Bab 9 – Ayo

“Aku juga,” katanya, dan suaranya sekarang bergetar, kehilangan semua kendali yang selama ini ia pertahankan.

“Aku juga mencintaimu. Sudah lama. Mungkin sejak pertama kali kamu duduk di sampingku dan tidak mengatakan apapun, hanya diam, hanya ada. Dan aku terus menunggu. Menunggu kamu mengatakan sesuatu. Menunggu kamu berani. Karena aku terlalu takut untuk jadi yang pertama.”

Ada sesuatu yang lepas di dalam dada Bima. Sesuatu yang sudah lama terikat terlalu erat, terlalu kencang, dan akhirnya menemukan ruang untuk mengembang.

Ia tidak tahu apakah itu kelegaan atau kebahagiaan atau campuran dari keduanya. Yang ia tahu hanyalah bahwa untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tidak perlu lagi menyimpan kata-kata yang terlalu besar untuk diucapkan.

“Jadi… sekarang bagaimana?” tanya Nadine, dan pertanyaan itu sederhana tapi membawa beban dari semua keputusan yang belum mereka ambil.

Bima memandang ke luar jendela. Sore mulai bergeser menjadi senja, dan cahaya yang masuk melalui kaca kini berwarna jingga. Di jalan raya di depan kafe, kendaraan masih mengalir dengan ritme yang bisa ditebak.

Tapi di dalam ruangan kecil ini, di bawah rak buku tua dengan novel-novel bekas yang sudah menguning, waktu terasa berhenti.

“Ayo,” katanya.

Satu kata. Hanya satu kata. Tapi Nadine mengerti. Mungkin karena mereka sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk saling memahami tanpa kata-kata.

Mungkin karena satu kata itu adalah jawaban untuk semua pertanyaan yang selama ini tidak berani mereka tanyakan.

Atau mungkin karena dalam satu kata itu terkandung semua keberanian yang akhirnya mereka temukan: keberanian untuk memulai. Keberanian untuk hadir.

Keberanian untuk tidak lagi menghapus pesan yang seharusnya dikirim. Nadine tersenyum. Senyum yang muncul lebih dulu sebelum kata-kata. Senyum yang Bima kenali. Senyum yang selalu ia tunggu.

“Ayo,” jawabnya.

Mereka tidak langsung berdiri. Tidak langsung meninggalkan kafe dan memulai perjalanan pulang yang kali ini akan terasa berbeda.

Mereka tetap duduk di sana, di meja sudut di bawah rak buku tua, dengan tangan yang masih saling menggenggam, membiarkan semua kata yang akhirnya terucap mengendap di antara mereka.

Membiarkan kejujuran yang baru saja lahir menemukan tempatnya di dunia yang selama ini hanya diisi oleh diam.

Pak Suryono muncul dari balik meja bar, membawa dua cangkir kopi yang tidak mereka pesan.

Ia meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang pelan dan penuh perhatian, dan Bima bisa melihat sesuatu di mata lelaki tua itu. Sesuatu yang mirip dengan kepuasan.

Bukan kepuasan karena kopinya enak. Tapi kepuasan karena akhirnya, setelah berminggu-minggu menyaksikan dua orang muda duduk di mejanya dan saling menatap dengan semua kata yang tidak terucap, sesuatu akhirnya terucap.

“Kopi ini,” kata Pak Suryono, suaranya pelan tapi penuh arti,
“lebih enak kalau diminum bersama.”

Dan kemudian ia pergi, meninggalkan mereka berdua dengan dua cangkir kopi yang masih mengepul dan satu kebenaran yang akhirnya tidak perlu lagi disembunyikan.

The End

Latest Novel ionicons-v5-c