Pak Suryono datang membawa cangkir untuk Nadine, meletakkannya dengan pelan, lalu kembali ke tempatnya. Tapi kali ini ia tidak langsung sibuk dengan lap dan gelas-gelasnya.
Ia berdiri di sana, menyandarkan pinggul ke meja saji, dan tangannya yang kasar bekas menggiling kopi bertumpu di pinggir meja kayu. Bima menyadari bahwa pria itu sedang mendengarkan.
Bukan dengan cara yang mencolok, bukan dengan memiringkan kepala atau menatap langsung ke arah mereka.
Tapi ia ada di sana, di radius tiga meter dari meja mereka, dan Bima tahu, dari caranya sesekali menghentikan gerakan lapnya, bahwa ia menangkap setiap kata yang diucapkan.
“Bima,” kata Nadine tiba-tiba, dan nada suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Kenapa kamu kemarin cuma bales ‘Oke, nanti aku kabari’?”
Pertanyaan itu mendarat di meja di antara mereka seperti benda padat. Bima merasakan tangannya menegang di sekitar cangkir.
Ia tidak menyangka Nadine akan menanyakannya langsung, tidak sesore ini, tidak di warung kopi dengan Pak Suryono yang berdiri tiga meter dari mereka.
Ia pikir mereka akan melanjutkan percakapan tentang klien dan revisi dan warna yang kurang ‘muda dan bersemangat’, dan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya akan tetap menggantung, tidak terucap, seperti biasa.
“Maksudku,” Nadine melanjutkan, dan sekarang ia memutar cangkirnya sendiri, gerakan kecil yang persis sama dengan yang Bima lakukan beberapa menit lalu,
“kita kan biasanya diskusi panjang soal revisi. Kamu selalu kasih masukan detail, selalu tanya ini itu. Tapi kemarin cuma satu kalimat. Aku pikir… aku pikir mungkin ada sesuatu.”
Bima ingin mengatakan yang sebenarnya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah menulis balasan yang panjang, bahwa ia sudah mengetik kata-kata yang menjelaskan segalanya.
Tentang bagaimana ia merasa ada kekosongan di tengah kesibukannya, tentang bagaimana ia mulai mempertanyakan apakah semua spreadsheet dan tenggat waktu ini benar-benar cukup untuk membuatnya merasa utuh.
Ia ingin mengatakan bahwa dalam pesan itu, ia hampir saja menulis kalimat yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, kalimat yang mungkin akan mengubah segalanya di antara mereka. Tapi ia tidak mengatakannya.
“Aku cuma lagi banyak pikiran,” katanya.
“Soal proyek lain. Bukan apa-apa.”
Nadine menatapnya. Tatapan yang bertahan lebih lama dari biasanya, dan Bima bisa melihat sesuatu di matanya, sesuatu yang mirip dengan kekecewaan tapi terlalu halus untuk disebut begitu.
Mungkin itu hanya rasa ingin tahu. Mungkin itu hanya kelelahan setelah meeting dengan klien yang tidak tahu apa maunya.
“Kadang,” kata Nadine, dan suaranya sekarang lebih pelan lagi, hampir seperti bisikan yang hanya dimaksudkan untuk didengar oleh mereka berdua,
“kata-kata yang paling penting justru yang paling sulit diucapkan. Aku tahu itu. Aku… aku juga pernah ada di posisi itu.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas, dan melanjutkan.
“Dulu, sebelum kita kenal, ada seseorang. Seseorang yang… penting, kurasa. Dan aku tidak pernah bilang ke dia apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku pikir dia akan ngerti sendiri. Aku pikir kata-kata itu tidak perlu diucapkan karena sudah jelas. Tapi ternyata tidak. Tidak ada yang jelas kalau tidak diucapkan.”
Bima tidak bergerak. Ia bahkan tidak bernapas, atau setidaknya itulah yang ia rasakan. Nadine belum pernah bercerita tentang seseorang dari masa lalunya. Tidak pernah sedetail ini.
Mereka sudah kenal tiga tahun, sudah menghabiskan puluhan sore di warung kopi ini dan warung kopi lain, sudah berbagi cerita tentang klien yang menyebalkan dan mimpi-mimpi yang belum tercapai, tapi tidak pernah tentang ini.
Tidak pernah tentang hal-hal yang tidak terucap.
“Aku ngerti,” kata Bima, dan suaranya keluar lebih serak dari yang ia harapkan. Ia berdeham.
“Maksudku, aku ngerti apa yang kamu maksud.”
Itu tidak cukup. Ia tahu itu tidak cukup.
Nadine baru saja memberinya sesuatu, sebuah potongan dari dirinya yang selama ini ia simpan sendiri, dan Bima membalasnya dengan dua kata yang bisa diucapkan kepada siapa saja. Tapi ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan bahwa ia juga punya seseorang yang penting, bahwa orang itu sedang duduk di depannya sekarang.
