Kafe itu tidak berubah. Meja-meja kayu yang sama dengan permukaan sedikit terkelupas di sudut-sudutnya. Aroma kopi yang bercampur dengan bau buku tua dari rak di sudut ruangan.
Jendela besar yang menghadap ke jalan raya, memperlihatkan lalu lintas Jakarta yang tidak pernah berhenti. Damar duduk di meja dekat jendela, tempat yang sama yang biasa mereka tempati dulu.
Tangannya melingkari cangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Tiga hari sejak ia kembali dari Denpasar, dan ia masih bisa merasakan sisa-sisa ketenangan yang ia bawa dari sana.
Ketenangan yang tipis, seperti lapisan es di permukaan danau yang bisa pecah kapan saja. Ia melirik arlojinya. Pukul dua lewat sepuluh menit. Alina selalu tepat waktu.
Dulu, ia mengagumi ketepatan itu. Sekarang, mengetahui bahwa dalam beberapa menit ia akan melihat perempuan itu untuk terakhir kalinya, ia hanya bisa menunggu.
Surat di saku jaketnya masih ada di sana. Lipatan kertas yang sudah sedikit lecek karena terlalu sering disentuh.
Kata-kata yang ia tulis di penginapan Denpasar, di pagi yang terlalu terang, di meja kecil menghadap jalan setapak menuju pantai. Kata-kata yang tidak akan pernah ia kirimkan, tetapi akan selalu ia bawa.
Bel di pintu berbunyi.
Damar mendongak. Alina masuk dengan langkah yang ia kenali dengan baik. Rambut gelombang sebahu, poni samping yang sedikit menutupi mata kanannya.
Tas kanvas yang sama, meskipun yang ini terlihat lebih baru. Ia mengenakan kaus putih dan celana jeans sederhana, dan untuk sesaat Damar merasa ada sesuatu yang berbeda.
Bukan dari penampilannya, melainkan dari caranya berjalan. Lebih pasti. Lebih tenang. Alina melihatnya, dan senyum tipis muncul di bibirnya.
Bukan senyum lebar yang penuh semangat seperti dulu. Bukan juga senyum getir yang ia lihat tiga minggu lalu saat mereka memutuskan untuk berpisah. Senyum ini berbeda. Damar tidak bisa membaca apa artinya.
“Sudah lama?” tanya Alina sambil duduk di seberangnya.
“Tidak juga.” Damar memberi isyarat pada pelayan. “Kopi seperti biasa?”
“Kopi hitam tanpa gula. Kamu masih ingat.”
“Tentu saja aku ingat.”
Alina meletakkan tas kanvasnya di kursi sebelah. Pelayan datang dan ia memesan kopi. Lalu hening.
Bukan keheningan yang canggung seperti tiga minggu lalu, ketika mereka duduk di apartemen Damar dan tidak ada yang tahu harus berkata apa. Kali ini, atmosfer senyap di antara mereka terasa berbeda. Lebih lembut. Lebih bisa diterima.
“Bagaimana Bali?” tanya Alina akhirnya.
Damar menghela napas.
“Panas. Sepi. Tapi aku butuh itu.” Ia memutar cangkir kopinya perlahan.
“Aku mematikan telepon selama tiga hari. Tidak ada notifikasi. Tidak ada email. Tidak ada spreadsheet.”
“Kamu? Matiin telepon tiga hari?” Alina tersenyum kecil.
“Itu perkembangan yang cukup besar.”
“Aku juga terkejut.” Damar tertawa pelan.
“Tapi ternyata aku bisa. Dan ternyata dunia tidak berhenti berputar.”
Kopi Alina datang. Ia meniup permukaannya sebelum menyesap sedikit.
“Aku juga banyak berpikir,” katanya, meletakkan cangkir.
“Tentang kita. Tentang kenapa semuanya jadi seperti ini.”
Damar menatapnya. Mata Alina masih menunjukkan kelelahan, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Semacam kejernihan yang tidak ia lihat sebelumnya.
“Aku menulis surat,” kata Damar.
“Di Bali. Surat yang tidak akan pernah aku kirim.”
“Tapi kamu menulisnya.”
“Aku menulisnya.” Damar merogoh saku jaketnya, mengeluarkan lipatan kertas itu.
“Aku tidak akan membacanya untukmu. Itu bukan tujuannya. Tapi aku ingin kamu tahu… aku menulis semuanya di sini. Semua yang tidak pernah aku katakan. Semua yang selalu aku tunda.”
