Itu adalah kebimbangannya sendiri, dan ia tidak berhak membebankan kebimbangan itu pada orang lain hanya karena ia tidak mampu menyelesaikannya sendiri.
Bima mengetik:
Nad, ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kita bertemu akhir pekan ini?
Ia membaca kalimat itu. Terlalu resmi. Terlalu seperti email bisnis yang baru saja ia baca.
Ia menghapusnya. Mengetik ulang:
Nad, aku dapat tawaran kerja di Jakarta.
Terlalu langsung. Terlalu mentah. Nadine akan membaca itu dan mungkin mengira Bima sudah memutuskan untuk pergi. Mungkin mengira Bima hanya memberitahu, bukan mengajak bicara.
Dihapus lagi. Mengetik ulang:
Hei, apa kabar? Ada yang ingin aku ceritakan.
Terlalu santai untuk sesuatu yang sebenarnya genting. Seolah-olah ia akan bercerita tentang film yang baru ditonton atau buku yang baru dibeli.
Bima menatap layar ponselnya. Jempolnya tidak bergerak. Kata-kata yang ia butuhkan terasa seperti benda padat yang tersangkut di tenggorokan. Ia tahu apa yang ingin ia sampaikan.
Ia tahu apa yang ia rasakan. Tapi menuangkannya ke dalam kalimat yang bisa dikirim lewat aplikasi perpesanan terasa mustahil, seperti mencoba menuang air ke dalam wadah yang bocor.
Ia teringat perjalanan motor dua minggu lalu. Keheningan di antara mereka yang terasa seperti ruang tunggu. Bahu Nadine yang menyandar di bahunya saat mereka berhenti di depan rumah Nadine.
Gestur itu adalah jawaban tanpa kata, dan Bima menerimanya sebagai jawaban tanpa kata. Tapi sekarang ia butuh kata-kata. Sekarang ia butuh lebih dari sekadar kehadiran fisik.
Sekarang ia butuh seseorang yang bisa mendengarnya dan mengatakan sesuatu kembali. Dan ia tidak tahu apakah Nadine bisa menjadi orang itu. Ia tidak tahu apakah Nadine ingin menjadi orang itu.
Mereka tidak pernah mendefinisikan apa pun di antara mereka, dan ketidakjelasan itu dulu terasa nyaman. Sekarang ketidakjelasan itu terasa seperti jebakan.
Bima mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja dengan layar menghadap ke bawah. Ia tidak akan mengirim pesan apa pun malam ini.
Ia akan pulang, tidur, dan berharap pagi membawa kejelasan yang tidak bisa ia ciptakan sendiri di tengah malam. Tapi sebelum ia bisa berdiri dari kursinya, ponselnya bergetar lagi.
Kali ini namanya muncul di layar. Nadine Putri.
Bima mengangkat ponselnya dengan tangan yang tiba-tiba terasa kaku. Ia membuka pesan itu.
Bim, kamu masih di kantor? Aku lihat lampu lantai 3 masih nyala.
Bima menatap layar. Nadine berada di luar. Atau mungkin kebetulan lewat. Atau mungkin memang sengaja mencari. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan ia tidak bisa menentukan apakah itu karena harapan atau karena ketakutan.
Ia mengetik balasan:
Masih. Kamu di mana?
Tiga detik kemudian, balasan datang:
Di bawah. Boleh naik?
Bima berdiri dari kursinya. Ia melihat sekeliling ruangan: kabel charger yang berantakan, cangkir kopi dingin dari sore tadi, layar laptop yang masih menampilkan email dari Raditya Wibisono.
Ia tidak sempat membereskan apa pun. Tapi mungkin ia tidak perlu. Mungkin inilah saatnya berhenti merapikan segala sesuatu dan mulai membiarkan kekacauan terlihat.
Ia mengetik:
Boleh. Pintu samping tidak dikunci.
Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya. Matanya kembali ke layar laptop, ke email yang masih terbuka, ke tawaran yang akan mengubah segalanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena ia sudah menemukan jawaban. Tapi karena ia akan segera berbicara dengan seseorang yang mungkin bisa membantunya mencari jawaban itu.
Langkah kaki terdengar dari koridor luar. Sepatu dengan sol yang ringan, ritme yang ia kenali. Bima melepas kacamatanya, melipatnya, dan meletakkannya di samping laptop. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu.