Dan bahwa ia sudah menulis pesan panjang tadi malam yang mungkin akan menjawab semua pertanyaan yang belum pernah mereka tanyakan satu sama lain.
Nadine mengangguk pelan, dan senyumnya kembali. Tapi kali ini senyum itu berbeda. Lebih tipis. Lebih mirip guratan kecil di sudut bibir ketimbang ekspresi yang sebenarnya.
“Mungkin suatu hari nanti,” katanya, dan ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Mungkin suatu hari nanti mereka akan berani. Mungkin suatu hari nanti kata-kata itu akan terucap. Mungkin suatu hari nanti semuanya akan berbeda. Tapi tidak hari ini.
Tidak di sore yang mulai gelap dan gerimis ini, di warung kopi dengan lantai yang masih basah dan radio tua yang masih memutar lagu keroncong.
Pak Suryono bergerak dari tempatnya. Ia mengambil cangkir kosong dari meja di seberang, dan saat ia berjalan melewati meja mereka, ia berhenti sejenak.
“Hujan sudah reda,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada mereka. Tapi Bima mendengarnya, dan ia tahu Nadine juga mendengarnya.
Nadine melihat ke luar jendela.
“Benar juga.” Ia berdiri, meraih tas selempangnya.
“Aku harus pulang. Masih ada revisi yang harus kukerjakan.”
“Revisi yang ‘muda dan bersemangat’?”
“Itu. Aku akan coba tebak apa maksud mereka.”
Bima ingin mengatakan sesuatu. Ingin memintanya untuk tinggal lebih lama, atau setidaknya untuk melanjutkan percakapan ini di lain waktu, di tempat yang sama, dengan keberanian yang lebih besar.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya,
“Hati-hati di jalan.”
Nadine mengangguk. Ia berjalan ke pintu, dan sebelum mendorongnya, ia menoleh sekilas ke arah Bima.
“Sampai ketemu lagi,” katanya, dan untuk sesaat Bima merasa ada sesuatu di balik kata-kata itu, sesuatu yang tidak terucap, sesuatu yang mungkin akan tetap tidak terucap untuk waktu yang lama.
Pintu tertutup. Suara motor Nadine menyala di luar, lalu meredup, lalu hilang ditelan suara jalan raya.
Bima tetap duduk di sana. Kopinya sudah benar-benar dingin sekarang, menyisakan lingkaran hitam di dasar cangkir. Ia menatap keluar jendela, ke arah jalan yang mulai basah lagi karena gerimis baru turun tanpa ia sadari.
Perjalanan pulang besok, pikirnya, akan terasa lebih berat. Bukan karena ia akan membawa sesuatu yang fisik, bukan karena motornya akan lebih lambat atau jalannya akan lebih macet.
Tapi karena ia akan membawa percakapan ini, potongan-potongan kata yang Nadine ucapkan dan yang tidak ia balas dengan layak.
Ia akan membawa semuanya dalam keheningan di atas motor, di antara lampu-lampu rem yang menyala bergantian, dan ia tahu bahwa keheningan itu akan terasa lebih nyaring dari biasanya.
Pak Suryono mendekati mejanya, membawa lap basah.
“Mau tambah kopi, Mas?”
Bima menggeleng.
“Tidak, Pak. Terima kasih.”
Ia berdiri, meraih jaketnya yang masih tergantung di sandaran kursi, dan saat ia melangkah ke pintu, Pak Suryono berkata lagi, dengan nada yang begitu pelan hingga hampir tertelan suara radio.
“Kadang, Mas Bima, orang datang ke warung ini bukan karena kopinya. Tapi karena mereka butuh tempat untuk mengatakan hal-hal yang tidak bisa mereka katakan di tempat lain.”
Bima berhenti. Tangannya sudah di gagang pintu. Ia menoleh, dan Pak Suryono masih berdiri di sana, lap di tangannya, kumisnya yang memutih bergerak sedikit seperti biasa.
Tidak ada yang berubah di wajah pria itu, tidak ada tanda bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa.
Tapi Bima tahu, entah bagaimana, bahwa kata-kata itu bukan sekadar obrolan pemilik warung kepada pelanggannya.
“Saya cuma jual kopi, Mas,” lanjut Pak Suryono, dan kali ini ia tersenyum, senyum yang lebih lebar dari biasanya.
“Tapi kadang-kadang, kopi itu cuma alasan.”
Bima tidak menjawab. Ia mendorong pintu, melangkah keluar ke udara sore yang lembab, dan membiarkan pintu warung menutup di belakangnya dengan bunyi pelan yang sama seperti saat ia membukanya tadi.
Di luar, gerimis masih turun, dan jalanan mulai basah lagi, mengilap di bawah cahaya lampu jalan yang baru menyala.

