Bab 4 – Pesta Pernikahan Nara

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk, dan nama yang muncul di layar adalah nama yang tidak ia kenali. Nomor kantor.

Ia mengangkatnya dengan gerakan refleks, dan suara di seberang sana adalah suara seorang staf yang mengingatkannya tentang rapat besok pagi. Rapat Tim Proyek Delta. Pukul empat belas.

Damar menjawab dengan singkat, mengiyakan, lalu mematikan panggilan itu. Dan saat ia melakukannya, ia menyadari sesuatu.

Bahwa bahkan di tengah pesta pernikahan, di antara orang-orang yang merayakan awal dari sebuah babak baru, pekerjaan masih menemukan caranya untuk menyusup masuk.

Untuk mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ditunda. Ada tenggat waktu yang harus dipenuhi. Ada spreadsheet yang harus diperbarui.

Ia mengembuskan napas panjang dan memasukkan ponselnya ke saku. Udara malam terasa semakin dingin, dan di bawah sana, Jakarta terus bergerak dengan ritme yang tidak pernah melambat.

Damar menatap jalanan itu, dan untuk pertama kalinya malam ini, ia membiarkan dirinya tidak berpikir tentang apa pun. Tidak tentang Sari. Tidak tentang promosi.

Tidak tentang pernikahan Nara atau checklist kehidupan yang belum ia centang. Ia hanya berdiri di sana, seorang pria berusia dua puluh delapan tahun dengan setelan jas yang sedikit longgar di bahu, menatap kota yang tidak pernah berhenti bergerak.

Pintu balkon terbuka. Bayu muncul, membawa dua gelas air putih lagi.

“Gue kira lo udah pulang,” katanya.

“Belum.”

Bayu berdiri di sampingnya, menyandarkan tubuh ke pagar balkon. Mereka berdua menatap jalanan dalam keheningan, dan entah mengapa keheningan itu terasa lebih mudah daripada percakapan yang harus diisi dengan kata-kata.

Setelah beberapa saat, Bayu berkata,

“Lo tau, gue dulu juga pernah berdiri di balkon kayak gini. Waktu startup kita gagal. Gue nggak bisa tidur seminggu, dan setiap malem gue keluar ke balkon apartemen gue, cuma buat mastiin bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang bergerak. Masih ada kota yang nggak berhenti cuma gara-gara satu perusahaan kecil bangkrut.”

“Lo nggak pernah cerita soal itu.” Damar menoleh.

“Karena gue nggak perlu. Lo udah tau. Lo juga ada di sana waktu itu.”

Damar mengangguk pelan. Ia ingat. Ia ingat hari-hari setelah startup mereka gagal, ketika Bayu menghilang selama beberapa minggu dan Damar tidak tahu bagaimana cara menghubunginya.

Ketika mereka akhirnya bertemu lagi, Bayu sudah berbeda. Lebih tenang. Lebih menerima. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, Damar menyadari bahwa mungkin ia sendiri belum mencapai titik itu.

Titik di mana ia bisa menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Tidak semua jarak bisa dijembatani dengan pengiriman.

“Lo harus bales pesan Sari,” kata Bayu tiba-tiba.
“Bukan cuma ‘makasih udah sampe’. Lo harus ngomong sesuatu yang beneran.”

“Gue nggak tau harus ngomong apa.”

“Lo tau. Lo cuma takut.”

Damar tidak menjawab. Ia menatap gelas di tangannya, dan air di dalamnya memantulkan cahaya lampu dari dalam gedung.

Di kejauhan, musik masih mengalun, dan tawa masih terdengar, dan di suatu tempat di dalam sana, Nara dan istrinya mungkin sedang berdansa untuk pertama kalinya sebagai pasangan yang sudah menikah.

Dan di balkon ini, di bawah langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap karena selalu ada lampu yang menyala, Damar Pratama berdiri bersama sahabatnya, memegang segelas air putih, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk sesuatu yang tidak bisa diukur dengan metrik apa pun.

Ia mengeluarkan ponselnya lagi. Membuka percakapan dengan Sari. Menatap empat kata terakhir yang ia kirimkan.

Bagus. Semoga bukunya bermanfaat. 

Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang ditulis oleh seorang kolega, bukan oleh seseorang yang pernah mencintai dan dicintai.

Bukan oleh seseorang yang pernah duduk di apartemennya pada pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit, menunggu panggilan telepon yang tidak pernah datang.

Damar mulai mengetik. Ia mengetik dan menghapus, mengetik dan menghapus lagi, dan setiap kali ia melakukannya, Bayu hanya berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa.

Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, Damar menekan tombol kirim.

Ia tidak membaca ulang pesan itu. Ia hanya membiarkannya pergi, meluncur ke Yogyakarta, ke studio tempat Sari mungkin sedang duduk di depan sketsa yang belum selesai.

“Udah?” tanya Bayu.

“Udah.”

Bayu mengangguk. “Bagus. Sekarang lo bisa balik ke dalem dan makan sesuatu. Gue liat lo belum nyentuh makanan sejak dateng.”

Damar mengikuti Bayu kembali ke dalam gedung. Udara hangat dan aroma bunga menyambutnya lagi, dan kali ini, entah mengapa, semuanya terasa sedikit berbeda.

Bukan lebih baik. Bukan lebih buruk. Hanya sedikit lebih ringan, seperti sebuah beban yang telah bergeser beberapa sentimeter dari tempatnya semula.

Ia masih tidak tahu apakah ia dan Sari akan pernah mencapai “masa depan” seperti yang Nara miliki. Ia masih tidak tahu apakah promosi yang menunggunya di kantor adalah jawaban atau hanya pelarian.

Tapi untuk malam ini, di tengah pesta pernikahan ini, ia telah melakukan satu hal yang tidak bisa diukur dengan spreadsheet. Ia telah mengirimkan kata-kata yang bukan hanya konfirmasi penerimaan paket.

Dan mungkin, untuk seseorang yang baru belajar caranya hadir, itu sudah cukup.

Latest Novel ionicons-v5-c