Bab 9 – Kopi di Kafe Tua

Kota yang telah memberinya karier, ambisi, dan segala tuntutan yang ia kejar selama dua tahun terakhir. Kota yang membuatnya lupa untuk berhenti.

“Aku akan pindah ke Yogyakarta,” kata Alina.
“Permanen. Proyek seni yang lebih besar. Aku akan bekerja dengan Kinanti.”

Damar mengangguk.
“Aku dengar dari Bayu. Itu kesempatan yang bagus.”

“Kamu?”

“Aku akan tetap di Jakarta. Proyek Delta masih berjalan. Dan…” Damar berhenti sejenak.
“Aku perlu belajar untuk hadir di sini dulu. Di hidupku sendiri. Sebelum aku bisa hadir untuk orang lain.”

Alina mengulurkan tangannya di atas meja. Damar menggenggamnya. Hangat. Akrab. Tapi berbeda.

Bukan lagi genggaman dua orang yang berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah retak. Melainkan genggaman dua orang yang akhirnya bisa melepaskan.

“Terima kasih,” kata Alina.

“Untuk apa?”

“Untuk akhirnya jujur. Untuk surat yang tidak kamu kirim. Untuk semua yang kamu tulis di sana.”

Damar mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku juga menulis sesuatu,” kata Alina. Ia merogoh tas kanvasnya, mengeluarkan selembar kertas.
“Bukan surat. Hanya… catatan. Tentang apa yang aku pelajari dari kita.”

Ia meletakkan kertas itu di atas meja. Damar bisa melihat tulisan tangan Alina yang rapi. Beberapa kalimat. Ia tidak membaca semuanya. Itu bukan untuknya. Itu untuk Alina sendiri.

“Aku akan membacanya nanti,” kata Damar.

“Tidak perlu.” Alina tersenyum.
“Itu untukku. Seperti suratmu untukmu.”

Mereka berbagi keheningan terakhir. Damar menatap cangkir kopinya yang sudah kosong. Alina menatap jalanan di luar jendela. Waktu terasa melambat, seolah memberi mereka ruang untuk mengingat semua yang telah mereka lalui bersama.

“Aku harus pergi,” kata Alina akhirnya.
“Kereta ke Yogyakarta berangkat jam empat.”

Damar mengangguk. Mereka berdiri bersamaan. Untuk sesaat, mereka hanya berdiri di sana, di kafe tua yang telah menjadi saksi begitu banyak percakapan mereka. Saksi tawa dan air mata. Saksi awal dan akhir.

Alina melangkah maju dan memeluknya. Bukan pelukan singkat seperti biasa. Pelukan yang lebih lama. Lebih erat.

Damar bisa mencium aroma sampo yang sama, aroma yang selalu mengingatkannya pada pagi-pagi di apartemennya, ketika Alina membuat kopi di dapur kecilnya.

“Jaga diri,” bisik Alina.

“Kamu juga.”

Mereka melepaskan pelukan. Alina mengambil tas kanvasnya. Damar mengambil kertas lipatan di sakunya, merasakan tekstur kertas yang sudah sedikit lecek.

Surat yang tidak akan pernah dikirim. Bukti bahwa ia akhirnya berani jujur pada dirinya sendiri.

Alina berjalan keluar lebih dulu. Damar melihatnya mendorong pintu kafe, melangkah ke trotoar, dan berbelok ke kiri menuju stasiun. Ia tidak menoleh ke belakang.

Damar senang akan hal itu. Ia tidak ingin melihat air mata di mata Alina, jika ada. Ia tidak ingin melihat dirinya sendiri di mata perempuan itu, sebagai seseorang yang pernah dicintai dan kemudian dilepaskan.

Damar menunggu beberapa menit. Lalu ia juga berjalan keluar, berbelok ke kanan, menuju apartemennya. Langkahnya terasa ringan.

Bukan karena ia bahagia. Bukan karena ia tidak sedih. Melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa melepaskan tidak selalu berarti kalah.

Kadang-kadang, melepaskan adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa cinta itu pernah ada, dan akan selalu ada, meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Di trotoar yang ramai, di antara orang-orang yang berjalan cepat dengan tujuan masing-masing, Damar berhenti sejenak.

Ia mengeluarkan ponselnya. Menatap layar yang penuh dengan notifikasi. Email dari kantor. Pesan dari Bayu. Pengingat rapat besok pagi.

Ia memasukkannya kembali ke saku. Tidak perlu dijawab sekarang. Jakarta masih akan tetap di sini besok. Proyek Delta masih akan berjalan. Tuntutan pekerjaan tidak akan hilang.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Damar merasa ia bisa menghadapinya. Bukan sebagai seseorang yang lari dari kekosongan.

Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya berani berhenti, menatap ke belakang, dan berkata pada dirinya sendiri: aku pernah mencintai, aku pernah gagal, dan aku masih di sini.

Ia melanjutkan langkahnya. Di sakunya, surat itu masih ada. Lipatan kertas yang akan selalu mengingatkannya pada pagi di Denpasar. Pada kejujuran yang akhirnya ia temukan. Pada cinta yang akhirnya ia lepaskan.

The End

Latest Novel ionicons-v5-c