Suara mesin espresso tua yang mendesis dari balik meja bar menjadi penanda waktu yang lebih jujur daripada jam tangan mana pun.
Bima mendorong pintu kafe Mbok Darmi dengan telapak tangan yang sedikit lembap, bukan karena panas di luar, melainkan karena sesuatu yang sudah ia bawa sejak pagi tadi.
Sesuatu yang tidak bisa ia simpan lagi di dalam saku jaket, tidak bisa ia ketik lalu hapus, tidak bisa ia biarkan menggantung di antara pesan-pesan singkat yang tak pernah sampai ke tujuan sebenarnya.
Nadine sudah duduk di meja sudut. Bukan meja mereka yang biasa di dekat jendela, melainkan meja kecil di bawah rak buku tua yang dipenuhi novel-novel bekas dengan punggung yang sudah menguning.
Ia memandang ke arah pintu saat Bima masuk, dan tatapan itu bukan tatapan seseorang yang baru saja tiba. Itu tatapan seseorang yang sudah menunggu cukup lama untuk tahu bahwa yang ditunggu akhirnya datang.
Kemeja linen putih yang dikenakannya masih sama seperti kemarin. Atau mungkin itu kemeja yang berbeda, Bima tidak bisa memastikan.
Yang bisa ia pastikan hanyalah bahwa anting-anting kayu kecil di telinga Nadine bergoyang pelan saat ia mengangkat dagu, dan gerakan kecil itu entah bagaimana membuat seluruh ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.
“Suratmu,” kata Nadine, suaranya rendah tapi tidak bergetar.
“Aku sudah membacanya. Dua kali.”
Bima menarik kursi di seberangnya. Duduk. Menaruh kedua tangan di atas meja dengan cara yang mungkin terlihat terlalu kaku, terlalu sadar diri.
Kayu meja itu terasa dingin di bawah telapaknya, sedikit lecet di bagian tepi, bekas bertahun-tahun pelanggan yang melakukan hal yang sama: duduk, menunggu, mencari keberanian.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” Bima mengakui.
Nadine menyimpan tangan di atas meja, tidak menyentuh tangan Bima tapi cukup dekat untuk membuat jarak di antara mereka terasa seperti sesuatu yang bisa dijembatani.
“Mulai dari bagian yang tidak kamu tulis.”
Dari luar jendela, cahaya sore menyaring masuk melalui kaca yang sedikit berdebu, membuat segalanya terlihat lebih lembut. Lebih mudah untuk jujur.
Atau mungkin itu hanya ilusi yang Bima ciptakan untuk dirinya sendiri, karena kejujuran tidak pernah menjadi lebih mudah hanya karena pencahayaan yang tepat.
Kejujuran tetap terasa seperti melompat dari tebing tanpa tahu apakah di bawah ada air atau batu.
“Aku takut,” katanya.
Dan begitu dua kata itu keluar, seluruh konstruksi pertahanan yang ia bangun selama dua tahun terakhir mulai runtuh dengan cara yang tidak bisa ia hentikan.
“Bukan takut ditolak. Maksudku, ya, itu juga. Tapi lebih dari itu. Aku takut kalau apa yang aku rasakan ini terlalu besar untuk diucapkan. Takut kalau begitu aku mengatakannya, semuanya akan berubah. Dan perubahan itu… aku tidak tahu apakah aku siap.”
Nadine tidak langsung menjawab.
Ia membiarkan hening mengisi ruang di antara mereka, dan dalam hening itu Bima bisa mendengar suara mesin espresso yang masih mendesis, suara langkah seseorang di lantai dua, suara detak jantungnya sendiri yang entah kenapa terasa terlalu keras untuk ruangan sekecil ini.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini?” Nadine akhirnya berbicara, dan suaranya tidak lagi rendah.
Ada sesuatu yang tajam di dalamnya, sesuatu yang sudah lama disimpan dan akhirnya menemukan jalan keluar.
