Bab 8 – Surat yang Tidak Dikirim

Damar terbangun bukan karena suara, melainkan karena cahaya. Tirai tipis di penginapan itu tidak mampu menahan sinar pagi yang menyelinap masuk, membentuk garis-garis kuning pucat di lantai ubin yang dingin.

Ia berbaring beberapa saat, merasakan permukaan kasur yang terlalu keras dan bantal yang terlalu tipis. Tubuhnya masih lelah, tapi pikirannya terasa lebih jernih.

Seperti air yang telah mengendap dan meninggalkan endapan di dasar, menyisakan cairan bening di atasnya. Ia menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur.

Buku catatan bersampul kulit sintetis cokelat tua itu masih tergeletak di sana, dengan pena murah terselip di antara halaman yang terlipat. Damar meraihnya, merasakan tekstur sampul yang kasar di jemarinya.

Ia membuka halaman yang ditandai, membaca kembali kata-kata yang ia tulis dua hari lalu di pantai. Tulisan tangannya miring dan tidak rapi, beberapa kata tercoret, beberapa kalimat terputus di tengah jalan.

Tapi di sana, di atas kertas bergaris itu, ada sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya: kejujuran yang tidak disaring, tidak diedit, tidak dipoles untuk konsumsi orang lain.

Ia membaca dari awal. Setiap paragraf terasa seperti mendengar rekaman suaranya sendiri, suara yang selama ini ia simpan di dalam kepala dan tidak pernah ia keluarkan.

Tentang bagaimana ia selalu merasa perlu mengendalikan segalanya. Tentang bagaimana ia mengukur cinta melalui daftar hal-hal yang bisa ia berikan secara material.

Tentang bagaimana ia takut menjadi seperti ayahnya, dan ironisnya, justru mengulangi pola yang sama dengan cara yang berbeda.

Damar menutup buku itu sejenak. Dadanya terasa sesak, bukan karena beban yang menekan, melainkan karena sesuatu yang mulai mengendur. Seperti otot yang terlalu lama tegang dan akhirnya dilepaskan.

Ia mengingat kembali percakapan dengan ibunya di Surabaya, tentang bagaimana Rini mengatakan bahwa ayahnya dulu juga selalu sibuk, selalu punya alasan untuk tidak pulang tepat waktu, selalu menganggap bahwa menyediakan uang adalah bentuk kehadiran yang cukup.

Dan Damar menyadari bahwa ia telah melakukan hal yang persis sama. Hanya dengan kemasan yang lebih modern, dengan alasan yang lebih canggih, dengan pembenaran yang lebih elegan.

Ia mengambil pena dan membuka halaman baru. Kali ini, ia tidak menulis dengan terburu-buru seperti di pantai.

Ia menulis dengan pelan, dengan hati-hati, seolah setiap kata adalah batu yang ia letakkan di atas timbangan. Dan ia ingin memastikan bahwa timbangan itu seimbang.

Aku mencintaimu dengan cara yang salah, tulisnya. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku mengira cinta adalah tentang menyediakan, bukan tentang hadir. 

Aku mengira cinta adalah tentang memastikan masa depan, bukan tentang menjalani hari ini. Aku mengira cinta adalah tentang tanggung jawab, bukan tentang perhatian.

Ia berhenti sejenak, memandang kata-kata itu. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena emosi, melainkan karena pengakuan itu terasa begitu final. Begitu mutlak. Begitu tidak bisa dinegosiasikan.

Aku selalu berpikir bahwa aku melakukan segalanya dengan benar. Aku bekerja keras. Aku menabung. Aku merencanakan. Aku tidak pernah bolos dari tanggung jawab. 

Tapi di saat yang sama, aku tidak pernah benar-benar mendengarkanmu. Aku mendengar kata-katamu, tapi aku tidak mendengarkan apa yang ada di baliknya.

Aku melihat wajahmu, tapi aku tidak melihat apa yang kau sembunyikan di balik senyumanmu. Aku hadir secara fisik, tapi pikiranku selalu berada di tempat lain.

Di kantor. Di proyek berikutnya. Di tenggat waktu yang harus dipenuhi. Di masa depan yang belum tentu terjadi.

Damar menekan pena lebih kuat ke atas kertas. Goresan tintanya lebih tebal sekarang, hampir menembus halaman.

Dan itu adalah kesalahan terbesarku. Bukan karena aku tidak peduli. Tapi karena aku mengira kepedulian bisa diwakilkan. Aku mengira mengirimkan hadiah bisa menggantikan kehadiran. 

Aku mengira menelepon di akhir hari yang melelahkan bisa menggantikan duduk di sampingmu dan benar-benar mendengarkan. Aku mengira cinta adalah checklist yang harus dicentang, bukan ruang yang harus diisi.

