannya terasa asing, seperti milik orang lain yang kebetulan terpasang di pergelangannya.
Ia ingat sesuatu yang pernah dikatakan Sari, dalam salah satu percakapan mereka yang lebih tenang, sebelum semuanya mulai retak.
Kadang aku merasa kau ada di sini tapi tidak benar-benar di sini. Seperti kau selalu menyisakan separuh dirimu untuk sesuatu yang lain. Untuk pekerjaanmu. Untuk ambisimu. Untuk masa depan yang bahkan belum terjadi.
Saat itu Damar mengira Sari sedang melebih-lebihkan. Sekarang ia tidak yakin.
Nara menutup teleponnya dan berdiri dari kursi. Ia merenggangkan tangannya ke atas, gerakan kecil yang menunjukkan bahwa ia baru saja menyelesaikan sesuatu yang melelahkan.
“Makan siang?” tanyanya pada Damar, suaranya ringan dan tanpa beban.
“Masih ada yang harus kukerjakan.” Damar menggeleng.
Nara mengangguk, tidak memaksa. Ia mengambil dompetnya dan berjalan ke arah lift, meninggalkan Damar sendirian di antara deretan meja yang mulai kosong.
Jam makan siang selalu seperti ini: orang-orang menghilang ke kafetaria atau ke restoran di seberang jalan, dan kantor berubah menjadi ruangan yang terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang seharusnya penuh dengan aktivitas.
Damar dulu menyukai kesunyian ini. Ia bisa bekerja lebih cepat tanpa gangguan, bisa menyelesaikan spreadsheet dan email tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil dari rekan kerja.
Tapi hari ini kesunyian itu terasa berbeda. Terasa seperti sesuatu yang menekan dari semua arah, seperti ruangan yang perlahan menyempit.
Ia membuka lagi email proyek Delta dan mulai membaca. Kata demi kata, paragraf demi paragraf.
Tapi pikirannya terus melayang ke Yogyakarta, ke studio kecil tempat Sari sekarang menghabiskan hari-harinya, ke sketsa-sketsa lanskap yang mungkin sedang ia gambar saat ini.
Apakah Sari memikirkan paket itu?
Apakah ia membukanya dan merasa sesuatu?
Atau apakah ia meletakkannya begitu saja di sudut ruangan, seperti benda lain yang tidak memerlukan perhatian?
Damar tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu, ia sadari sekarang, adalah inti dari masalahnya. Ia tidak tahu apa yang Sari butuhkan karena ia tidak pernah benar-benar bertanya.
Ia hanya mengasumsikan, menghitung, merencanakan. Seperti seorang manajer yang membuat strategi pemasaran: identifikasi target, tentukan kebutuhan, kirimkan solusi.
Tapi cinta bukanlah strategi pemasaran. Dan Sari bukanlah target yang bisa dianalisis dengan spreadsheet.
Jarinya berhenti di atas keyboard. Ia menatat layar laptop, menatat angka-angka yang menunggu untuk diolah, menatat email yang menunggu untuk dibalas, menatat semua pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa bahwa semua ini tidak penting. Bukan dalam arti bahwa pekerjaannya tidak berharga atau ambisinya tidak bermakna.
Tapi dalam arti bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar yang sedang terlepas dari genggamannya, dan ia tidak bisa menangkapnya kembali dengan spreadsheet atau presentasi atau promosi jabatan.
Ada sesuatu tentang kehadiran. Tentang benar-benar berada di sini, sekarang, sepenuhnya. Dan Damar mulai curiga bahwa ia telah menghabiskan bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar hadir di mana pun.
Ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya. Sebuah pesan masuk. Damar melirik layar dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, seolah tubuhnya sudah belajar untuk tidak berharap.
Tapi itu bukan pesan dari Sari. Hanya notifikasi dari aplikasi belanja: Flash sale hari ini! Diskon hingga 50%. Damar menghapusnya dengan usapan jari yang cepat, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Di kejauhan, ia mendengar suara Nara kembali dari makan siang, langkah kakinya yang ringan di lantai koridor, suaranya yang menyapa seseorang dengan ceria.
Damar tidak menoleh. Ia tetap duduk di mejanya, menatap layar laptop yang mulai meredup karena tidak tersentuh, dan membiarkan pikirannya berputar ke satu-satunya pertanyaan yang sekarang terasa penting.
Apakah ia benar-benar mampu mencintai seseorang dengan cara yang tidak bisa dihitung, tidak bisa direncanakan, tidak bisa dikemas dalam kotak karton dan dikirim melalui jasa ekspedisi?
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa tidak tahu adalah awal dari sesuatu. Bukan akhir. Bukan kekalahan. Hanya sebuah permulaan yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Damar menekan tombol spasi pada keyboardnya. Layar laptop kembali menyala, menampilkan spreadsheet yang sama, grafik yang sama, angka-angka yang sama.
Tapi kali ini ia tidak melihatnya sebagai pekerjaan. Ia melihatnya sebagai pilihan: antara duduk di sini dan menyelesaikan semua ini, atau melakukan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang belum ia ketahui bentuknya, tapi yang mulai terasa mendesak di suatu tempat di dalam dadanya, seperti ketukan pintu yang belum berani ia buka.
Ia menghela napas panjang. Lalu ia mulai mengetik. Bukan email. Bukan laporan. Hanya beberapa kata yang ia tulis di aplikasi catatan, kata-kata yang mungkin tidak akan pernah ia kirimkan tapi yang perlu ia tuliskan untuk dirinya sendiri:
Aku tidak tahu caranya hadir. Tapi aku ingin belajar.
Di luar jendela kantor, Jakarta terus bergerak. Mobil-mobil melintas di jalanan yang padat, orang-orang berjalan di trotoar dengan langkah cepat.
Dan di suatu tempat di Yogyakarta, Sari Wulandari mungkin sedang duduk di studionya, menatap sketsa yang belum selesai, atau mungkin menatap sesuatu yang lain.
Sesuatu yang Damar tidak bisa lihat dari sini, tidak bisa ia lacak dengan nomor resi, tidak bisa ia kirimkan dengan jasa ekspedisi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Damar Pratama menyadari bahwa ada jarak yang tidak bisa dijembatani dengan benda.
Ada kehadiran yang tidak bisa digantikan dengan pengiriman. Ada cinta yang, untuk bisa sampai ke tujuannya, memerlukan sesuatu yang lebih dari sekadar alamat yang benar.