“Bukan karena kamu tidak pernah mengatakan apapun. Tapi karena aku bisa melihatnya. Setiap hari. Di caramu menatapku. Di caramu memilih duduk di sebelahku meskipun ada kursi kosong lain. Di pesan-pesan yang kamu ketik lalu hapus. Aku bisa melihat semuanya, Bima. Dan aku terus menunggu. Menunggu kamu mengatakannya. Menunggu kamu berani.”
Kata-kata itu menghantam Bima dengan kekuatan yang tidak ia antisipasi. Bukan karena ia tidak tahu bahwa Nadine juga merasakan hal yang sama.
Itu justru yang membuatnya lebih buruk: mengetahui bahwa selama ini mereka berdua terjebak dalam tarian yang sama, masing-masing menunggu yang lain untuk mengambillangkah pertama, masing-masing terlalu takut untuk menjadi yang pertama jatuh.
“Aku minta maaf,” katanya, dan suaranya pecah di ujung kalimat.
“Untuk semua waktu yang terbuang. Untuk semua pesan yang tidak pernah terkirim. Untuk semua kali aku duduk di sampingmu dan memilih diam karena diam terasa lebih aman daripada jujur.”
Tangan Nadine bergerak. Tidak banyak, hanya sedikit, hanya cukup untuk membuat jari-jarinya menyentuh punggung tangan Bima.
Sentuhan itu ringan, hampir tidak terasa, tapi Bima merasakannya seperti arus listrik yang menjalar dari ujung jari ke seluruh tubuhnya.
“Aku juga takut,” kata Nadine.
“Kamu pikir kamu satu-satunya yang takut? Aku sudah mengetik dan menghapus pesan yang sama lebih banyak dari yang bisa kamu bayangkan. Aku sudah menyimpan perasaan ini begitu lama sampai rasanya seperti benda asing di dalam dadaku sendiri. Dan setiap kali aku hampir mengatakannya, aku ingat semua orang yang pernah pergi. Semua orang yang pernah bilang mereka akan tetap tapi kemudian menghilang. Aku tidak mau kamu jadi salah satunya.”
Bima membalikkan tangannya, menggenggam jari-jari Nadine dengan cara yang mungkin terlalu erat, tapi Nadine tidak menarik tangannya.
“Aku tidak akan pergi,” katanya.
“Tawaran dari Aksara Ventures, aku sudah membatalkannya. Aku memilih tetap di sini. Aku memilih kamu.”
Nadine mengerjapkan mata. Sekali. Dua kali.
“Kamu membatalkan tawaran itu?”
“Aku tidak bisa pergi ke Jakarta dan pura-pura membangun sesuatu yang besar sementara di sini, di Surabaya, ada sesuatu yang jauh lebih penting yang belum selesai. Yang bahkan belum dimulai. Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan semua kata yang belum terucap. Itu akan menghantuiku lebih dari penyesalan apapun.”
Di belakang mereka, suara mesin espresso berhenti. Mungkin seseorang sedang mengganti biji kopi. Mungkin mesin itu hanya perlu istirahat.
Tapi dalam keheningan yang tiba-tiba itu, kata-kata Bima menggantung di udara dengan kejelasan yang tidak bisa disangkal.
“Aku mencintaimu,” katanya. Dan kali ini ia tidak mengetiknya. Tidak menghapusnya. Tidak menyimpannya di draft yang tidak akan pernah dikirim.
“Bukan sebagai teman. Bukan sebagai rekan kerja. Aku mencintaimu dengan cara yang membuatku tidak bisa tidur di malam hari. Dengan cara yang membuatku mengetik dan menghapus pesan yang sama puluhan kali. Dengan cara yang membuatku memilih untuk tetap di Surabaya meskipun semua logika menyuruhku pergi.”
Nadine menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Atau mungkin ia menangis, hanya saja air matanya belum jatuh.
