Bab 7 – Tidak Ada Jawaban di Bali

Damar memandang tulisan di halaman itu. Baris-baris kalimat yang miring dan tidak rata, beberapa kata tercoret karena ia mengubah pikirannya di tengah jalan. Surat itu tidak akan pernah dikirim.

Ia sudah memutuskan itu sejak awal. Tapi menulisnya tetap terasa seperti membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat, dan di balik pintu itu tidak ada monster atau rahasia gelap, hanya dirinya sendiri.

Hanya Damar yang berusia dua puluh delapan tahun, duduk di lantai apartemennya pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit, merasa kosong meskipun baru saja menyelesaikan proyek besar.

Hanya Damar yang tidak bisa tidur lebih dari lima setengah jam setiap malam karena pikirannya terus berputar pada hal-hal yang belum ia selesaikan.

Hanya Damar yang mencintai seseorang dengan cara yang praktis dan penuh tanggung jawab, tapi lupa bahwa cinta juga butuh hadir, bukan hanya komitmen.

Ia membalik halaman. Halaman kedua masih kosong. Ia menulis lagi, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, seperti seseorang yang sedang merangkai sesuatu yang rapuh.

Aku ingin belajar hadir. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu apakah seseorang bisa belajar hadir seperti belajar naik sepeda atau belajar bahasa asing. Tapi aku ingin mencoba. Bukan untuk kamu. 

Kamu sudah pergi, dan aku tidak akan memintamu kembali hanya karena aku akhirnya menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari sejak lama. Aku ingin belajar hadir untuk diriku sendiri. Untuk hidupku sendiri.

Karena selama ini aku merasa seperti tamu di hidupku sendiri. Seperti seseorang yang kebetulan lewat dan memutuskan untuk tinggal sebentar, tapi tidak pernah benar-benar merasa di rumah.

Ombak terus bergulir. Nelayan itu sudah selesai menarik jaringnya dan kini berjalan menjauh, meninggalkan Damar sendirian di pantai.

Matahari sudah sepenuhnya naik, dan cahayanya memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik cahaya yang berkedip-kedip seperti lampu kota yang ia tinggalkan.

Damar memandang pemandangan itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kebahagiaan. Bukan juga kesedihan. Sesuatu di antaranya, sesuatu yang lebih tenang, seperti napas pertama setelah lama menahan diri di bawah air.

Ia menutup buku catatan itu. Jemarinya menyusuri sampul kulit sintetis yang sudah mulai hangat oleh suhu tubuhnya. Surat itu belum selesai. Mungkin tidak akan pernah selesai.

Tapi menulisnya sudah melakukan sesuatu pada dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia merasa sedikit lebih ringan. Bukan karena bebannya hilang, tapi karena ia akhirnya mengakui bahwa beban itu ada.

Damar memasukkan buku catatan dan pena kembali ke saku jaketnya. Ia berdiri, membersihkan pasir dari celana, dan memandang laut untuk terakhir kalinya. Ombak masih bergulir. Tidak peduli. Tidak pernah peduli.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Damar merasa bahwa ketidakpedulian itu bukan sesuatu yang menakutkan. Itu hanya kenyataan. Laut tidak peduli apakah ia hadir atau tidak.

Laut hanya terus bergulir, dan ia hanya terus hidup, dan mungkin di antara dua gerakan yang tidak pernah berhenti itu ada ruang untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum ia temukan, tapi kini ia tahu harus mencarinya.

Ia berbalik dan berjalan kembali ke penginapan. Langkahnya lebih pelan sekarang, lebih berat, tapi juga lebih pasti. Di kejauhan, ia mendengar suara motor mulai menyala, tanda bahwa Denpasar mulai bangun.

Tapi suara itu tidak mengganggunya. Ia sudah mematikan ponselnya. Ia sudah menulis surat yang tidak akan dikirim. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.

Latest Novel ionicons-v5-c