Bab 5 – Tawaran dari Jakarta

Layar laptop menyala dalam spektrum biru pucat yang memantul di lensa kacamatanya. Bima Aditya mengetikkan satu baris kode, menghapusnya, lalu mengetikkan lagi versi yang sedikit berbeda.

Jarum jam di sudut ruangan sudah melewati angka sepuluh, dan kantor pusat kota Surabaya itu hanya menyisakan dirinya sendiri.

Suara pendingin ruangan berdengung pelan, bercampur dengan ketukan keyboard yang ritmenya semakin lama semakin tidak teratur.

Seminggu sudah berlalu sejak pertemuan di warung kopi Mbok Darmi. Seminggu sejak ia mengirim pesan itu dan menunggu balasan yang akhirnya datang dalam bentuk singkat:

Besok, jam tujuh. Kafe biasa.

Nadine tidak menulis lebih banyak, dan Bima tidak tahu harus membaca apa dari kalimat sesingkat itu.

Mereka bertemu, mereka berbicara tentang proyek klien baru, tentang font yang tidak cocok, tentang deadline yang mundur. Percakapan yang aman. Percakapan yang tidak menyentuh apa pun yang sebenarnya ingin ia sentuh.

Bima mendorong kacamatanya ke atas batang hidung. Pekerjaan malam ini seharusnya sudah selesai dua jam lalu, tapi ia memilih tinggal. Apartemennya terlalu sunyi akhir-akhir ini.

Atau mungkin bukan apartemennya yang bermasalah. Mungkin ia sendiri yang tidak tahan berada di ruang yang hanya berisi pikirannya sendiri.

Notifikasi email muncul di sudut kanan layar. Bima hampir mengabaikannya. Tapi nama pengirimnya membuat ia berhenti: Raditya Wibisono, Partner di Aksara Ventures, Jakarta.

Subjek email itu singkat:

Tawaran Kerja Sama Pengembangan.

Bima mengkliknya sebelum sempat berpikir dua kali.

Isinya langsung. Tidak ada basa-basi korporat yang bertele-tele. Raditya Wibisono menulis bahwa mereka telah mengikuti perkembangan platform desain yang Bima bangun selama dua tahun terakhir.

Mereka melihat potensi. Mereka ingin mengembangkan proyek itu dalam skala yang lebih besar, dengan pendanaan penuh, infrastruktur teknis, dan akses ke jaringan klien nasional.

Mereka ingin Bima memimpin tim pengembangan di kantor pusat mereka di Jakarta.

Bima membaca email itu dua kali. Tiga kali. Empat kali.

Angka yang tercantum di bagian penawaran finansial membuat jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Jumlahnya tiga kali lipat dari pendapatan tahunannya sekarang. Tiga kali lipat.

Ditambah saham minoritas di perusahaan hasil pengembangan. Ditambah tunjangan relokasi dan tempat tinggal selama enam bulan pertama.

Tangannya bergerak ke mouse, mengarahkan kursor ke tombol “Reply”. Lalu berhenti.

Apa yang seharusnya ia rayakan justru terasa seperti pukulan di ulu hati. Bima melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja, dan menggosok pangkal hidung dengan ibu jari dan telunjuk.

Tawaran ini adalah segala yang ia impikan sejak memulai usaha rintisannya tiga tahun lalu. Validasi. Skala. Kepercayaan dari pemain besar.

Tawaran ini adalah jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur:

Apakah ia cukup baik?
Apakah ia cukup serius?
Apakah semua ini akan berbuah sesuatu?

Dan sekarang jawabannya datang, terbungkus rapi dalam email yang mungkin hanya butuh waktu lima menit untuk ditulis Raditya Wibisono. Tapi jawaban itu membawa pertanyaan baru yang tidak kalah beratnya.

Jakarta.

Bima mengeja kata itu dalam kepalanya, dan yang muncul bukanlah gambaran gedung pencakar langit atau ruang rapat dengan meja kaca.

Yang muncul adalah wajah Nadine Putri, dengan rambut bergelombang sebahu dan anting kayu kecil yang selalu bergoyang saat ia memiringkan kepala.

