Bab 4 – Pesta Pernikahan Nara

Ia merasakan sesuatu mengencang di rahangnya, reaksi fisik yang ia harap tidak terlihat oleh orang lain. Bayu meliriknya sekilas, lalu mengalihkan pembicaraan dengan sesuatu yang ringan tentang proyek baru divisi lain.

Damar bersyukur untuk itu.

Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu tanpa harus menjelaskan bahwa hubungannya dengan seseorang yang tinggal di Yogyakarta kini telah berakhir, atau mungkin belum berakhir, atau mungkin berada di suatu tempat di antara kedua kata itu yang tidak memiliki nama.

Tamu itu akhirnya berlalu, bergabung dengan kelompok lain yang sedang tertawa di dekat meja prasmanan. Damar mengembuskan napas panjang.

Udara di ruangan itu terasa hangat dan penuh dengan aroma bunga, dan entah mengapa itu membuatnya semakin sulit bernapas.

“Lo nggak harus jawab pertanyaan kayak gitu,” kata Bayu tiba-tiba.

“Orang-orang selalu nanya kapan lo nikah, kapan lo punya anak, kapan lo beli rumah. Kayak hidup itu ada checklist-nya. Dan kalau lo nggak nyentang semua kotak, mereka nganggep lo ketinggalan.”

“Tapi gue memang ketinggalan,” kata Damar. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia maksudkan.

“Ketinggalan dari siapa?” Bayu menatapnya.

Damar tidak menjawab. Ia menatap ke arah pelaminan, tempat Nara sekarang sedang berdiri bersama istrinya, berfoto dengan keluarga besar mereka.

Kilatan kamera menyala berkali-kali, menangkap momen yang akan disimpan dalam album, diunggah ke media sosial, dikenang sebagai hari ketika dua orang memulai sesuatu yang baru.

Dan di sudut ruangan ini, Damar berdiri dengan setelan jas yang sedikit longgar di bahu, merasa seperti seseorang yang datang ke sebuah pesta dengan membawa sesuatu yang tidak bisa ia letakkan di meja hadiah.

Sesuatu yang tidak bisa ia bungkus dengan kertas kado.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan Bayu. Sebuah notifikasi dari aplikasi pesan instan, dan nama yang muncul di layar membuat napas Damar terhenti sejenak.

Alina.

Tidak. Bukan Alina. Ia mengoreksi dirinya sendiri sebelum pikiran itu selesai terbentuk. Sari. Namanya Sari. Kenapa ia masih memanggilnya dengan nama yang salah di dalam kepalanya sendiri?

Pesan itu singkat. Hanya satu baris.

Paketnya udah sampe. Makasih.

Damar menatap layar ponselnya, membaca pesan itu berulang-ulang seolah-olah ada sesuatu yang tersembunyi di antara kata-katanya. Tapi tidak ada. Hanya empat kata.

Hanya ucapan terima kasih yang sopan dan singkat, tanpa tanda tanya, tanpa ajakan untuk melanjutkan percakapan. Ia ingat pesan yang ia tulis di aplikasi catatan tiga minggu lalu.

Aku tidak tahu caranya hadir. Tapi aku ingin belajar. 

Dan sekarang, di tengah pesta pernikahan ini, di antara tawa dan musik dan kilatan kamera, Damar menyadari bahwa ia masih belum belajar apa-apa.

Bahwa ia masih berdiri di tempat yang sama, dengan cara yang sama, mencoba menjangkau seseorang yang semakin jauh dengan mengirimkan benda-benda yang bisa dilacak nomor resinya.

“Siapa?” tanya Bayu, melirik ke layar ponsel Damar.

“Sari.”

Bayu mengangguk pelan. Ia tahu. Mungkin tidak semua detailnya, tapi cukup untuk mengerti bahwa ini bukan percakapan yang bisa dilanjutkan dengan ringan di tengah pesta pernikahan.

“Lo mau bales?”

Damar menatap layar itu lagi. Jempolnya menggantung di atas keyboard, dan ada lusinan kata yang ingin ia ketik.

Apa kabar? Maaf aku lama nggak ngabarin. Aku mikirin kamu setiap hari. Aku nggak tau gimana caranya hadir tapi aku nggak mau kehilangan kamu.

Tapi semua kata itu terasa seperti sesuatu yang sudah terlambat. Seperti mencoba menutup pintu yang sudah lama terbuka dan membiarkan angin masuk ke dalam ruangan.

Akhirnya ia mengetik:

Bagus. Semoga bukunya bermanfaat.

Ia menekan tombol kirim, dan pesan itu meluncur ke Yogyakarta dalam waktu kurang dari satu detik. Teknologi yang memungkinkan kata-kata sampai lebih cepat daripada perasaan.

Damar memasukkan ponselnya kembali ke saku, dan ketika ia melakukannya, ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Bukan sakit. Bukan sedih. Hanya ruang hampa yang semakin meluas, seperti sebuah ruangan yang lampunya perlahan dimatikan satu per satu.

“Gue mau keluar sebentar,” katanya pada Bayu.

“Gue di sini. Kalau lo butuh apa-apa.” Bayu tidak menahannya.

Damar berjalan melewati kerumunan tamu, melewati meja prasmanan yang penuh dengan makanan yang belum ia sentuh, melewati pintu samping yang mengarah ke balkon kecil di sisi gedung.

Udara malam menyambutnya dengan dingin yang tidak terlalu tajam, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa di luar sini, Jakarta masih ada.

Masih bergerak. Masih berisik dengan suara mobil dan klakson dan orang-orang yang pulang kerja. Ia berdiri di balkon itu, menatap jalanan di bawah.

Lampu-lampu kota membentang sejauh mata memandang, dan di kejauhan, gedung-gedung perkantoran masih menyala dengan jendela-jendela yang menampakkan siluet orang-orang yang masih bekerja.

Di suatu tempat di antara gedung-gedung itu, mungkin ada seseorang yang juga sedang berdiri di balkon, menatap jalanan yang sama, bertanya-tanya apakah semua kerja keras ini akan membawanya ke suatu tempat yang ia inginkan.

Atau apakah ia hanya bergerak dalam lingkaran, seperti mobil-mobil di bawah sana yang berputar di bundaran tanpa pernah benar-benar sampai ke tujuan.

Dari dalam gedung, suara musik berubah. Lagu yang lebih lambat, mungkin lagu untuk dansa pertama pengantin. Damar mendengarnya dari kejauhan, dan entah mengapa melodi itu terasa seperti sesuatu yang ia kenal.

Bukan karena ia pernah mendengarnya sebelumnya, tapi karena ada sesuatu dalam nada-nada itu yang mengingatkannya pada hal-hal yang belum ia miliki.

Tarian pertama. Bulan madu. Pagi-pagi yang dimulai dengan dua cangkir kopi, bukan satu.

Ia menatap ponselnya lagi. Pesan dari Sari masih terpampang di layar, dan di bawahnya, balasan singkat yang ia kirimkan tadi. Empat kata.

Empat kata yang tidak bisa menjembatani jarak antara Jakarta dan Yogyakarta, antara dua orang yang pernah saling mencintai dengan cara yang berbeda.

Sari mencintainya dengan kehadiran, dengan keinginan untuk membangun sesuatu yang bisa dipegang dan dirasakan setiap hari.
Dan Damar? Damar mencintainya dengan pengiriman.

Dengan paket yang dikirim sebelas hari setelah ia menyadari bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya hadir. Dengan buku-buku yang mungkin tidak akan pernah dibaca. Dengan kopi yang mungkin sudah dingin sebelum sempat diseduh.

Latest Novel ionicons-v5-c