Bab 7 – Pesan yang Tidak Dikirim

Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan deretan kata-kata yang telah ia ketik dan hapus berkali-kali. Bima Aditya duduk di tepi tempat tidurnya, punggung membungkuk, kedua siku bertumpu pada lutut.

Kamar itu sunyi, hanya terdengar dengung samar dari pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terus bergerak tanpa peduli. Pukul satu lewat dua belas menit.

Di luar jendela, lampu-lampu apartemen masih berkelap-kelip, kotak-kotak cahaya yang menggantung di kegelapan.

Ia menatap layar itu lagi. Pesan yang belum selesai. Belum lengkap. Belum cukup jujur.

Jempolnya menyentuh permukaan kaca, dan teks itu muncul kembali: paragraf-paragraf yang tersusun rapi, kalimat-kalimat yang telah ia bongkar-pasang selama hampir dua jam.

Setiap kata terasa seperti batu yang harus ia angkut satu per satu. Nadine, aku perlu bicara. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang tawaran dari Jakarta.

Tapi tentang kenapa aku tidak pernah bisa mengatakan apa pun yang sebenarnya kurasakan setiap kali kita duduk berhadapan.

Ia membaca ulang kalimat itu. Terlalu panjang. Terlalu berbelit. Terlalu banyak pembukaan yang justru menghindari intinya.

Jarinya bergerak ke tombol hapus. Menekan. Menghilangkan semuanya.

Lalu ia mengetik lagi.

Kali ini lebih pendek. Nadine, aku takut. Bukan takut ditolak. Bukan takut kau tidak merasakan hal yang sama. Tapi takut bahwa apa pun yang kuucapkan akan mengubah segalanya, dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk perubahan itu.

Bima menghela napas panjang. Kalimat itu masih belum benar. Masih belum menangkap apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ketakutan yang lebih dalam, yang lebih tua, yang sudah ada sebelum Nadine muncul dalam hidupnya. Ketakutan bahwa kejujuran adalah bentuk kelemahan.

Bahwa membuka diri berarti memberi orang lain peta menuju titik-titik rapuh yang bisa mereka hancurkan kapan saja.

Ia meletakkan ponsel di atas selimut, lalu bangkit. Kakinya melangkah ke meja kecil di sudut kamar, tempat laptopnya masih menyala dalam mode tidur.

Di sebelahnya, sebuah cangkir berisi air putih yang sudah tidak dingin lagi. Ia meminumnya, merasakan cairan itu mengalir pelan di tenggorokan, lalu kembali ke tempat tidur.

Ponsel itu masih menunggu.

Bima mengambilnya lagi. Membuka galeri foto. Menggeser layar ke atas, melewati tangkapan-tangkapan layar desain, foto-foto dokumentasi proyek, sampai ia menemukan folder yang tidak pernah ia beri nama.

Folder itu berisi foto-foto lama. Foto-foto mereka.

Yang pertama: Nadine di warung kopi Mbok Darmi, tertawa dengan mulut terbuka lebar, rambut bergelombangnya tergerai di bahu.

Di belakangnya, mesin espresso tua itu mengeluarkan suara desis yang tidak terekam kamera. Bima ingat persis momen itu.

Ia baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh, sesuatu tentang kopi dan filsafat, dan Nadine tertawa begitu keras sampai pelanggan lain menoleh. Itu terjadi sekitar setahun yang lalu. Mungkin lebih.

Yang kedua: mereka berdua di kafe favorit, sebuah tempat kecil di pinggir jalan dengan dinding bata ekspos dan lampu gantung antik.

Nadine sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya, dan Bima duduk di seberang meja, menatapnya tanpa ia sadari.

Foto ini diambil oleh Larasati, adik Nadine, yang tiba-tiba muncul sore itu dan memotret mereka tanpa izin. Bima masih ingat bagaimana Nadine memprotes, tapi matanya berbinar. Matanya selalu berbinar seperti itu.

Yang ketiga: foto yang lebih baru. Dua minggu yang lalu, di taman kota yang tidak pernah sepi.

Nadine sedang menatap ke arah sesuatu di luar bingkai, dagunya sedikit terangkat, dan di belakangnya lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu. Foto ini diambil sebelum pertengkaran mereka. Sebelum semuanya berubah.

Bima menatap foto itu lama sekali. Jempolnya menyentuh wajah Nadine di layar, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: campuran antara kerinduan dan penyesalan yang begitu pekat sampai hampir terasa fisik.

Seperti ada tekanan di belakang tulang dadanya. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tidak menemukan jalannya.

Ia kembali ke aplikasi pesan.

Mengetik lagi. Kali ini lebih panjang. Lebih mentah. Lebih tidak terstruktur.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Nadine. Mungkin dari pengakuan bahwa aku sudah menghapus pesan ini berkali-kali. Mungkin dari kenyataan bahwa aku melakukan hal yang sama setiap hari selama dua tahun terakhir.

Mengetik sesuatu yang jujur, lalu menghapusnya karena aku pikir belum waktunya. Karena aku pikir masih ada kesempatan lain. Karena aku pikir kau akan selalu ada, dan aku tidak perlu terburu-buru.

Tapi ternyata tidak. Ternyata kau bisa pergi. Ternyata kau bisa lelah menunggu seseorang yang tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Dan aku mengerti sekarang. Aku mengerti kenapa kau berjalan menjauh dua hari yang lalu di taman itu. Aku mengerti kenapa kau tidak menoleh.

Bima berhenti. Jarinya menggantung di atas layar. Kata-kata selanjutnya sudah ada di kepalanya, tapi menuliskannya terasa seperti melompat dari tebing.

Ia melanjutkan.

Aku mencintaimu, Nadine. Bukan sebagai rekan kerja. Bukan sebagai teman lama yang kebetulan sering menghabiskan waktu bersama.

Tapi sebagai seseorang yang membuatku merasa bahwa hidup ini lebih dari sekadar daftar target dan tenggat waktu.

Sebagai seseorang yang membuatku ingin berhenti sejenak dari semua ambisi ini dan hanya duduk di sampingmu, mendengarkan suaramu, menatap caramu memiringkan kepala saat kau berpikir.

Jempolnya bergetar. Bukan metafora. Benar-benar bergetar, otot-otot kecil di sekitar sendi yang menegang karena terlalu lama mengetik dalam posisi yang sama.

Ia membaca ulang paragraf terakhir itu. Kata-katanya terasa asing. Terlalu langsung. Terlalu telanjang. Ini bukan cara Bima Aditya berbicara.

Bima Aditya adalah orang yang merangkai kalimat dengan hati-hati, yang memilih diksi dengan presisi, yang selalu menyisakan ruang untuk interpretasi.

Tapi di layar ini, di kamar yang sunyi ini, ia telah menulis sesuatu yang tidak bisa ditafsirkan dengan cara lain. Dan itu membuatnya takut.

Ia menekan tombol hapus lagi. Seluruh paragraf terakhir lenyap dalam satu sentuhan. Bima meletakkan ponsel dengan gerakan yang lebih kasar dari yang ia maksudkan.

Alat itu memantul pelan di atas selimut. Ia menatap langit-langit kamar, mencari sesuatu di antara retakan-retakan halus cat putih yang sudah mulai mengelupas di sudut. Tidak ada jawaban di sana. Tidak pernah ada.

Di meja kecil, laptopnya masih menampilkan email dari Raditya Wibisono. Ia belum menutupnya sejak sore tadi.

Latest Novel ionicons-v5-c