Yang muncul adalah warung kopi Mbok Darmi dengan mesin espresso tuanya yang mendesis setiap kali Pak Suryono menyeduh pesanan baru.

Yang muncul adalah jalan raya Surabaya di sore hari, ramai dengan ritme yang bisa ditebak, dan motor yang melaju di antara mobil-mobil dengan spion yang memantulkan cahaya jingga.

Ia menutup laptopnya. Layar menjadi hitam, dan ruangan menjadi lebih sunyi.

Di luar jendela, lampu-lampu kota Surabaya berkelap-kelip dalam jarak yang terasa akrab. Bima sudah dua puluh sembilan tahun tinggal di kota ini.

Ia tahu setiap tikungan, setiap warung yang buka sampai larut, setiap rute alternatif saat jalan utama macet. Ia tahu di mana harus mencari kopi yang enak dan di mana harus menghindari genangan saat hujan deras.

Kota ini bukan sekadar tempat tinggal. Kota ini adalah tekstur hidupnya. Dan Nadine adalah bagian dari tekstur itu. Entah sejak kapan tepatnya.

Mungkin sejak pertama kali mereka bertemu di acara komunitas desainer tiga tahun lalu, saat Nadine datang dengan kemeja linen putih dan senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata.

Mungkin sejak mereka mulai bekerja sama dalam proyek pertama, lalu proyek kedua, lalu proyek-proyek berikutnya yang membuat pertemuan klien berubah menjadi obrolan di warung kopi.

Mungkin sejak Bima mulai menyadari bahwa ia mencari alasan untuk tetap berkomunikasi dengannya bahkan setelah pekerjaan selesai.

Ia tidak pernah mengatakan apa pun. Itulah masalahnya.

Bima berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela. Dahinya menempel di kaca yang dingin. Di bawah sana, jalanan masih ramai dengan kendaraan yang bergerak pelan.

Orang-orang pulang ke rumah masing-masing, ke keluarga masing-masing, ke kehidupan yang mungkin juga penuh dengan hal-hal yang tidak berani mereka katakan.

Ia bukan satu-satunya orang yang menyimpan kata-kata di dalam dada. Tapi entah kenapa pengetahuan itu tidak membuatnya merasa lebih baik.

Ponselnya bergetar. Bima merogoh saku celana, mengeluarkannya dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat.

Bukan Nadine. Hanya notifikasi kalender:

Meeting klien baru - Selasa 09.00.

Ia mengembalikan ponsel ke saku, lalu kembali ke meja. Duduk. Menyalakan laptop. Membuka email itu lagi. Raditya Wibisono menulis bahwa mereka membutuhkan jawaban dalam waktu dua minggu.

Dua minggu untuk memutuskan arah hidupnya.

Dua minggu untuk memutuskan apakah ia akan tetap menjadi Bima Aditya yang dikenalnya selama ini, atau menjadi versi lain dari dirinya sendiri yang tingal di kota berbeda, bekerja di kantor berbeda, dan pulang ke apartemen yang tidak akan pernah dikunjungi Nadine.

Bima mengeluarkan ponselnya lagi. Kali ini dengan sengaja. Ia membuka WhatsApp, mencari nama Nadine Putri, dan menatap layar chat mereka.

Pesan terakhir masih dari seminggu lalu. “Besok, jam tujuh. Kafe biasa.” Di atasnya, pesan Bima yang lebih panjng: ajakan bertemu yang ia kirim setelah berjam-jam menimbang-nimbang di warung kopi Mbok Darmi.

Jempolnya menggantung di atas keyboard virtual. Ia ingin mengetik sesuatu.

Ia ingin memberi tahu Nadine tentang email ini, tentang tawaran ini, tentang ketakutan yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan di tengah apa yang seharusnya menjadi kabar baik.

Ia ingin mengatakan: “Aku dapat tawaran ke Jakarta, dan aku tidak tahu apakah aku harus menerimanya karena aku tidak tahu apakah kau ingin aku tetap di sini.”

Tapi itu bukan pertanyaan yang adil. Itu bukan tanggung jawab Nadine.

Latest Novel ionicons-v5-c