Ia berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Ia menatap keluar jendela, ke arah pohon kelapa yang melambai pelan di kejauhan. Angin pagi berhembus masuk melalui celah tirai, membawa bau garam dan tanah basah.

Di kejauhan, ia mendengar suara ombak yang bergulir. Suara yang sama yang ia dengar dua hari lalu di pantai. Suara yang tidak peduli apakah ia hadir atau tidak.

Suara yang hanya terus bergulir, tanpa bertanya, tanpa menuntut, tanpa menghakimi.

Damar menarik napas panjang. Ia menulis lagi.

Aku tidak menulis ini untuk meminta maaf. Maaf sudah terlalu sering kuucapkan, dan kata itu kehilangan maknanya setiap kali aku mengucapkannya tanpa benar-benar berubah. 

Aku menulis ini karena aku perlu mengakui, setidaknya kepada diriku sendiri, bahwa aku telah gagal. Bahwa aku telah mencintaimu dengan cara yang membuatmu merasa sendirian, bahkan saat kita bersama.

Bahwa aku telah memberikan segalanya kecuali satu hal yang paling kau butuhkan: kehadiran yang utuh. Kehadiran yang tidak terbagi antara kamu dan ambisiku.

Kehadiran yang tidak tersita oleh notifikasi ponsel dan tenggat waktu proyek.

Ia membalik halaman. Tangannya sudah tidak bergetar lagi sekarang. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, sesuatu yang terasa seperti ketenangan yang aneh.

Bukan ketenangan karena masalah telah selesai, melainkan ketenangan karena ia akhirnya berhenti berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada.

Aku dulu takut menjadi seperti ayahku. Tapi sekarang aku sadar bahwa ketakutan itu justru membuatku menjadi seperti dia dengan cara yang berbeda. Ayahku tidak pernah hadir karena pekerjaannya. 

Aku tidak pernah hadir karena ambisiku. Bedanya hanya pada alasan. Hasilnya sama: orang yang kucintai merasa ditinggalkan.

Dan ironisnya, aku melakukan semua ini sambil meyakinkan diriku sendiri bahwa aku adalah orang yang bertanggung jawab. Bahwa aku adalah pasangan yang baik. Bahwa aku melakukan segalanya dengan benar.

Damar meletakkan pena sejenak. Ia memijat pelipisnya dengan ibu jari dan telunjuk. Kepalanya tidak pusing, tapi ada sensasi aneh di sana.

Seperti ruangan yang terlalu lama gelap dan tiba-tiba diterangi cahaya. Matanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri.

Ia melanjutkan.

Aku tidak tahu apakah aku akan pernah bisa mencintai dengan cara yang berbeda. Mungkin aku bisa belajar. Mungkin aku tidak bisa. Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa caraku selama ini salah. 

Dan mengetahui itu, mengakui itu, sudah merupakan langkah pertama yang tidak pernah berani kuambil sebelumnya. Aku selalu terlalu sibuk membela diri. Terlalu sibuk mencari pembenaran.

Terlalu sibuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku adalah korban dari keadaan, padahal akulah yang menciptakan keadaan itu.

Ia menulis lebih cepat sekarang. Kata-kata mengalir dengan sendirinya, seolah sudah lama menunggu untuk dikeluarkan.

Aku ingat saat kau bilang bahwa kau merasa seperti berbicara dengan dinding. Saat itu aku tersinggung. Aku merasa kau tidak menghargai usahaku. 

Tapi sekarang aku mengerti. Kau tidak sedang menyerangku. Kau hanya mengatakan kebenaran yang tidak ingin kudengar. Aku memang seperti dinding.

Padat. Kokoh. Tidak bergerak. Tapi juga tidak menerima. Tidak merespons. Hanya berdiri di sana, menghalangi apa pun yang mencoba masuk.
Dan kau terus mencoba. Aku tahu itu sekarang. Kau terus mencoba menerobos dinding itu, sampai akhirnya kau lelah. 

Sampai akhirnya kau memutuskan bahwa dinding itu tidak akan pernah runtuh, dan kau memilih untuk pergi. Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah pilihan yang masuk akal.

Aku hanya menyesal karena aku tidak menyadarinya lebih cepat. Karena aku tidak cukup berani untuk meruntuhkan dinding itu sendiri sebelum kau terpaksa pergi.

Damar berhenti menulis. Ia membaca ulang paragraf terakhir itu, dan sesuatu di dalam dirinya bergerak. Bukan rasa sakit. Bukan penyesalan. Melainkan penerimaan.

Latest Novel ionicons-v5-c