Bab 4 – Kopi yang Tidak Dipesan

Bima menatap punggung Pak Suryono yang semakin menjauh. Kemeja batik lengan pendeknya sedikit kusut di bagian kerah.

Tiba-tiba Bima teringat sesuatu yang pernah dikatakan Pak Suryono dua minggu lalu, malam ketika Nadine pergi lebih dulu dan meninggalkan Bima sendirian di warung ini.

Warung kopi ini adalah tempat untuk mengatakan hal-hal yang tidak bisa diucapkan di tempat lain. Kata-kata itu sekarang terngiang di kepalanya, dan Bima menyadari bahwa Pak Suryono tidak sedang berbicara tentang warungnya.

Ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

Tentang bagaimana ia sudah bertahun-tahun menyaksikan orang-orang datang dan pergi, duduk dan berbicara dan diam, dan bagaimana ia belajar membaca semua yang tidak terucapkan di antara mereka.

Dan dua cangkir kopi ini adalah caranya berbicara. Caranya mengatakan: aku melihat kalian. Aku melihat apa yang kalian sembunyikan dari satu sama lain.

Bima menatap cangkir di hadapannya. Permukaan kopi itu hitam pekat, tidak ada buih, tidak ada latte art yang rumit. Hanya kopi hitam yang diseduh dengan air panas dan kesabaran.

Ia mengangkat cangkir itu, merasakan panasnya merambat ke telapak tangannya. Ia tidak langsung minum. Ia hanya memegangnya, membiarkan uapnya mengenai wajahnya.

“Nadine,” katanya.

Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan. Nadine mendongak dari cangkirnya. Matanya menatap Bima, menunggu.

“Di luar pekerjaan,” Bima melanjutkan,
“bagaimana kabarmu?”

Pertanyaan itu terasa kikuk. Terlalu umum, terlalu aman. Tapi itu adalah satu-satunya pertanyaan yang berani ia ajukan sekarang. Satu-satunya cara untuk mulai membuka pintu tanpa harus mendobraknya.

Nadine menurunkan cangkirnya. Jemarinya masih melingkari gagangnya.
“Baik,” katanya. Satu kata. Hanya satu kata. Lalu ia menambahkan,
“Sibuk seperti biasa.”

Bima menunggu kelanjutannya. Tapi tidak ada kelanjutan. Nadine kembali menatap kopinya, dan keheningan di antara mereka kembali mengental.

Bukan keheningan yang nyaman seperti dulu, ketika mereka bisa duduk berdua tanpa perlu mengatakan apa-apa dan tetap merasa saling mengerti. Keheningan ini berbeda.

Keheningan ini adalah dinding yang semakin hari semakin tebal, dibangun dari kata-kata yang tidak pernah diucapkan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajukan.

Bima ingin mengatakan lebih banyak. Ia ingin bertanya tentang malam itu, tentang dagu yang disandarkan di bahunya, tentang apa yang sebenarnya ingin Nadine katakan sebelum akhirnya memilih diam.

Tapi ia tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya. Mungkin ketakutan. Mungkin keraguan.

Mungkin keyakinan bahwa begitu ia membuka mulut dan mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan, semuanya akan berubah, dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk perubahan itu.

Jadi ia hanya minum kopinya. Pahit. Persis seperti yang ia butuhkan.

Nadine menyelesaikan kopinya lebih dulu. Ia meletakkan cangkir kosong di atas meja, dan bunyi porselen menyentuh kayu terdengar seperti tanda baca yang menutup sebuah kalimat.

“Aku harus pergi,” katanya.
“Ada proyek lain yang harus aku selesaikan sore ini.”

Bima mengangguk. Ia tidak memintanya untuk tinggal. Ia tidak mengatakan bahwa ia masih ingin berbicara. Ia hanya mengangguk, dan gerakan itu terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri.

Nadine berdiri. Ia merapikan tas kanvasnya, menarik tali selempangnya ke bahu. Sebelum berbalik, ia menatap Bima sekali lagi.

Matanya berkata sesuatu, tapi Bima tidak bisa membaca apa. Mungkin ia memang tidak ingin bisa membaca. Mungkin ia takut tahu apa isinya.

“Sampaikan salam pada Pak Suryono,” kata Nadine.

“Akan kusampaikan.”

Lalu Nadine pergi. Pintu kayu itu terbuka dan tertutup, dan suara langkah kakinya menghilang di trotoar luar.

Bima duduk sendirian di meja sudut, dengan dua cangkir kopi, satu yang masih setengah penuh dan satu yang sudah kosong. Ia menatap cangkir Nadine, bekas bibirnya masih samar di pinggiran porselen.