“Apa isinya?” Alina menatap kertas di tangan Damar.
“Pengakuan.” Damar menelan ludah.
“Bahwa aku tidak pernah benar-benar hadir. Bahwa aku selalu berpikir mencintaimu adalah tentang memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, menyelesaikan sesuatu. Seperti proyek. Seperti checklist.” Ia berhenti sejenak.
“Aku tidak pernah belajar untuk diam dan mendengarkan. Tidak pernah belajar untuk… ada.”
Alina tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Damar dengan mata yang tidak menghakimi.
“Aku pikir cinta itu tanggung jawab,” lanjut Damar.
“Aku pikir dengan bekerja keras, dengan merencanakan masa depan, dengan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, aku sudah menjadi pasangan yang baik. Tapi aku lupa… aku lupa bahwa kamu tidak butuh itu. Kamu butuh aku. Bukan versi aku yang selalu sibuk. Bukan versi aku yang selalu punya alasan. Hanya aku.”
“Dan aku tidak pernah memberikannya,” katanya pelan.
“Bahkan saat kita bersama, pikiranku ada di tempat lain. Di kantor. Di proyek berikutnya. Di notifikasi yang muncul di layar telepon.”
Alina meletakkan cangkirnya.
“Aku tahu,” katanya lembut.
“Aku selalu tahu.”
Kata-kata itu tidak menusuk. Tidak seperti yang Damar bayangkan. Alina mengatakannya dengan nada yang begitu tenang, begitu menerima, sehingga Damar merasa bukan disalahkan, melainkan dipahami.
“Aku juga banyak berpikir,” lanjut Alina.
“Setelah kita putus. Setelah aku pulang ke Yogyakarta. Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya aku cari? Kenapa aku terus bertahan meskipun aku merasa sendirian?”
Damar menunggu.
“Aku pikir aku takut,” kata Alina.
“Takut tidak menemukan orang lain yang mencintaiku seperti kamu. Tapi lalu aku sadar… aku juga tidak sepenuhnya hadir. Aku terlalu sibuk menuntut, terlalu sibuk berharap kamu berubah, tanpa pernah benar-benar menerima bahwa kita sedang berjalan di dua jalur yang berbeda.”
“Kita tidak sinkron,” kata Damar.
“Ya. Tidak sinkron.” Alina mengangguk.
“Kamu mengejar karier di Jakarta. Aku mengejar proyek seni di Yogyakarta. Dan kita terus berusaha menyatukan dua hal yang memang tidak bisa disatukan. Bukan karena kita tidak cukup cinta. Tapi karena… arah kita sudah berbeda.”
Damar merasakan sesuatu di dadanya. Bukan sakit. Bukan sesak. Hanya semacam pengakuan yang tenang.
“Aku tidak pernah ingin menyakitimu,” katanya.
“Aku tahu.” Alina tersenyum.
“Dan aku juga tidak pernah ingin menyakitimu. Tapi kita tetap saling menyakiti. Karena kita terus memaksakan sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.”
Mereka diam sejenak. Di luar, klakson mobil bersahutan. Seseorang tertawa di meja sebelah. Kehidupan terus berjalan, tidak peduli pada dua orang yang sedang berusaha merelakan.
“Aku ingat pertama kali kita bertemu,” kata Alina tiba-tiba.
“Di pameran seni itu. Kamu datang sendiri, berdiri di depan lukisan abstrak yang tidak kamu mengerti, dan kamu tidak malu mengakuinya.”
Damar tertawa kecil.
“Lukisan itu tidak masuk akal. Warnanya terlalu banyak.”
“Tapi kamu tetap berdiri di sana selama lima belas menit, berusaha memahaminya.”
“Karena aku melihatmu. Dan aku ingin tahu kenapa kamu menatap lukisan itu seperti lukisan itu berbicara padamu.”
Alina menunduk, senyumnya melebar sedikit.
“Kamu selalu bisa membuatku merasa diperhatikan. Itu yang membuatku jatuh cinta padamu.”
“Dan itu juga yang membuatmu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.”
“Mungkin.” Alina menatap matanya.
“Tapi aku tidak menyesal. Tidak satu hari pun.”
Damar merasakan sesuatu di tenggorokannya.
“Aku juga tidak.”
Mereka terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Damar memandang ke luar jendela. Jakarta dengan segala kebisingannya.
