Bima menginjak pedal rem lebih dalam dari yang ia rencanakan. Motor itu berhenti beberapa meter dari pintu masuk taman, dan ia membiarkan mesinnya menyala sejenak, mendengarkan dengungan yang teredam oleh helm.
Sembilan hari sejak email dari Raditya Wibisono masuk ke kotak masuknya. Dua hari sejak ia mengirim pesan kepada Nadine, mengajaknya bertemu di tempat ini.
Dan sekarang ia berada di sini, dengan tangan yang masih menggenggam stang motor, menunda momen yang seharusnya sudah dimulai.
Taman kota itu tidak sepi. Bukan dalam arti harfiah. Seorang ibu mendorong kereta bayi di jalur setapak sebelah kiri. Dua remaja duduk di rumput dengan ponsel di tangan.
Suara burung gereja bertengkar di dahan pohon trembesi.
Tapi bagi Bima, semua itu seperti latar belakang yang tidak bisa menembus gelembung keheningan di sekelilingnya sendiri. Ia melepas helm, menggantungkannya di spion, dan berjalan masuk.
Nadine sudah di sana.
Ia duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon kersen, bangku yang dulu selalu mereka pilih tanpa perlu berdiskusi. Rambut bergelombangnya diikat setengah, dan anting-anting kayu kecil itu masih di telinganya.
Ia tidak melihat ke arah Bima. Pandangannya tertuju pada sesuatu di depannya, mungkin pada daun yang jatuh, mungkin pada apa pun yang bukan Bima.
Bima berjalan mendekat, dan setiap langkah terasa lebih berat dari yang seharusnya. Ia sudah membayangkan percakapan ini berkali-kali. Dalam versi-versi itu, ia selalu bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Ia akan memulai dengan tawaran dari Jakarta, menjelaskan kebimbangannya, dan entah bagaimana Nadine akan mengerti.
Tapi sekarang, melihat punggung Nadine yang tegak dan bahu yang tidak bergerak menyambutnya, semua kata itu lenyap.
“Nadine.”
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Nadine menoleh, dan untuk pertama kalinya Bima melihat wajahnya dengan jelas. Tidak ada senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata.
Yang ada hanya sepasang mata yang menatap lurus, dengan sesuatu di baliknya yang belum pernah Bima lihat sebelumnya.
“Kamu datang,” kata Nadine. Bukan pertanyaan. Bukan juga sambutan hangat.
Bima duduk di ujung bangku yang sama, menyisakan ruang di antara mereka.
“Aku minta maaf terlambat.”
Nadine tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, ke arah jalan setapak yang membelah taman.
Jemarinya memilin ujung lengan kemeja linen putih yang ia kenakan, kemeja yang sama yang Bima ingat dari pertemuan mereka sebelumnya.
Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat, tapi Bima mengenalinya sebagai tanda bahwa Nadine sedang menahan sesuatu.
“Aku mau cerita sesuatu,” Bima memulai.
“Tentang tawaran kerja. Dari Jakarta. Ada perusahaan yang—”
“Kenapa kamu tidak pernah cerita hal-hal penting kepadaku, Bima?”
Kalimat itu memotong seperti pisau yang tidak disangka-sangka kedatangannya. Nadine masih tidak menatapnya.
Suaranya tidak keras, tapi setiap kata diucapkan dengan kejelasan yang membuat Bima merasa dadanya dihantam sesuatu yang padat. Ia membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar.
Lidahnya terasa kelu, seperti tersangkut pada sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.
“Aku tahu tentang tawaran itu,” lanjut Nadine.
“Larasati cerita. Katanya kamu dapat email dari seseorang di Jakarta. Deadline dua minggu. Dan kamu tidak pernah bilang apa-apa ke aku.”
Bima merasakan darahnya mengalir lebih cepat.
“Nadine, aku—”
“Aku nunggu, Bima.” Nadine akhirnya menoleh, dan kali ini matanya bertemu langsung dengan mata Bima.
“Seminggu. Aku nunggu kamu cerita sendiri. Aku pikir, mungkin kamu butuh waktu. Mungkin kamu akan datang dan bilang, ‘Nadine, ada sesuatu yang harus aku putuskan, dan aku mau kamu tahu.’ Tapi kamu tidak pernah datang.”
Udara di antara mereka berubah. Bima bisa merasakannya, seperti suhu yang turun beberapa derajat tanpa peringatan.
Ia ingin mengatakan sesuatu, apa pun, yang bisa memperbaiki ini. Tapi setiap kata yang muncul di kepalanya terasa tidak cukup. Terlalu kecil. Terlalu terlambat.
“Aku tidak tahu gimana caranya,” kata Bima akhirnya. Suaranya hampir berbisik.
Nadine menghela napas panjang.
“Kamu selalu bilang begitu. Selalu. Dan aku selalu nunggu. Aku nunggu kamu selesai mikir. Aku nunggu kamu siap. Tapi kali ini…”
Ia berhenti, dan Bima melihat bibirnya bergetar sebelum ia menekannya rapat.
“Kali ini aku sadar, mungkin memang tidak ada yang bisa aku tunggu.”
Seorang bapak dengan anjing golden retriever lewat di depan mereka. Anjing itu menoleh ke arah bangku, mengibaskan ekornya, lalu melanjutkan langkah.
Bima memperhatikan semua itu dengan ketajaman yang aneh, seolah otaknya mencoba merekam setiap detail untuk sesuatu yang ia belum mengerti.
“Aku serius,” kata Bima.
“Tentang ajakan ketemu ini. Aku mau ngomong.”
“Tapi kamu tidak ngomong, Bima.” Nadine berdiri. Gerakan itu tiba-tiba, membuat Bima tersentak.
“Kamu duduk di sini, dan kamu bilang mau cerita tentang tawaran kerja. Bukan tentang apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Bukan tentang kenapa kamu ragu. Bukan tentang…”
Ia berhenti lagi, dan kali ini Bima bisa melihat matanya berkaca-kaca.
“Bukan tentang aku.”
Bima ikut berdiri.
“Nadine, tunggu.”
“Aku sudah nunggu.” Suara Nadine naik setengah nada, dan di dalamnya ada sesuatu yang pecah.
“Aku nunggu kamu pulang dari kantor setiap malam. Aku nunggu kamu balas pesanku dengan lebih dari sekadar ‘oke, nanti aku kabari.’ Aku nunggu kamu lihat aku dan sadar bahwa aku bukan cuma rekan kerja. Aku nunggu, Bima. Dan aku capek.”
Kata-kata itu menggantung di udara, dan Bima merasakannya seperti pukulan yang tidak ia lihat datang. Ia teringat pesan yang ia ketik dan hapus.
Pesan panjang yang ia tulis di malam yang sama ketika ia menerima email dari Raditya. Ia teringat bagaimana jempolnya melayang di atas tombol kirim, lalu turun ke tombol hapus.
Ia teringat bagaimana ia memilih diam karena diam terasa lebih aman. Lebih mudah.
“Aku nggak tahu,” kata Bima, dan suaranya terdengar seperti seseorang yang tenggelam.
“Aku nggak tahu kalau kamu—”
“Kalau aku apa?” Nadine memotong.
“Kalau aku peduli? Kalau aku mau lebih dari sekadar ngobrol soal kerjaan di warung kopi? Kalau aku juga punya perasaan yang aku nggak berani ungkapin karena aku takut kamu akan pergi?” Ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, gerakan cepat yang ia coba sembunyikan.