Dan ia menatap cangkirnya sendiri, yang mulai mendingin di tangannya.

Pak Suryono masih di belakang meja bar. Ia tidak menatap Bima. Ia sibuk menyeka mesin espresso dengan lap yang sama, gerakan berulang yang sudah ia lakukan ribuan kali.

Tapi Bima tahu ia memperhatikan. Ia tahu Pak Suryono mendengar setiap kata yang tidak diucapkan di meja itu, sama seperti ia mendengar setiap kata yang tidak diucapkan oleh pelanggan-pelanggannya selama bertahun-tahun.

Bima menghabiskan kopinya dalam satu tegukan panjang. Dingin mulai merayapi pinggiran cangkir. Ia meletakkan uang di atas meja, lebih dari cukup untuk dua cangkir yang tidak dipesannya.

Lalu ia berdiri, memasukkan buku catatannya ke dalam tas, dan berjalan ke pintu.

Di ambang pintu, ia berhenti. Menoleh ke belakang. Pak Suryono sekarang menatapnya. Matanya tenang, tidak menghakimi, tidak juga mendorong.

Hanya menatap, seperti seorang mantan guru matematika yang sudah terlalu sering melihat murid-muridnya gagal memecahkan soal dan tahu bahwa jawabannya tidak akan datang dari luar, tapi dari dalam diri mereka sendiri.

“Terima kasih untuk kopinya, Pak,” kata Bima.

Pak Suryono mengangguk pelan.
“Kembali lagi kapan-kapan.”

Bima melangkah keluar. Udara siang menyambutnya, panas dan lembap dan penuh dengan suara kendaraan di kejauhan.

Ia berdiri di trotoar depan warung, menatap jalan raya Surabaya yang siang itu ramai dengan ritme yang bisa ditebak.

Motor-motor melintas, klakson berbunyi, dan di suatu tempat, seseorang sedang memutar musik dangdut dari pengeras suara kecil.Ia memikirkan Nadine.

Memikirkan bagaimana ia hanya menjawab “baik” dan “sibuk seperti biasa,” seakan-akan tidak ada yang berubah di antara mereka.

Memikirkan bagaimana dinding itu semakin tebal, dan bagaimana ia sendiri ikut membangunya dengan setiap pertanyaan yang tidak jadi ia ajukan.

Memikirkan bagaimana kehadiran bukan lagi sekadar rutinitas, tapi sebuah pilihan yang harus ia buat setiap hari: memilih untuk hadir sepenuhnya, atau memilih untuk tetap bersembunyi di balik kata-kata yang aman.

Dan untuk pertama kalinya, Bima memikirkan sesuatu yang konkret. Bukan lagi tentang apa yang ingin ia katakan, tapi tentang di mana ia bisa mengatakannya. Kafe favorit mereka.

Tempat itu masih ada, di sudut jalan yang lebih tenang, dengan kursi rotan dan lampu gantang yang redup dan musik jazz yang selalu diputar terlalu pelan.

Dulu mereka sering ke sana. Sebelum semuanya menjadi rumit. Sebelum keheningan mulai mengisi ruang-ruang di antara mereka.

Mungkin di sana, dengan suasana yang berbeda, dengan dinding yang tidak menyimpan memori dari percakapan-percakapan yang menggantung, ia bisa memulai lagi.

Mungkin ia bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan sejak dua minggu lalu, sejak perjalanan motor yang sunyi itu, sejak pesan panjang yang ia hapus dan ganti dengan kalimat pendek yang tidak berarti apa-apa.

Bima mengeluarkan ponselnya. Membuka percakapan dengan Nadine. Jemarinya menggantung di atas layar, ragu-ragu. Lalu ia mulai mengetik.

Nadine, kapan-kapan kita ke kafe yang dulu lagi? Aku rasa sudah terlalu lama kita tidak ke sana.

Ia membaca pesan itu sekali. Dua kali. Jemarinya bergerak ke tombol hapus. Berhenti. Lalu, dengan gerakan yang terasa lebih berat dari yang seharusnya, ia menekan tombol kirim.

Pesan itu melesat pergi. Tidak bisa ditarik kembali. Tidak bisa dihapus dan diganti dengan kalimat lain yang lebih aman. Bima menatap layar ponselnya, menunggu centang biru yang belum juga muncul.

Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia tidak menyesalinya. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia tidak menyesali kata-kata yang ia kirimkan.

Ia memasukkan ponsel ke saku, menyalakan motornya, dan melaju ke jalan raya Surabaya yang siang itu mulai berubah warna menjadi jingga di ufuk timur.

Latest Novel ionicons-v5-c